CRMS FAI Unwahas – FKUB Jateng Gelar FGD “Penguatan Toleransi Internal Umat Islam” 

0
342
FGD kerja sama CRMS FAI Unwahas dengan FKUB Jateng

SEMARANG, Suaranahdliyin.com Centre for Religous Moderation Studies (CRMS) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Toleransi Internal Umat Islam di Provinsi Jawa Tengah”.

FGD yang dilangsungkan di Auditorium Kampus I Unwahas pada Sabtu (24/06/23) lalu itu, diikuti oleh sebanyak 32 organisasi keagamaan dalam internal Islam, antara lain dari perwakilan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Ahmadiyah, Persis, Majlis Tafsir Al-Quran, Rifaiyah, LDII, dan Syiah.

Rektor Unwahas, Prof Dr KH Mudzakir Ali MA dalam sambutannya menyatakan, Unwahas merupakan kampus NU berhaluan Ahlussunnah wa al Jama’ah, yang menerima semua kalangan agama dan aliran untuk kuliah di kampus Aswaja.

“Ini terbukti, dengan banyaknya mahasiswa dari berbagai latar belakang agama dan Negara, bisa rukun dan berdampingan di Unwahas,” tuturnya dalam FGD yang dipandu Dr H Iman Fadhilah MSI. Sementara itu, panelis terdiri atas Ketua FKUB KH Taslim Syahlan MSi, Prof Dr Suparman Syukur, Romo Budi, Pendeta Yosua, dan Romo Warto.

KH Taslim Syahlan MSi, mengutarakan, bahwa melalui Peraturan Bupati (Perbub) maka FKUB akan dibentuk sampai tingkat kecamatan dan desa/kelurahan. Sehingga akan semakin menguatkan dalam menerapkan kerukunan dan moderasi beragama di masyarakat.

“Agama, aliran dan kepercayaan apapun, kerangka besarnya dalam sikap beragama adalah terdiri dari empat hal, yakni mengimplementasikan komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap kearifan lokal. Maka semua mesti saling menghormati, bergerak pada keseteraan, dan bekerja bersama-sama,” katanya

Guru Besar UIN Walisongo, Prof Suparman Syukur, mengutip ayat 143 dalam Surat Al-Baqarah, sebagai legitimasi, bahwa baik Islam, Yahudi, Nasrani, dan agama lainnya meyakini bahwa agama apapun akan diselamatkan oleh agama dan keyakinannya masing-masing. “Dan ini kita doakan dalam tasyahud akhir, dan termasuk mendoakan agama lain juga. Jadi kita akan ketemu semuanya di surga,” ungkapnya.

Disampaikannya, bahwa dulu ada sementara kalangan yang keliru memaknai Bhinneka Tunggal Ika, yaitu tidak dijelaskan perbedaan terlebih dahulu, tetapi langsung kesatuan. “Bagaimana kita mau menyadari kalau kita tidak tahu. Dan (saat ini, red) dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan, yang harus dijembatani adalah paham radikal. NU dan Muhammadiyah sepakat mengadang pemikiran-pemikiran radikal,” tegasnya.

Sementara itu, dalam FGD itu, masing-masing organisasi memperkenalkan diri dan ajaran yang diikutinya. Diyakini, melalui metode ini, para peserta akan memahami satu sama lain dari keyakinan dan ajaran alirannya. Perkenalan diwakili masing-masing peserta secara berurutan, mulai dari NU, Muhammadiyah, Rifaiyah, Ahmadiyah, Yayasan Persadani, Syiah, LDII, dan seterusnya. (jae/ ulum, ros, adb)

Comments