Kilas Balik MIP IV PWNU Jawa Tengah 2026 (Bagian 4 - Habis)
Rektor Unwahas: NU Miliki Modal Sosial yang Besar Dorong Lahirnya Inovasi

0
52
Mustasyar PBNU Muhammad AS Hikam dan pembicara lainnya dalam Muktamar Ilmu Pengetahuan IV di UIN Sunan Kudus, Ahad kemarin

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Lakpesdam PWNU Jawa Tengah Kembali menangguk sukses dalam penyelenggaraan Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP), yang pada 2026 ini, adalah gelaran keempat MIP.

Di antara hal penting yang mengemuka pada forum tersebut, yakni disebutnya kolaborasi riset sebagai salah satu agenda penting, yang tak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan di era kekinian, kolaborasi adalah sebuah keniscayaan.

Tak pelak, para narasumber pun berpandangan dan menilai, jejaring besar Nahdlatul Ulama (NU) perlu dioptimalkan untuk menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Menurut Rektor Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang, Prof Dr Ir H Helmy Purwanto ST MT IPM, dalam materinya yang berjudul “Dari Laboratorium Menuju Kemaslahatan: Kontribusi Ilmuwan NU dalam Membangun Kemandirian dan Transformasi Sosial”, menegaskan, NU memiliki modal sosial yang sangat besar untuk mendorong lahirnya inovasi.

Dia mengungkapkan, NU kini telah memiliki sebanyak 34 perguruan tinggi yang didirikan langsung oleh PBNU, lebih dari 285 perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU, dengan sekira 90 juta warga NU, serta ribuan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Potensi tersebut akan menjadi kekuatan besar, apabila diintegrasikan dalam ekosistem riset nasional,” tegas Prof H Helmy Purwanto.

Kendati demikian, terangnya, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam bidang inovasi. Karena itu, Helmy menilai hilirisasi hasil penelitian harus diperkuat melalui kolaborasi model triple helix yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, industri, serta didukung oleh organisasi keagamaan.

Disampaikannya, publikasi ilmiah perguruan tinggi NU kini meningkat sekira 159 persen sepanjang 2019–2023. Namun, dampak hasil riset terhadap masyarakat dinilai belum optimal akibat minimnya kolaborasi antarpeneliti.

“Kami berharap para ilmuwan NU dapat membangun riset unggulan secara bersama sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh jamaah dan masyarakat luas,” lanjut Prof H Helmy Purwanto menambahkan.

Sedang Prof Ir Dody Ariawan ST MT PhD IPU, pada kesempatan itu menyoroti tantangan revolusi industri 5.0 yang ditandai dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan robotika yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Dia menilai, generasi Z dan generasi pasca-Z memiliki karakter digital yang sangat kuat, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda. Dalam konteks itu, NU memiliki modal strategis melalui jaringan pesantren, PAUD, sekolah, madrasah, hingga perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kolaborasi dan koneksi menjadi kunci. NU memiliki ruang yang sangat besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ilmu pengetahuan sekaligus mengembangkan penelitian di bidang STEM yang saat ini masih relatif tertinggal dibandingkan bidang non-STEM,” tuturnya. (ros, adb, gie)

 

 

Comments