Diulas, Optimalisasi Penyelenggaraan Pendidikan Islam Formal dan Non Formal Era New Normal

0
207
Hasan Habibie/ Foto: istimewa

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Plt. Kepala Pusdatin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Hasan Habibie ST. M.Si mengkhawatirkan beberapa hal akibat pandemi pada pendidikan, terutama pada siswa dan orang tua.

“Beberapa hal itu antara lain para siswa akan ketinggalan pelajaran, meningkatnya kemungkinan putus sekolah, anak-anak terancam stress, menurunnya produktivitas ekonomi orang tua karena dampak harus bekerja sambil mengasuh anak di rumah,” ungkapnya dalam webinar nasional Optimalisasi Penyelenggaraan Pendidikan Islam Formal dan non Formal pada Era New Normal: Upaya Mencari Solusi Kini dan ke Depan”, yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang, Jumat (20/11/2020).

Hasan yang berbicara dari perspektif teknologi informasi, memandang perlu adanya solusi terkait kekhawatiran tersebut, misalnya pemanfaatan internet untuk metode pembelajaran secara jarak jauh dan siaran pendidikan melalui radio dan televisi.

Namun, selanjutnya muncul beberapa tantangan yang mesti dihadapi seperti ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah yang tidak bisa diselesaikan dengan cepat. “Ketersediaan infrastruktur pada beberapa daerah di Indonesia, merupakan problem pelik yang tak bisa diselesaikan setahun dua tahun,” paparnya.

Tantangan lainnya, yaitu keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, keterbatasan sumber daya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti internet dan kuota, serta relasi guru, murid, orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.

“Semua pihak, terutama guru dan dosen, perlu memahami perubahan budaya saat pandemi ini. Saat bicara teknologi era pandemi, yang paling vital adalah perubahan budaya, karena dampak situasi ini dirasakan oleh guru dan dosen,” lanjutnya.

Saat ini, ungkapnya, banyak doktor dan profesor yang masuk kategori digital immigrant, yakni dunianya lebih ke buku, penelitian dan jurnal dan dilakukan secara klasikal. “Berbeda dengan anak-anak yang mereka adalah digital native, yang dunianya adalah bermain gadget, social media, game online dan sekarang dipaksa untuk melakukan pembelajaran secara online,” jelasnya.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, Dr. KH. Waryono M.Ag memandang, bahwa yang paling terdampak saat era pandemi ini adalah adalah pondok pesantren, karena harus menyesuaikan perubahan budaya terkait protokol kesehatan, terutama dalam hal lenerapan physical distancing.

“Protokol kesehatan mengharuskan adanya physical distancing, padahal di pesantren satu kamar saja bisa diisi oleh beberapa orang, saya sendiri dulu mondok sekamar saya isinya 20 orang,” jelasnya.

Selain itu, terangnya, di pesantren, beberapa kegiatan dilakukan berkelompok, seperti kegiatan istighasah, mengaji bandongan, makan bersama dan lain sebagainya. “Tantangan lain, adalah infrastruktur pesantren seperti sanitasi. Fasilitas MCK dan dapur yang dimiliki pesantren kadang terbatas, dan tidak sesuai dengan rasio jumlah santri,” tuturnya.

Sementata itu, selain Hasan Habibie dan Wahyono, narasumber lain pada kesempatan itu adalah dr. Riskiyana Sukandhi Putra M.Kes (direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI), Moh. Miftahul Arief S.Pd.I. M.Pd (guru berprestasi), Dr. Achmad Arief Budiman M.Ag (wakil rektor III UIN Walisongo), Dr. H. Ismail M.Ag (dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo), Prof Dr. KH. Moh Erfan Soebahar M.Ag (ketua MUI Kota Semarang). (rls/ adb, ros)

Comments