Berdoa, Lebih Utama Keras ataukah Pelan?

0
301
Berdoa (Foto ILUSTRASI)

Oleh : Muhammad Ali Rifqi*)

Doa merupakan salah satu ibadah penting bagi orang beragama. Berdoa juga disebut sebagai senjatanya orang Islam. Mengacu pada kitab Targhibatul Abrar, dijelaskan bahwa :

“Ada 4 pokok, tiang penegak dunia, yaitu: ‘ 1. Ilmu ‘Ulama, 2. Keadilan umara/para penguasa, 3. Kemurahan/dermawan aghninya, dan 4. Do’a fuqara/orang-orang fakir miskin. Maka tanpa ilmu ‘Ulama, pasti binasalah orang-orang bodoh, dan tanpa keadilan para penguasa, pasti manusia hidup dalam kekacauan setengahnya menerkam setengahnya yang lain, bagai serigala menerkam domba, dan tanpa adanya kemurahan hati para aghninya, pasti binasalah orang-orang kafir, dan tanpa do’a para fakir-miskin, pasti robohlah langit dan bumi”.

Abu Hurairah ra., dalam satu riwayat pernah berkata, Rasulullah Saw membagi 3 doa agar dapat dikatakan mustajab dan tidak perlu diragukan keampuhannya, yaitu doa kedua bapak ibu terhadap anaknya, dan doa orang tengah bepergian/musafir, serta doa orang yang dianiaya.

Lalu bagaimanakah cara berdoa yang baik? Apakah dengan mengeraskan suara ataukah dengan suara pelan?

Dalam berdoa, adab menjadi kunci agar diterimanya permintaan seorang hamba kepada sang pencipta. Ibarat ada seorang yang meminta sesuatu dengan suara keras, kasar membentak dengan orang yang meminta secara baik dan rendah hati, mana yang akan kita beri? Tentu banyak yang sepakat bila orang itu meminta secara baik dan rendah hati.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf  ayat 55 juga menjelaskan bahwa :

“Berdo’alah kepada Tuhanmu, penuh rasa rendah diri kepadanya , dan dengan suara pelan/lembut, sebab Allah tidak senang kepada mereka yang keterlaluan”. ( Al-A’raf 55)

Suara pelan menunjukkan akan keikhlasan hati dalam berdo’a. Ayat tersebut melarang kepada seorang hamba berdoa dengan sikap yang keterlaluan. Sebagian ulama memaknai keterlaluan itu dalam hal sikap. Yaitu mengeraskan suaranya secara berlebihan, tidak sopan atau bahkan mengancam. Sebagian yang lain memaknai keterlaluan itu dalam hal permintaannya. Yaitu seperti meminta pangkat kenabian, meminta agar bisa terbang dan meminta hal-hal yang mustahil dan bertentangan dengan sunnatullah.

Ditambahkan pula dalam kitab Duratun Nasihin, selain dengan adab dan suara lemah lembut, seorang hamba juga harus memperhatikan aspek lain yang dapat mempengaruhi kualitas doa. Seperti makanan yang halal, pakaian yang suci, adanya usaha untuk selalu memperbaiki diri dan tidak mendzalimi orang lain. Wallahua’lam bissowab.

*) Mohammad Ali Rifqi adalah mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta / Aktivis IPNU Kecamatan Gebog Kudus

 

 

Comments