FGD UIN Sunan Kudus
Keberadaan Situs Suci Angkat Potensi Ekonomi Masyarakat

0
38
Pembicara FGD penelitian MoRA Tje Air Funds UIN Sunan Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Keberadaan situs suci seperti makam-makam wali telah mampu mengangkat potensi ekonomi warga. Kata lain, bukan masyarakat yang menghidupi makam, tetapi makam yang menghidupi masyarakat.

Demikian yang mengemuka dalam Focus Discussion Group (FGD) Penelitian MoRA The Air Funds UIN Sunan Kudus 2026 bertempat di Aula lantai 4 Gedung Lab kampus setempat Sabtu (27/6/2026). FGD bertema Sustainable Sacred Sites: Menyeimbangkan Iman, Budaya, Komunikasi Keagamaan, dan Harmoni Sosial di Situs Suci Islam di Asia menghadirkan dua nara sumber, Dosen UMK Nafi’ Inayati Zahro dan penyuluh agama dan penulis buku Jejak ulama Nusantara Mc. Mifrohul Hana.

Nafi’ Inayati mengungkapkan situs-situs Islam di Indonesia dan Malaysia tidak hanya berfungsi sebagai ruang spiritual, tetapi juga sebagai warisan budaya dan penggerak ekonomi lokal.

“Pada saat yang sama, meningkatnya aktivitas wisata memunculkan fenomena komodifikasi ruang sakral yang berpotensi mengancam kesucian, keberlanjutan lingkungan, dan harmoni sosial.”ujarnya.

Ia mengungkapkan situs suci menciptakan aktivitas ekonomi melalui perdagangan jasa transportasi kuliner, penginapan, parkir pemandu wisata, hingga usaha mikro dan kecil di sekitar kawasan ziarah. Aktivitas keagamaan di situs situs Jawa Tengah menghasilkan multipler effect yang dirasakan oleh pedagang kios, juru parkir, pengemudi ojek, pelaku usaha kuliner dan penyedia homestay

“Temuan ini menunjukkan bahwa situs suci tidak hanya menghasilkan nilai spiritual, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal. Keberlanjutan situs suci seharusnya tidak hanya dilihat dan kemampuan menjaga kesakralan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan, “ungkap Nafi’ Inayati.

Terkait isu keberlanjutan, kata dia, telah berkembang menjadi salah satu paradigma utama dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk akuntansi. Jika pada masa lalu akuntansi lebih berfokus pada pengukuran dan pelaporan kinerja keuangan, maka saat ini akuntansi dituntut untuk mampu mengakomodasi dimensi sosial, lingkungan, dan tata kelola dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

“Perkembangan ini melahirkan konsep sustainability accounting yang menekankan pentingnya penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” kata Nafi’ Inayati.

Tim peneliti UIN Sunan Kudus bersama Nara sumber

Sementara itu, Mifrohul Hana mengatakan banyak tradisi, kesenian, kuliner, kerajinan, serta nilai-nilai kearifan lokal mulai tergerus zaman di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Oleh karena itu, diperlukan model pengelolaan situs suci yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian fisik, tetapi juga mampu menghidupkan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM dan menjaga keberlangsungan budaya leluhur.

“Kita memakai falsafah Jawa Nguri-Nguri Leluhur, Ojo Kepaten Obor yang mengandung makna bahwa warisan leluhur harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar mata rantai sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan tidak terputus, “tandasnya

Dosen UIN Sunan Kudus yang juga tim peneliti MoRa Mubasyaroh menjelaskan kegiatan FGD ini bagian dari rangkaian kegiatan penelitian yang sudah dilakukan pada tempat situs suci Islam di Asia. Ia bersama Primi Rohim dan Moh Anwar YYasfin meneliti situs suci bertujuan untuk mengkaji situs suci Islam dikelola secara berkelanjutan, khususnya dalam aspek pelestarian nilai keagamaan, pengelolaan kelembagaan, pelayanan peziarah, komunikasi keagamaan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“Kami telah memilih Makam Sunan Bonang sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki posisi penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara sekaligus menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.”ujarnya. (adb/ros)

Comments