Gus Yahya Staquf dan Tokoh Agama Ibrahimi ‘’Sowan’’ Paus Fransiskus

0
496
Gus Yahya Staquf dan Tokoh Agama Ibrahimi foto bersama dengan Paus Fransiskus di Vatikan, baru-baru ini. Foto: Dokumentasi Pribadi Gus Yahya Staquf.

VATIKAN, Suaranahdliyin.com – Setelah musyawarah seharian pada Rabu (15/1/2020) di Gregorian University, Roma, malam harinya sebanyak 18 tokoh agama-agama Ibrahim diterima oleh Sri Paus dalam audiensi pribadi di kediamannya di kompleks Basilica, Vatikan.

Pastor Bob Roberts, menjelaskan kepada Sri Paus tentang hasil-hasil diskusi hari itu, termasuk penegasan dukungan terhadap “Piagam Persaudaraan Kemanusiaan” yang ditandatangi bersama oleh Paus Fransiskus dan Tetua Agung Al Azhar, Syaikh Ahmad Al Tayeb di Abu Dhabi pada Februari 2019 lalu

Sri Paus mengingatkan, bahwa forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) ini adalah wahana untuk mengedepankan ikhtiar-ikhtiar. “Tapi dalam masalah apa pun yang dihadapi, harus kembali ke akar keberadaan, yaitu saudara sesama manusia”.

Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore itu, mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini, yang sangat kental diwarnai oleh konflik antarkelompok agama.

Duta Besar Keliling Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama, Sam Brownback, di awal diskusi menyampaikan keprihatinan yang mendalam. “Apabila kita biarkan berkembangnya konflik antara agama ini, sudah pasti ujungnya adalah saling bunuh di antara kita semua,” tegasnya.

Apa yang disampaikannya itu, persis sebagaimana analisis yang dipaparkan dalam “Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)” pada tahun 2017 lalu.

Reverand Thomas Johnson dari World Evangelical Alliance, mengutarakan, bahwa deklarasi saja tidak cukup, karena belum tentu banyak orang mau sungguh-sungguh membaca dan mempelajarinya.

Yahya Staquf dari Nahdlatul Ulama (NU/ Indonesia), menyampaikan, siapa pun yang membuat deklarasi harus siap menindaklanjutinya dengan langkah-langkah strategis dan nyata. Ia pun memberi contoh dengan menjelaskan kiprah NU dalam mambangun strategi transformatif melalui aktivisme sosial, yaitu melakukan pelayanan bagi masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas.

Chief Rabbi David Rosen, mengatakan, perlunya kalangan politik menengok agama-agama sebagai basis strategi resolusi konflik, bukan hanya pendekatan militer dan ekonomi. Sedang Ambassador Sam Brownback, pada kesempatan mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh NU selama ini dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. (rls/ adb, ros, rid)

Comments