Islam di Nusantara Hadir dengan Pendekatan Budaya

0
422
Lailatul Ijtima PWNU Jateng, baru-baru ini

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Lailatul Ijtima, Haul Arwah dan diskusi epistemologi Islam Nusantara di Kantor PWNU Jateng Jl Dr Cipto 180 Semarang, Senin (18/11/2019) malam lalu, dihadiri sejumlah pengurus teras PWNU dan tokoh publik lain.

Nampak di antaranya KH. Hadlor Ihsan (Wakil Rois Syuriyah), KH. Munib (Wakil Katib Syuriyah), H. Masruhan Syamsuri (A’wan Syuriyah), HM. Muzamil (Ketua Tanfidziyah PWNU), Prof. Dr. Musahadi (Wakil Ketua/ UIN Walisongo), Prof. Dr. Mahmutarom (Rektor Universitas Wahid Hasyim), KH. HudAllah Ridwan (Sekretaris Tanfidziyah), dan KH. Amdjat AH (Ketua JQH NU).

Prof. Dr Mahmutarom., mengutarakan, Nusantara meliputi seluruh kawasan yang meliputi Indonesia ini ditambah Brunei Darussalam, Malaysia, dan Pattani (Thailand), yang dahulu disatukan pada masa Kerajaan Majapahit.

‘’Mulanya Nusantara didatangi mubaligh asal Turki Utsmani, namun sampai di daerah pedalaman Jawa, mubaligh tersebut dikalahkan Bhirawa, sehingga mereka dibuat jamuan.  Lalu diutuslah Syaikh Subakir yang diikuti Walisongo, yang mampu melakukan dakwah di Nusantara ini, khususnya Jawa,” teranganya.

Dalam penyampaian paparan dipandu Prof. Dr. Musahadi itu, Prof. Mahmutarom menambahkan, bahwa Walisongo menggunakan pendekatan budaya sebagai sarana dakwah, sehingga Islam bisa diterima dengan bahasa lokal masyarakat Nusantara, termasuk di Jawa, seperti menggunakan wayang,’’ jelasnya.

Dikatakannya, Walisongo awalnya tidak menggunakan istilah-istilah Bahasa Arab, semisal syahadat namun dengan istilah sekaten, salat dengan sembahyang, musala disebut langgar, dan seterusnya. ‘’Prinsipnya, menolak keangkaramurkaan,’’ paparnya.

Ditambahkannya, pentingnya pula mempertajam mata hati, karena telinga bisa salah mendengar, mata bisa salah melihat, akal bisa salah mengambil kesimpulan. Dengan meneladani Sunnah-sunnah para Nabi dan Rasul, hati bisa menjadi jernih.

“Dengan pendekatan budaya, Islam bisa diterima penduduk Jawa yang agama aslinya adalah Kapitayan. Jadi Walisongo menggunakan pendekatan adab terlebih dulu, lalu mendialogkannya dari hati ke hati dengan masyarakat,’’ terangnya.

KH. Hudallah, sepakat dengan pemaparan Pof. Mahmutarom, bahwa Nusantara tidak hanya Indonesia. ‘’Namun jika menilik tulisan di Al-Azhar, ulama-ulama Nusantara yang dulunya belajar di Mesir, nama belakang mereka tertulis al-Jawi,’’ tuturnya. (ibda/ ros, adb, rid)

Comments