
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) Nurus Salam Dukuh Tratak, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mengadakan acarabertajuk Khotmil Qur’an Ke-16 dan Pelepasan Lulusan Santri diadakan oleh pada Sabtu malam (14/2/2026).
Pengurus TPQ Nurus Salam Rifqi Ainul Huda, menjelaskan bahwa Khotmil Qur’an ke-16 ini berhasil melepas 3 lulusan. “Terdiri dari 1 santriwan dan 2 santriwati,” beber Rifqi.
Koordinator Qiro’ati Cabang Dawe, Noor Fuad Fahmi Al Hafidz, dalam mauidhohnya menerangkan orang yang mampu membaca al-Qur’an hingga khatam bukanlah hal biasa, melainkan pilihan dan karunia dari Allah Swt. Hal tersebut disampaikan oleh
“Tsumma auratsnal-kitaballadzinashthafaina min ibadina. Hanya orang-orang pilihan Allah yang bisa mengaji al-Qur’an hingga khatam,” sambungnya.
Yi Fuad -sapaan akrab Noor Fuad Fahmi Al Hafidz menuturkan bahwa walaupun jumlahnya sedikit, tapi yang sedikit ini bisa mengalahkan yang banyak. “Kam min fi’ating qalilatin ghalabat fi’atang katsiratam bi’idznillah,” ucap Yi Fuad.
Dalam majelis yang penuh berkah, Yi Fuad pula mengajak seluruh wali santri untuk bersyukur. “Bersyukurlah. Anak-anak panjenengan di TPQ ini termasuk golongan yang dipilih Allah Swt. untuk dekat dengan al-Qur’an,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. sekaligus penyembuh (syifa’) bagi hati yang gelisah. “al-Qur’an dapat menjadi obat dan rahmat bagi orang beriman,” ujar Yi Fuad.
Lebih lanjut, Yi Fuad mengingatkan bahaya berpaling dari al-Qur’an. Ia menyebutkan bahwa banyak persoalan hidup berakar dari jauhnya manusia dari al-Qur’an.
“Wa man a’radla ‘an dzikri fa inna lahu mas’isyatan dlangkaw wa nahsyuruhu yaumal-qiyamati a’ma. Siapa yang berpaling dari al-Qur’an, maka hidupnya akan terasa sempit dan penuh kegelisahan. Sebaliknya, anak yang di dadanya tertanam al-Qur’an akan menjadi sebab keberkahan, bahkan dapat memberi syafaat bagi keluarganya,” jelas Yi Fuad.
Peranan wali santri dan ustad-ustadzah dinilai sangat penting dalam proses pembelajaran al-Qur’an. Menurut Yi Fuad, kesuksesan santri merupakan hasil dari perjuangan bersama. Ia menekankan nilai adab kepada ustad-ustadzah dengan memberi contoh Imam Ibnu Malik, seorang yang alim tetapi tetap bersikap rendah hati kepada gurunya.
“Jangan sampai melukai hati guru. Berkahnya ilmu tergantung ridho guru. Yang paling berbahaya adalah jika sampai dicoba fakir kepada Allah Swt.,” pesannya.
Menutup mauidhoh, Yi Fuad mengingatkan bahwa kehidupan itu tidak hanya berhenti di dunia. Anak yang mampu membaca al-Qur’an bisa mendoakan orang tuanya. “Bersyukurlah karena telah dianugerahi anak yang mampu membaca al-Quran sehingga menjadi bekal berharga di alam barzakh dan akhirat,”ujarnya.
Uswatun Nisyaiyah, Kepala TPQ Nurus Salam pula menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebatas seremonial penanda kelulusan santri, melainkan juga menjadi momentum pembuktian hasil belajar santri dihadapan seluruh wali santri.
“Ini bentuk pertanggungjawaban ustad-ustadzah kepada lembaga dalam mendidik satriwan-santriwati disaksikan seluruh wali santri yang hadir,” jelas Nisya.
Ia menambahkan, seluruh wali santri sengaja dihadirkan agar proses pengujian berlangsung secara terbuka. “Sebagai bukti bahwa kemampuan santri tidak di setting. Jika santri belum benar-benar menguasai materi imtihan, maka kami belum bisa meluluskan,” ungkapnya.
Wali santri turut dilibatkan dalam kegiatan ini. Nisya mengatakan, wali santri yang hadir berkesempatan menguji langsung materi imtihan kepada para santri lulusan sebagai bentuk pengecekan di lapangan.
Nisya menyampaikan bahwa Khotmil Qur’an menjadi tanda santri telah menuntaskan pembelajaran al-Qur’an. Namun ia menegaskan, kelulusan bukan akhir bagi seseorang untuk terus menuntut ilmu.
“Kami harap santriwan-santriwati tetap melanjutkan ke diniyah agar ilmunya tidak pupus di tengah jalan. Semoga santri terus tumbuh menjadi generasi sholih sholihah, serta dapat menebarkan manfaat di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan pun berlangsung haru dan penuh doa di Aula TPQ Nurus Salam. Dengan harapan ilmu yang diperoleh para santri membawa manfaat, keberkahan, dan keselamatan dunia hingga akhirat.
[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]







































