Sedekah Bumi, KH. Nadhif Jelaskan Rahmat dalam Diri Rasulullah

0
716
Sedekah Bumi “Bae Bersholawat” di Lapangan Desa Bae, Selasa (23/07/19).

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Pendakwah asal Kabupaten Pati, KH. Ahmad Nadhif Abdul Mujib mengajak masyarakat agar meneladani Rasulullah yang penuh rahmat. Hal itu dijelaskannya dalam acara Desa Bae Bersholawat dalam rangka Sedekah Bumi yang berlangsung di Lapangan Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Selasa (23/07/19) malam.

Ia mengawali ceramahnya itu dengan cerita yang ia dapat dari sebuah majalah lawas terbitan Jerman Barat. Diceritakannya suatu ketika ada seorang anak muda sedang menonton video tentang Masjidil Haram di Mekkah.

“Lalu, tiba-tiba ada sosok kakek tua yang menyapa dan berkata “Nak, kamu orang Islam ya? Ketahuilah aku lebih baik dari Nabimu”. Na’udzubillah min dzalik,” tutur KH. Ahmad Nadhif bercerita.

Meski begitu, pemuda tadi tetap tenang dan balik bertanya mengenai identitas kakek tua tersebut. Maka, diketahui lah bahwa kakek tua tersebut adalah mantan Komandan Angkatan Laut Jerman Barat. Setelah itu pemuda tadi kembali bertanya tentang apa yang bisa dilakukan kakek tersebut sehingga berani mengaku lebih baik dari Nabinya.

“Lalu kakek tersebut berkata : aku bisa mengumpulkan sekian ribu orang dalam sekian menit,” papar KH. Ahmad Nadhif.

Pemuda itu pun kembali bertanya “Kalau misalnya ada dua juta suku manusia dari berbagai penjuru dunia dengan komposisi yang bermacam-macam berapa lama kau bisa mengumpulkan mereka?”. Dijawab lah oleh kakek tersebut, “Mungkin akan perlu waktu beberapa tahun”.

“Pemuda itu lantas dengan yakin mengatakan : Nabiku sudah mengajari kami cukup dengan Allahu Akbar, Allahu Akbar (Adzan) lalu berjuta-juta umat Manusia mau baris menghadap-Nya,” jelas KH. Ahmad Nadhif.

Dijelaskannya lagi, yang demikian itu merupakan salah satu bentuk rahmat yang ada dalam diri Nabi Muhammad Saw. Sebagai Nabi akhir zaman, Rasul Muhammad mendapatkan banyak gelar yang salah satunya yakni Nabiyyu Rahmah. Tidak ada seorang pun yang memungkiri kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Bahkan kepada musuh-musuhnya pun Nabi mau mendoakan.

“Ada sebuah kisah tentang pemimpin orang munafiq, Abdullah bin Ubay bin Salul yang semasa hidupnya banyak sekali keburukan yang nau’dzubillah tidak usah diceritakan, tetapi ketika meninggal Nabi diminta oleh anaknya Abdullah bin Ubay supaya mau mendoakan dan menyolati,” kata Kiai Nadhif.

Singkat cerita, Nabi memutuskan mau menuruti permintaan anak Abdullah bin Ubay. Hal itu sampai membuat para sahabat kebingungan. Akan tetapi ketika niat Nabi itu hendak dilaksanakan, Sahabat Umar memberanikan diri untuk “mengingatkan” kepada Nabi bila itu adalah orang munafik dan musuh besar umat Islam.

“Meski akhirnya turun ayat yang melarang Nabi melakukan itu, tetapi itu membuktikan jika Nabi kita memiliki sikap penuh rahmat yang harus diteladani. Sayangnya, saat ini, semakin hari kita semakin jauh dari (perilaku) rahmat,” ujar da’i asal Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini.

KH. Ahmad Nadhif kemudian mengajak kepada masyarakat untuk memahami dengan betul ajaran Islam yang penuh dengan rahmat. Ia juga oknum-oknum yang hanya memanfaatkan simbol agama untuk membenturkan sesama muslim satu dengan yang lain.

“Kemuliaan kalimat Tauhid itu tidak sekadar dituliskan di baju atau di bendera, tetapi pada bagaimana kita mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Hadir dalam acara ini Habib Ali Zaenal Abidin bin Segaf Assegaf serta grup rebana Az-Zahir dari Pekalongan, jajaran pemerintah desa Bae, jajaran pengurus ranting NU Bae beserta banomnya dan ribuan jamaah dari berbagai daerah di Kudus dan sekitarnya. (rid/adb)

Comments