Ini Penjelasan Mengenai Asal Usul Tahun Hijriyah

0
215
Ilustrasi/ Dok: IG Ma’had Aly TBS Kudus

YAMAN, Suaranahdliyin.com – Imam Ar Rozi, menyebutkan, bahwa manusia telah lama mengenal hari dan bulan dalam satu tahun. Bangsa Arab, dalam satu tahun mereka menghitung sesuai dengan perputaran bulan. Mereka menggunakannya sejak zaman Nabi Ibrahim.

Sedang Bangsa Persia dan Romawi, menghitung setahun dengan perputaran matahari. Itulah sebabnya, mengapa terdapat istilah Qomariyyah (mengikuti bulan) dan Syamsiyyah (mengikuti matahari).

Demikian disampaikan M Basuni Baihaqi, mahasiswa Universitas Imam Syafiie, Hadramaut, Yaman kepada Suaranahdliyin.com, belum lama ini.

“Dari jumlah hari, kedua hitungan tahun itu, berselisih sebanyak 11 hari. Sebab pada tahun Syamsiyyah terdapat 30/ 31 hari setiap bulannya (kecuali Februari, 28 hari. Dan 29 hari di tahun kabisat), sehingga setiap tahunnya berjumlah 365 hari (366 hari untuk kabisat). Sementara tahun Qomariyyah terdapat 29/30 hari setiap bulan, sehinnga setiap tahun berjumlah 354 hari.

“Umat Islam, mengikuti (penanggalan) dengan hitungan tahun hijriyyah, yang merupakan nama lain dari tahun Qomariyyah. Dan menetapkan 12 bulan setiap tahunnya. Itu sesuai penjelasan dalam al-Quran, bahwa jumlah bulan menurut Allah ialah 12 bulan,” terangnya.

Penamaan tahun hijriyyah, diambil dari hijrahnya Rasululloh dari Mekah menuju Madinah. Sebab dengan hijrah ini, dipisahkannya antara yang benar dan yang batil.

M Basuni Baihaqi, mengutip apa yang pernah diceritakan Imam Ibnu Jauzi di dalam kitab Al Munadzdzom, bahwa di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, kepengurusan negara telah tertata rapi. Sayyidina Umar pernah menerima sebuah dokumen yang bertuliskan Sya‘ban.

Sayyidina Umar pun berkata: “Yang dimaksud di sini, Sya‘ban yang mana? Yang lalu, akan datang, atau sekarang?” Kemudian Sayyidina Umar mengumpulkan para Sahabat dan berkata kepada mereka, “Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan sebagai acuan.”

Ada yang mengusulkan menggunakan acuan penanggalan kalender Bangsa Romawi. Namun, usulan ini dibantah karena penanggalan kalender Romawi sudah terlalu tua. Perhitungannya sudah dibuat sejak zaman Dzu Al Qarnain (zaman sebelum Masehi).

Lalu ada yang mengusulkan agar menggunakan acuan penanggalan kalender Bangsa Persia. Usulan ini juga dibantah, karena setiap kali rajanya naik tahta, raja tersebut akan meninggalkan sejarah sebelumnya.

“Akhirnya mereka sepakat dengan melihat berapa lama Rasulullah hidup bersama mereka (di Madinah). Mereka mendapati, Nabi telah berada di Madinah selama 10 tahun. Maka dicatatlah penanggalan kalender Islam berdasarkan awal hijrah Rasulullah,” ujar M Basuni Baihaqi, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Tafsir di kampus tempatnya belajar. (ros/ adb, rid, mail)

Comments