Ketika Ganjar Bicara Peran Politik Perempuan di Kongres Perempuan Nasional

0
477
Ganjar saat berkesempatan menyampaikan sambutan dalam Kongres Perempuan Nasional di Semarang, beberapa waktu lalu

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Belum lama ini, dalam Kongres Perempuan Nasional yang digelar di Gedung Prof Sudharto, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menegaskan, bahwa perempuan harus terlibat dalam setiap pengambilan keputusan penting, termasuk keterwakilan mereka dalam peran politik dan jabatan publik.

“Ada banyak hal dalam konteks demokrasi, peran politik perempuan. Apakah ia dalam jabatan publik eksekutif maupun legislatif. Saya kira itu yang paling penting,” katanya.

Menurutnya, suara perempuan harus diperhitungkan dan menjadi representasi penggunaan hak suara saat mereka berada di masyarakat. Perempuan harus menjadi pejuang yang memperjuangkan haknya dalam setiap kebijakan.

“Agar kemudian dalam teori representasi, pengambilan keputusan selalu ada wakilnya sehingga nanti akan ada pejuang yang didukung, ditaruh, diletakkan di dalam jabatan-jabatan publik sehingga seluruh keputusan-keputusan publik itu betul-betul akan berpihak kepada mereka,” tegasnya.

Dia pun menyontohkan beberapa kebijakan publik yang sangat dekat dengan perempuan. Di antaranya masalah AKI-AKB, KDRT, stunting, juga kepedulian perempuan terhadap isu lingkungan.

“Banyak perempuan yang peduli sekali dengan isu lingkungan, termasuk stunting. Hak-hak mereproduksi dan sebagainya. Saya kira, hari ini perlu rekomendasi-rekomendasi itu,” paparnya.

Ganjar pun mengetengahkan kisah tentang pejuang tangguh asal Aceh, Potjut Meurah Intan, yang makamnya berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Potjut Meurah Intan merupakan pejuang yang gigih melawan Belanda pada akhir abad XIX hingga awal abad XX.

“Potjut Meurah Intan, tertangkap pada November 1902. Saat ditangkap, Potjut Meurah Intan mengalami dua luka di kepala, dua luka di bahu, sementara satu urat kening dan otot tumitnya putus. Potjut ditemukan terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur,” tuturnya.

Dengan kondisinya itu, lanjut Ganjar, Potjut Meurah Intan masih saja tidak mau menyerah dan terus melakukan perlawanan. “Akhirnya Potjut Meurah Intan diasingkan ke Blora dan meninggal di sana,” ujarnya. (rls/ ros, rid, adb)

Comments