Kemenag Kudus Dorong Pesantren Jadi yang Terdepan Dalam Penguatan Moderasi Beragama

0
800
Kasi Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren Kemenag Kudus, Sulthon

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Tahun 2022 dicanangkan sebagai tahun toleransi oleh Kementerian Agama. Pencanangan ini dipandang sebagai upaya pemerintah menciptakan kerukunan umat beragama dan hidup bersama.

Upaya ini mestinya didukung oleh semua pihak, baik dari pusat hingga ke daerah-daerah. Karena itu, Kementerian Agama Kabupaten Kudus mendorong seluruh pondok pesantren agar bisa menjadi telatan dalam mengajarkan islam yang moderat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kasi Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren Kemenag Kudus, Sulthon. Dalam kesempatan wawancara di kantornya, ia mengatakan bahwa seluruh stakeholder berkewajiban untuk ikut menyukseskan program Penguatan Moderasi Beragama.

Sulthon menjelaskan, sebetulnya terdapat tujuh program yang diprioritaskan oleh Kemenag dalam rangka menciptakan kerukunan umat beragama dan islam yang moderat. Selain penguatan moderasi beragama, enam program di antaranya adalah Transformasi Digital, Tahun Toleransi Beragama, Revitalisasi KUA, Religiosity Index, Kemandirian Pesantren, dan Cyber Islamic University.

“Termasuk madrasah dan KUA, juga berperan untuk mensukseskan program tersebut,” ujarnya kepada Suaranahdliyin.com, Selasa (13/2)

Semua elemen di bawah Kemenag, kata Sulthon, perlu bersinergi dan saling bekerjasama baik dalam penyusunan program maupun pelaksanaan kegiatan. Hal tersebut tujuannya untuk mewujudkan kemandirian masing-masing stakeholder. Pasalnya program prioritas tersebut menurutnya harus menjadi ruh bagi Kementerian Agama.

Sulton menyebutkan, kemandirian pesantren termasuk salah satu dari program prioritas yang dicanangkan Kemenag. Harapannya, pesantren yang mandiri dan mempunyai sumber daya ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

“Alasannya supaya setiap pesantren dapat menjalankan fungsi pendidikan dakwah dan pemberdayaan masyarakat dengan optimal,” jelasnya.

Di samping itu, dalam berjalannya program prioritas tersebut, seluruh elemen juga didorong menerapkan pengajaran agama yang moderat. Maka dari itu, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan mumpuni guna memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Caranya dengan menghormati segala perbedaan, menjaga kerukunan antar umat beragama, perbedaan di tengah masyarakat, dan sebagainya,” imbuh Sulton.

Diketahui, saat ini jumlah santri yang terdaftar di pendidikan agama di bawah Kemenag tercatat sekitar 30 ribu santri. Jumlah itu pun, tak hanya berasal dari Kabupaten Kudus aja, tetapi juga dari berbagai daerah.

Pihaknya berharap, meskipun tahun toleransi 2022 sudah terlewat, semangat menjaga api toleransi dan merawat kerukunan harus terus digencarkan. Untuk itu, dirinya mengajak semu pihak untuk ikut mewujudkan suasana kebangsaan yang toleran dan saling menghormati tanpa adanya diskriminasi.(sim/adb) 

Comments