Temu Nasional Alumni MA Salafiyah

0
204
Beberapa alumnus saat berkesempatan menyampaikan testimoni.

PATI, Suaranahdliyin.com – Yayasan Salafiyah Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati menyelenggarakan rauni akbar dan temu alumni Nasional IV di halaman MA. Salafiyah, Ahad (8/9/2019) lalu.

Selain untuk mempererat tali silaturrahim antaralumnus, temu alumni nasional yang dihadiri ratusan alumni lintas angkatan, ini juga bertujuan untuk membangun sinergi positif para alumni.

Ketua umum Ikatan Keluarga Alumni Salafiyah (IKLAS), Syaiful Bahri Ansori, menyampaikan, kegiatan ini digelar agar para alumni dapat menyumbangkan pikiran untuk madrasah. Ia menyebut, kegiatan ini juga sebagai salah satu bentuk wahana untuk menggiatkan para alumni agar lebih mencintai almamaternya.

“Jaringan alumni ada sekitar 15 ribuan. Setiap orang yang pernah duduk di bangku Salafiyah adalah alumni. Harapan saya, para alumnus bisa mengaktualisasi ilmu dan lebih berguna di masyarakat.  Santri itu bukan haya potensial, tetapi perlu dikemas lebih baik lagi,” jelas pria yang kini menjadi aggota DPR RI ini.

Syaiful Bahri mengutarakan, santri yang menjadi tokoh nasional sudah banyak. Maka ia berharap, para lulusan madrasah Salafiyah juga mampu bersaing dengan yang lain. “Tokoh-tokoh yang lahir dari kalangan santri juga banyak, seperti Gus Dur, Nurcholish madjid, dan Muhaimin Iskandar. Lulusan sini (Salafiyah – Red) juga harus bisa demikian,” tegasnya.

KH. Dzikron Abdullah, salah satu alumnus, mengisahkan, dahulunya Salafiyah adalah madrasah yang kecil. Tetapi sekarang perkembangannya sangat pesat. “Saya angkatan 1963-an. Waktu itu, madrasah ini masih kecil sekali. Satu kelas memakai  sarungan semua. Di sini full mengaji. Kitab kuningnya besar-besar, hafalan juga banyak. Sekarang perkembangannya luar biasa baik dan lengkap,” jelas pengasuh Pesantren Ad-Dainuriyah 2 Semarang ini.

Alumni lintas generasi MA Salafiyah saat menghadiri temu nasional, baru-baru ini.

Kiai Dzikron menyebut, kelebihan yang masih diistimewakan di Salafiyah adalah kajian ke-Islam-annya. Maka ia berpesan agar para siswa lebih memperdalam ilmu agama. “Kitab kuningnya jangan sampai lupa. Saya sangat berharap, santri-santri di sini belajar lebih tentang agama,” tuturnya. (rif/ ros, adb, rid)

Comments