
TEGAL,Suaranahdliyin.com —Wali Kota Tegal, H Dedy Yon Supriyono membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke-18 dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ke-17 Kota Tegal di SMA Ma’arif NU setempat, Ahad (4/10/2026).
Pada kesempatan itu, Dedy Yon Supriyono menegaskan bahwa IPNU dan IPPNU memegang peran strategis sebagai kawah candradimuka lahirnya calon pemimpin masa depan yang berilmu, berakhlak mulia, dan peka terhadap persoalan sosial. Ia menitipkan pesan penting agar roda organisasi senantiasa mengedepankan prinsip kemandirian dan integritas.
“Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mandiri, tidak semata-mata bergantung kepada pemerintah maupun bantuan tokoh di atasnya. Sebelum nama kader dimasukkan ke dalam SK dan dilantik, biasakan ada pakta integritas untuk aktif. Dalam rapat pun kedisiplinan absensi harus ditegakkan,” tandas Dedy Yon yang mengakhiri arahannya lewat pantun khas Tegal bertema nasi lengko dan teh poci.
Apresiasi senada diutarakan Wakil Ketua PCNU Kota Tegal, Ustaz Johan Mahdi. Ia bangga melihat dinamika kader IPNU-IPPNU Kota Tegal yang terus hidup, memadukan tradisi mengaji dengan gerak organisasi modern. Mengutip wejangan Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari, ia mengingatkan para kader bahwa khidmat di IPNU-IPPNU merupakan bagian dari ikrar menjadi santri Mbah Hasyim.
“Konfercab bukan sekadar perebutan pucuk pimpinan, melainkan ikhtiar merawat mata rantai perjuangan ulama. Pesan kami ada dua: jaga akhlak pelajar NU yang santun dan *andap asor*, serta jaga kekompakan. Di arena sidang boleh berbeda pandangan, tetapi setelah palu diketuk, semua wajib kembali merapatkan barisan,” tegas Johan.

Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Organisasi PW IPNU Jawa Tengah, Ragil Pungkasana, mengingatkan urgensi akselerasi penataan struktur kepengurusan. Mengingat batas verifikasi peserta Kongres IPNU ditetapkan sebelum 12 Oktober 2026, ia meminta kepengurusan baru di bawah nakhoda Rekan Figo Ibrahim bergerak cepat.
“Ketua terpilih bersama tim formatur kami dorong menuntaskan kepengurusan kurang dari sepekan agar proses pengesahan ke Pimpinan Pusat tidak terlambat. Selain itu, dinamika regulasi peremajaan usia harus disikapi dengan mematangkan mutu kaderisasi, khususnya penguatan Latihan Kader Muda (Lakmud),” tutur Ragil.
Sebelumnya, Ketua PC IPNU Kota Tegal masa khidmat 2024–2026 Rekan Febri Wahyudin memaparkan laporan transisi batas usia kader (24 tahun untuk IPNU dan 22 tahun untuk IPPNU tingkat cabang). Ia mencatat jenjang pengkaderan formal mulai dari Makesta, Lakmud, hingga Lakut telah berjalan, seraya mendorong kader demisioner menyambung estafet khidmat ke GP Ansor dan Fatayat NU.
Suasana haru turut menyelimuti arena konferensi ketika Ketua PC IPPNU demisioner, Talia Sopiyani, menyampaikan refleksi masa khidmatnya. Ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus ucapan terima kasih mendalam atas kebersamaan seluruh pengurus dan kader hingga tingkat ranting.
“Organisasi ini bukan semata-mata tentang tumpukan berkas laporan atau rentetan program kerja, melainkan tentang manusia—bagaimana kita saling menguatkan saat lelah dan tetap melangkah bersama. Semoga setiap ikhtiar kita dicatat sebagai lillah dan jalinan persaudaraan ini tetap abadi,” ungkap Talia.
Agenda akbar ini turut dihadiri Ketua FKUB Kota Tegal H Ahmad Firdaus Muhtadi, Ketua DPC PKB Fathul Imam, Ketua DPD KNPI Ari Prima Setionoko, Kepala SMA NU Kota Tegal Ustaz Solikhun, jajaran Muslimat NU dan Fatayat NU, para pembina, perwakilan cabang tetangga (Kabupaten Tegal dan Pemalang), serta delegasi kader PAC, Ranting, dan Komisariat se-Kota Tegal.(musyaffa aldy rasan/adb)






























