Kang Fikri

0
1903
KH. M. Ali Fikri/ Foto: istimewa

Baru sekitar sepekan lalu, perjumpaan itu. Saat saya bersama salah satu Ustaz MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Ilma Fahris Salam, sowan ke ndalem di kompleks Pondok Pesantren Raudlatul Muta’allimin (PPRM), Janggalan.

KH. M. Ali Fikri. Saya mengenal “cukup dekat” dengannya saat saya memutuskan sejak 2,5 tahun lalu, khidmah di madrasah yang sama – sama dulu menjadi tempat belajar: Madrasah TBS Kudus.

Kang Fikri -demikian saya senang memanggilnya karena terasa lebih akrab, dan dia memang hanya sekitar 2 tahun di atas saya waktu belajar di TBS- dalam pandangan saya adalah pribadi yang sangat santun.

Sebagai seorang pengasuh pondok sekaligus menantu kiai yang sangat dihormati di Kota Kretek: KH. Ma’ruf Irsyad, tentu ia menjadi tokoh yang sangat dihormati pula. Namun demikian, ia tetap menjadi pribadi yang santun dan bersahaja.

Saat datang di madrasah, selalu murah senyum dan senang berbincang dengan guru lain. Bahkan, dengan anak-anak muda seperti saya.

Ada beberapa kebersamaan dengan Kang Fikri, yang semakin menegaskan kesantunannya dan sebagai pribadi yang layak diteladani. Dan di MA NU Mu’allimat -tempatnya berkhidmah selain di PPRM dan Madrasah TBS- adalah salah satu guru/ kiai yang sangat disenangi saat mengajar.

“Saya seneng kalau diajar Pak Fikri (KH. M. Ali Fikri, red). Murah senyum. Ngajarnya enak, apalagi kalau pas baca al-Quran,” Syahida Rodlina Met Zavet, salah satu santriyah MA NU Mu’allimat, putri guru saya asal Ambarawa, berkisah, suatu ketika.

Ya. Siapa saja yang pernah bertemu dan berbincang dengan Kang Fikri, tentu akan menyaksikan sosok yang sangat santun dan bersahaja itu.

Sekitar sepekan terakhir lalu, saat saya -bersama Ustaz Ilma Fahris Salam- saat kami silaturahim, kondisinya memang nampak lemah, duduk di salah satu kursi ruang tamu.

“Sehat, Kang Yai?” kataku membuka pembicaraan. “Masih lemes, Pak. Beberapa hari ini, kondisi saya agak drop,” jawabnya.

Tak berapa lama berselang, kami disuguhi teh hangat, dan dipersilakan mencicipi penganan di atas meja di ruang tamu ndalem.

Tak banyak yang kami bicarakan, kendati kami sowan, memang karena ada urusan madrasah. Kang Fikri, saat itu, masih sempat pula menanyakan perihal teknis pengiriman soal semesteran santri MA NU TBS.

Sekitar dua hari berselang saat kami sowan, terdengar kabar Kang Fikri mendapat perawatan medis di rumah sakit. Doa dari para sahabat-sahabat dan santrinya, terurai untuk sang kiai.

Namun Allah berkehendak lain. Pagi ini, selepas Shubuh, saat saya melihat pesan-pesan di berbagai grup WhatsApp (WA), banyak yang mengabarkan perihal “kepergian” Kang Fikri menghadap Sang Khaliq.

Sugeng kondur, Kang Yai. Husnul khatimah. Amin. (Rosidi, pemimpin redaksi Suaranahdliyin.com & staf pengajar MA NU TBS Kudus)

Comments