Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, umat Islam kembali menyambut hadirnya bulan penuh berkah dengan penuh suka cita. Islam menempatkan puasa Ramadan sebagai rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Namun, puasa sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah proses penyucian jiwa dan penguatan ketakwaan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan yang dipilih Allah untuk diturunkannya wahyu suci sebagai petunjuk bagi manusia. Bulan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan. Karena itu, persiapan lahir dan batin sebelum memasuki Ramadhan merupakan bagian dari adab beragama yang tidak boleh diabaikan.
Rasulullah SAW menyebut Ramadan sebagai medan jihad yang sesungguhnya. Jihad dalam konteks ini bukan hanya perjuangan fisik, tetapi juga perjuangan melawan hawa nafsu, menjaga hati, serta merawat diri agar tetap berada dalam koridor takwa. Para ulama memaknai bulan sebelum Ramadan sebagai masa latihan dan pembersihan diri (tazkiyatun nafs), agar ibadah puasa dan amal-amal lainnya dapat dijalankan secara optimal dan penuh keberkahan.
Hakikat puasa adalah menahan diri secara menyeluruh. Tidak hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi juga menahan hawa nafsu, perkataan sia-sia, serta perilaku yang tidak terpuji.
Puasa mendidik jiwa untuk mencapai derajat takwa. Ia menanamkan kesabaran, melatih kejujuran, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Dalam dimensi personal, puasa menjadi sarana transformasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab. Dalam dimensi sosial, puasa meningkatkan empati terhadap sesama, terutama mereka yang merasakan kekurangan.
Merujuk pada jurnal The Momentum of the Holy Month of Ramadan in Increasing Social and Spiritual Piety for Muslim Society karya Murni Parembai, puasa Ramadan membutuhkan persiapan lahir dan batin agar hikmahnya benar-benar dirasakan. Tanpa persiapan yang matang, puasa bisa saja hanya menjadi rutinitas tahunan yang sebatas menggugurkan kewajiban.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menyambut Ramadan antara lain memurnikan niat dan motivasi ibadah, mempersiapkan ilmu serta menjaga kesehatan, meningkatkan disiplin dan manajemen waktu, membersihkan hati dari penyakit batin, serta meningkatkan kualitas ibadah sunnah. Selain itu, pengaturan keuangan, penataan lingkungan sosial, dan penyusunan agenda ibadah juga menjadi bagian penting dari persiapan.
Dengan persiapan tersebut, diharapkan puasa Ramadan tidak hanya berdampak pada tata ibadah, tetapi juga pada kualitas muamalah. Puasa adalah kesempatan untuk menyayangi diri sendiri. Tubuh diberi jeda dan kesempatan beristirahat melalui pengaturan waktu makan sahur dan berbuka. Hati pun dilatih untuk lebih peka, sabar, dan bersyukur.
Kebahagiaan dalam berpuasa muncul dari kesadaran bahwa setiap ketentuan yang dijalankan adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Kebahagiaan itu juga terpancar melalui kepedulian sosial, seperti berbagi makanan berbuka dan sahur kepada sesama.
Pada akhirnya, hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjaga hati. Sebagai manusia yang diberi amanah akal dan jiwa, kita diajak untuk terus mengenali diri, mengoptimalkan potensi, dan meningkatkan ketakwaan di mana pun dan kapan pun.(y)
Hj. Farida adalah Ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kudus








































