International Guest Lecture 2026 di UIN Sunan Kudus
Pakar Asal Chicago Soroti Model Toleransi Islam Nusantara

0
34
Penyelenggaraan International Guest Lecture 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus pada Kamis (18/6/2026) lalu

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Momentum peringatan Buka Luwur Sunan Kudus pada bulan Muharram 1448 H./2026 ini menjadi pengingat penting bahwa ziarah kepada para wali bukan sekadar tradisi spiritual, juga sarana menyerap nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendakwah Islam Nusantara, yakni toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, inklusivitas, dan budaya damai.

Pesan itu mengemuka dalam International Guest Lecture 2026 yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus pada Kamis (18/6/2026) di Lantai III Gedung Laboratorium Terpadu UIN Sunan Kudus.

Mengusung tema “Hermeneutics of Islamic Scripture: Philosophical and Spiritual Understanding on Religious Interfaith toward Global Peace”, kegiatan ini menghadirkan akademisi internasional dan para pakar keislaman untuk mendiskusikan bagaimana penafsiran teks-teks keagamaan dapat berkontribusi dalam membangun keadilan sosial, memperkuat relasi lintas iman, dan mewujudkan perdamaian global.

Acara dibuka oleh Dr Hj Siti Malaiha Dewi SSos MSi CIQaR, Dekan Ad Interim Fakultas Ushuluddin sekaligus Wakil Rektor I UIN Sunan Kudus.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa dialog akademik lintas negara dan lintas agama merupakan wahana strategis untuk memperluas cakrawala berpikir, memperkuat moderasi beragama, serta membangun jejaring kolaborasi global dalam menjawab berbagai tantangan kemanusiaan dewasa ini.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif keilmuan demi terbangunnya peradaban dunia yang damai, inklusif, dan berkeadilan,” katanya.

Sebagai keynote speaker, Dr Tanveer Azmat dari Wilbur Wright Community College dan Lutheran School of Theology at Chicago, USA menekankan bahwa perdamaian tidak akan pernah terwujud tanpa keadilan.

Dalam pandangannya, keadilan harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok-kelompok minoritas.

Penghormatan terhadap hak-hak minoritas merupakan fondasi penting bagi terciptanya kehidupan bersama yang harmonis dan berkelanjutan.

Dr Tanveer juga menekankan pentingnya critical thinking dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an agar umat beragama tidak terjebak pada pemaknaan yang menyesatkan (misleading) maupun kesalahan interpretasi (misinterpretation).

Pemahaman teks suci yang kontekstual dan reflektif, menurutnya, akan melahirkan sikap keberagamaan yang terbuka, arif, serta mampu menghargai perbedaan.

“Pemahaman yang mendalam terhadap teks keagamaan akan melahirkan sikap yang lebih terbuka, bijaksana, dan mampu menghargai perbedaan,” jelasnya.

Pandangan tersebut menemukan relevansinya dalam pengalaman masyarakat Kudus yang selama berabad-abad mampu merawat kehidupan lintas agama secara harmonis. Tradisi yang diwariskan oleh Sunan Kudus bahkan menarik perhatian kalangan akademisi internasional sebagai model lokal yang berkontribusi bagi pembangunan budaya damai dunia.

Pada sesi berikutnya, Prof Dr Hj Umma Farida Lc MA, menjelaskan, bahwa pluralitas merupakan keniscayaan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama dipersatukan oleh nilai-nilai dasar kebangsaan yang termaktub dalam Pancasila.

Dia mengemukakan, prinsip toleransi memiliki dasar teologis yang kuat dalam Al-Qur’an, antara lain melalui perintah berdakwah dengan hikmah dan mau‘izhah hasanah, pengakuan terhadap kebebasan beragama, serta larangan menghina keyakinan agama lain.

“Islam mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan. Tidak boleh ada pemaksaan agama dan tidak boleh merendahkan agama lain. Inilah prinsip toleransi yang diajarkan Al-Qur’an,” ungkap Prof Umma.

Sedang Dr H Nur Said SAg MA MAg, Wakil Dekan I dan Dosen Filsafat Fakultas Ushuluddin mengulas pemikiran Gus Dur tentang Pribumisasi Islam sebagaimana gaya dakwah Walisongo sebagai paradigma keberagamaan yang memadukan kesetiaan terhadap ajaran Islam dengan penghargaan terhadap kearifan budaya lokal.

Menurutnya, keberhasilan Islam berkembang secara damai di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari pendekatan dialogis, akomodatif, dan penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat.

Nur Said yang juga sebagai Maheswara Utama Badan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjelaskan bahwa para Walisongo, termasuk Sunan Kudus, telah mewariskan falsafah dakwah yang tetap relevan hingga kini, yakni “Arab digarap, Jawa digawa.”

Falsafah tersebut mengandung pesan bahwa ajaran Islam yang bersumber dari wahyu harus dipahami, dihayati, dan diamalkan secara mendalam, namun ekspresi sosial-budayanya tidak harus diarabkan. Dalam Bahasa Gus Dur itu adalah proses pribumisasi Islam. Hal ini juga juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, ideologi dan identitas bangsa Indonesia.

“Para Walisongo mengajarkan bahwa menjadi Muslim yang baik tidak harus menjadi Arab. Seseorang dapat tetap njawani, mencintai tradisi leluhurnya, berbahasa Jawa, berkesenian Jawa, dan menjalankan kearifan budayanya, namun tetap kokoh dalam menjalankan ajaran Islam. Inilah substansi Pribumisasi Islam yang kemudian dielaborasi secara konseptual oleh Gus Dur,” terang Nur Said.

Sebagai contoh konkret, ia mengangkat keteladanan Sunan Kudus yang menganjurkan umat Islam untuk menyembelih kerbau, bukan sapi, pada perayaan Iduladha sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat Hindu yang memuliakan sapi sebagai hewan suci.

Selain itu, arsitektur Menara Kudus yang memadukan unsur Islam, Jawa, dan Hindu-Buddha juga menjadi simbol dakwah yang mengedepankan dialog budaya dan penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat.

“Keteladanan Sunan Kudus menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat dijalankan dengan penuh kebijaksanaan, penghormatan, dan sensitivitas budaya tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip ajaran agama,” ungkapnya.

Nur Said, mengutarakan, momentum Buka Luwur Sunan Kudus yang berlangsung pada pekan ini semestinya dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan dan ziarah spiritual. Tradisi tersebut merupakan ruang pembelajaran sosial-keagamaan bagi para peziarah untuk menyerap pesan substantif Sunan Kudus tentang pentingnya membangun masyarakat yang inklusif, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta merawat persaudaraan lintas iman sebagai fondasi budaya damai.

“Buka Luwur tidak hanya mengajak masyarakat untuk ngalap berkah, tetapi juga nguri-uri piwulang Sunan Kudus tentang hidup bersama dalam perbedaan. Dari Menara Kudus, dunia dapat belajar bahwa Islam Nusantara menawarkan model keberagamaan yang moderat, berakar kuat pada tradisi lokal, namun memiliki relevansi universal bagi penguatan toleransi dan perdamaian global,” tuturnya dalam diskusi yang dipandu Dr Abdul Fatah MSi, Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kudus. (rls/ ros, rid, adb)

Comments