KH. Amin Kurdi Sampaikan Tiga Keistimewaan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

0
716

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Sebagai sulthonul auliya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani tentu memiliki banyak keistimewaan yang tidak habis diceritakan. Tiga diantara keistimewaan itu disampaikan oleh KH. Amin Kurdi bin KH. Muhammad Shiddiq Ash-Sholichi Piji dalam acara Haul Syaikh Abdul Qadir di Masjid Jami’ Roudlotul Jannah Pranak Lau Dawe Kudus, Kamis (27/12/18).

KH. Amin Kurdi memulai kisahnya dengan keistimewaan hari lahir Syaikh Abdul Qadir yang jatuh pada 1 Ramadan 470 H bertepatan pada 1 November 1770 M. Dikisahkan oleh Yai Amin, sapaan akrab KH. Amin Kurdi, bahwa kewalian Syaikh Abdul Qadir sudah tampak sejak kelahirannya itu. Yang lazim diceritakan dan terdapat dalam manaqibnya adalah sejak baru lahir Syaikh Abdul Qadir sudah berpuasa dan menolak disusui oleh ibunya pada siang hari.

“Ternyata itu hanya sebagian kecil. Karena ada kisah bahwa siapapun bayi yang lahir bersamaan dengan Syaikh Abdul Qadir pada waktu itu semuanya menjadi walinya Allah SWT,” tutur Yai Amin.

Kemudian keistimewaan yang kedua, lanjut Yai Amin, pada masa mudanya Syaikh Abdul Qadir adalah orang yang suci. Bahkan ada cerita bahwa siapa saja orang yang menyebut nama Syaikh Abdul Qadir namun tidak dalam keadaan suci dari hadast kecil maupun besar, maka tidak lama kemudian orang itu akan celaka hingga meninggal dunia.

Wa qila ada yang sampai dipenggal kepalanya,” terang sosok yang disepuhkan dalam Jam’iyah Tariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Piji itu.

Di kalangan para ulama ahli thariqah hal ini tidak begitu mengherankan sebab Syaikh Abdul Qadir muda memang dikenal berwatak sangat tegas, ada yang mengatakan cenderung keras. Akan tetapi watak yang seperti itu luluh setelah beliau bertemu Nabi Muhammad SAW yang tidak lain adalah datuknya sendiri.

“Setelah di dawuhi Nabi Muhammad itu lah Syaikh Abdul Qadir berubah menjadi pribadi dengan hati yang amat lembut dan tidak tegaan,” imbuh Yai Amin.

Melanjutkan, keistimewaan Syaikh Abdul Qadir yang ketiga terletak pada karomah fatihah yang dikhususkan kepada beliau. Kata Yai Amin barang siapa yang setiap malam jumat mengirimkan fatihah khusus untuk beliau dan menyediakan jajanan yang serba manis, maka orang itu akan dicukupkan rizkinya bahkan dilebihkan.

“Ini sudah dibuktikan banyak orang, utamanya para ulama kita. Konon ini juga yang jadi kunci bagi para kiai di Jawa Timur,” lanjutnya.

Acara Haul Syaikh Abdul Qadir tersebut diselenggarakan oleh Kelompok Jam’iyah Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Wilayah Pranak dan sekitarnya. Ketua Kelompok, K. Ahmad Rifa’i dalam sambutannya menyampaikan terima kasih dan maaf atas partisipasi semua pihak yang membantu mensukseskan acara tersebut.

Selain itu, K. Ahmad Rifa’i juga berpesan agar keteladanan Syaikh Abdul Qadir maupun Mursyid Thariqah, yaitu KH. Shiddiq Ash-Sholichi Piji bisa dijadikan cerminan dalam menjalin hubungan sosial maupun hubungan dengan Allah SWT.

“Ingatlah bahwa kita selalu dilihat oleh para beliau, semoga kita semua pantas untuk diakui sebagai murid beliau dan bisa membanggakan hati beliau, guru kita semua,” ujar Ketua PR NU Desa Lau ini diamini seluruh jamaah yang hadir. (rid/adb)

Comments