KH. Sya’roni Ahmadi Terangkan Etika “Uluk” Salam

0
3569

    KH. Sya’roni Ahmadi

KUDUS,Suaranahdliyin.com – Beberapa hal terkadang terlupa bahkan salah kaprah dilakukan oleh masyarakat dalam hal “uluk” (mengucapkan) salam. Seperti ketika berpidato, menulis surat, saat bertemu di jalan dan sebagainya.

“Menjawab salam itu wajib, meskipun itu tertulis di surat, ini yang sering dilupa,” tutur Mustasyar PBNU, KH. Sya’roni Ahmadi di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Senin (27/05/18).

KH. Sya’roni menambahkan, kecuali jika salam itu sudah didahului kalam (tulisan/kata), semisal bacaan basmalah atau penghormatan kepada seseorang, maka salam tidak wajib dijawab.

“Salam itu sebelum bicara, kalau sudah bicara baru mengucapkan salam maka tidak wajib dijawab,” jelas Mbah Sya’roni, sapaan akrab KH. Sya’roni Ahmadi.

Selanjutnya, Mbah Sya’roni juga menjelaskan etika seorang muslim jika mendapatkan ucapan salam dari non-muslim. Menurutnya hal itu tidak wajib dijawab, akan tetapi boleh asal dengan redaksi yang berbeda.

“Seperti Sayyidah ‘Aisyah yang seringkali mendapat salam dari orang Yahudi. Kata Rasulullah, tidak usah dijawab atau cukup Wa’alaika, untuk menghormati,” imbuhnya.

Selain itu, ada pula kategori salam yang makruh bahkan haram dilakukan. Yaitu salam secara langsung dari seorang perempuan kepada seorang laki-laki yang bukan mahramnya.

“Sebab dikhawatirkan ada potensi syahwat. Kalau hanya sekadar titip salam, boleh,” ujar besan KH. Muhammad Arwani Amin itu.

Dalam pengajian tafsir al-Qur’an ini Mbah Sya’roni juga menganjurkan kepada jamaah yang hadir supaya selalu mengucapkan salam ketika memasuki rumah, meski kosong. Hal itu bisa menjadi doa yang membuat seseorang akan selalu dijaga oleh malaikat dimanapun dan kapanpun.

“Ucapkan Assalamu’alaina wa’ala ‘ibadillahissholihin, nanti malaikat akan selalu menjaga kita,” katanya.(rid/adb)

Comments