
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) diingatkan untuk kembali memahami dan merefleksikan spirit awal lahirnya organisasi sebagai pijakan dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan oleh pengasuh pondok pesantren Mansajul Ulum Pati Nyai Hj. Umdah El Baroroh dalam acara talkshow bertema “Perempuan Berkarya: Dakwah Menyapa Dunia”. Kegiatan ini merupakan rangkaian Fatayat Bersholawat dan talkshow yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Kudus dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-76 Fatayat NU.
Dalam penyampaiannya, Umdah menegaskan bahwa seluruh kader, mulai dari tingkat ranting hingga pusat, perlu kembali memahami tujuan utama berdirinya Fatayat NU.
“Kita perlu mengingat kembali, sesungguhnya untuk apa Fatayat dilahirkan. Semua kader harus memahami dan merefleksikan kembali spirit perjuangan lahirnya Fatayat,” ujar dosen di Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati tersebut.
Ia menjelaskan, Fatayat NU sebagai badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab dalam menjaga dan mengembangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. “Peran tersebut menjadi bagian penting dari visi besar perjuangan NU sejak awal masuknya Islam di Nusantara.” tandanya.
Selain penguatan ideologi, Nyai Umdah juga menekankan pentingnya konsistensi Fatayat dalam mendidik dan memperjuangkan perempuan. Ia mengaitkan momentum kelahiran Fatayat pada 24 April dengan semangat perjuangan R.A. Kartini.
Menurutnya, peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi diisi dengan kegiatan yang lebih substansial, seperti mengkaji pemikiran Kartini tentang pendidikan dan kesetaraan perempuan.
“Semangat Kartini adalah tentang kesadaran memperjuangkan pendidikan perempuan. Ini yang harus kita hidupkan kembali dalam Fatayat,” ungkap Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam serta Direktur Pusat Studi Pesantren & Fiqh Sosial (PUSAT FISI)..
Lebih lanjut, sebagai aktivis keadilan gender ia juga menyoroti bahwa meskipun akses pendidikan bagi perempuan semakin terbuka, belum tentu hal tersebut mampu memberikan pembebasan secara utuh, terutama di tingkat akar rumput yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi.
Karena itu, ia mendorong kader Fatayat di tingkat ranting hingga PAC untuk lebih mengenali kondisi masyarakat di wilayah masing-masing, sehingga program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan riil perempuan.
“Fatayat harus hadir tidak hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai penggerak perubahan yang nyata bagi perempuan dan masyarakat,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan arah strategis Fatayat NU ke depan sebagaimana hasil Kongres Fatayat 2025 di Jawa Barat. Fokus utama arah strategis Fatayat tersebut diantaranya penguatan struktur organisasi, kaderisasi berjenjang, program berbasis isu strategis, optimalisasi layanan dan lembaga.
“Dengan penguatan spirit perjuangan dan arah strategis tersebut, Fatayat NU harus mampu terus relevan dan berkontribusi dalam menjawab tantangan zaman, khususnya dalam pemberdayaan perempuan.” harap Nyai Umdah.
Kegiatan yang dihadiri sekitar seribu kader Fatayat se-Kudus ini digelar di Auditorium Lantai 5 UIN Sunan Kudus, Jumat (1/5/2026), juga menghadirkan narasumber istri wagub Jawa Tengah Nyai Hj. Nawal Arofah.(yuliana/adb)









































