Nabi dan Filosofi Gembala

0
563

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

Nabi Muhammad salam salah satu hadisnya bersabda:ما بعث الله نبيا الا رعى الغنم. فقال اصحابه وانت؟ فقال . نعم. كنت ارعاها على قراريط لاهل مكة . Artinya: Tidaklah seorang Nabi diutus kecuali ia menggembala kambing. Para Sahabat bertanya: Apakah engkau juga (ya Rasulallah?). Beliau menjawab: Benar. Aku dulu menggembalakan kambing penduduk Mekah dengan imbalan beberapa qirath. (Bukhari No. 2262).

Contoh paling jelas yaitu kisah Nabi Musa, yang di antara ayatnya berceritera tentang beliau menggembalakan kambing milik Nabi Syu’aib, sebagai mahar untuk calon isterinya (QS. Al-Qashash 23-28).

Apa rahasianya? Di antara rahasia penggembala kambing, khususnya, secara psikologis adalah:

  1. Seorang penggembala ingin sekali kambing yang digembalakan itu berangkat pagi, dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang. Itu angan-angan yang selalu membayang di benak seorang penggembala. Adakah seorang penggembala kambing yang ingin kambingnya lapar ketika pulang (kembali) ke kandang? Itulah pula visi seorang pemimpin baik pemimpin keluarga, lembaga, desa, Negara dan lainnya. Yang keinginan itu selalu menggelayut dalam pikirannya. Nabi adalah teladan dalam kepemimpinan. Tentunya, visi berbasis wahyu ini akan lebih dari seorang pemimpin biasa yang paling berbakat sekalipun.
  2. Empati terhadap kambing gembalaannya. Tidak sedikit cerita rakyat, ketika seorang penggembala melihat atau mendengar jeritan kambingnya yang dicakar macan. Maka ketika dia melihat kambingnya berdarah-darah dan mengembik keras, sang penggembala langsung mencucurkan air mata. Ia seakan merasakan apa yang dirasakan kambingnya. Ia bawa kambingnya, ia obati, dan ia pelihara sampai sembuh. Kalaupun kambing yang dicakar itu sangat parah dan besar kemungkinannya akan mati, ia akan menyembelih si kambing itu dengan rasa belas kasih yang mendalam. Banyak pula orang yang terbawa empatinya, sehingga tidak tega menyembelihnya. Demikian juga mestinya kita sebagai pemimpin bagi keluarga, lembaga, perusahaan, rakyat , dan seterusnya.
  3. Sabar melayani kambing digembalakannya. Siapa saja yang pernah menggembala kambing, pasti tahu. Namanya saja kambing. Diajak ke lapangan hijau yang segar, gara-gara harus melompat parit berair, mereka tidak mau. Mereka susah ditarik tambangnya. Mereka ngethot (Jawa). Apa mau dikata. Kambing itu dengan sabar dibopong satu persatu oleh sang penggembala. Ditempatkannya dalam padang rumput yang hijau ranum dan segar. Demikian juga rakyat, jamaah, anak buah yang akan diajak maju, diajak kaya, diajak pintar, diajak masuk surga. Tapi mereka ngethooot, malah mundur-mundur. Apa dikata, pemimpin harus mendidik mereka dengan sabar dan tulus karena ujung visinya bisa menyejahterakan mereka. Bisa jadi rakyat ada yang nakal, seperti si kambing bolang misalnya. Berikan sanksi yang mendidik, jangan cepat ambil senjata pameo “susah dibina ya dibinasakan”.
  4. Waspada pada lingkungan yang mengancam kambing gembalaannya dari bukit yang terjal, sungai yang deras, binatang buas, dan lainnya. Demikian juga pemimpin yang kewajibannya menjaga “maqaashidus syari’ah” rakyat ataupun anak buahnya dari segala ancaman. Jangan sampai mereka menjadi sasaran sistem yang dispot. Apalagi jika sistem itu kita yang membuatnya. Nabi pernah bersabda yang intinya: “Suatu saat akan terjadi nasib rakyat yang seperti kambing di tengah-tengah macan, serigala dan anjing (HSR. Ad-Dhahabi dikutip juga oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Nashaihul ‘Ibad).

Di antara maksud hadis adalah: Memang kambing umumnya makhluk yang lemah. Kurang dan bahkan tidak pemberani. Mereka kebanyakan ikut saja untuk digiring ke utara, selatan, dan seterusnya. Meskipun kebersamaan mereka satu sisi positif, tetapi mereka maunya bergerombol dengan tidak memiliki reasoning sendiri yang sering dimanfaatkan oleh macan, serigala dan anjing. Mereka tidak seperti rajawali yang terbang sendirian. Maka, kesejahteraan mereka terpulang pada penggembalanya. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

 

Comments