
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Kelompok siswa MTs NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus yang tergabung dalam ekstrakurikuler riset berhasil ciptakan sabun dari limbah sampah organik.
Muhammad Rifai, pembina ekstrakurikuler riset, menjelaskan, munculnya produk ini dari perhatiannya dalam pengolahan sampah di madrasah. Guru yang aktif di tiktok dengan nama Rifai Big ini, awalnya mengolah sampah organik menjadi pupuk. Namun, produknya hanya sedikit yang melirik.
Akhirnya, muncullah ide untuk membuat sesuatu yang lebih dimanfaatkan. Produk yang dinamai EcoTasywiq ini adalah ikhtiyar pertama untuk Madrasah mengelola sampah di madrasah.
“Meskipun jika dibandingkan total sampah harian madrasah, sampah yang kami kelola belum banyak,” terangnya.
EcoTasywiq, nama produk tersebut dibuat dari sisa sampah organik dari Makanan Bergizi Gratis. Residu Organik tersebut diolah dan fermentasikan dengan metode anaerob atau kedap udara.
Teknik fermentasi tersebut menghasilkan ecoenzym yang menjadi bahan dasar bahan pembuatan sabun cuci EcoTasywiq. Karena ini dibuat dari bahan organik, dan diproses secara alami.
“Inilah yang mendasari bahwa produk EcoTasywiq dijamin aman jika digunakan untuk mencuci perabotan makanan baik dewasa maupun bayi. Karena sifatnya yang alami dan diklaim ramah lingkungan,” sebutnya.
Sabun EcoTasywiq ini sebenarnya mau dipasarkan secara luas, namun karena produk ini masih permulaan, masih belum berijin BPOM dan masih mempertimbangkan harga jualnya. Pihaknya mengatakan jika ingin mendapatkan sabun EcoTasywiq ini bisa menghubungi pihak MTs NU TBS Kudus.
Selain EcoTasywiq, tim riset MTs TBS Kudus juga lebih dahulu membuat gantungan kunci karakter yang terbuat dari limbah sampah tutup botol. Namun, karena keterbatasan cetakan karakter, pihaknya belum bisa membuat massal produk gantungan kunci tersebut.

Meski demikian, Rifai yakin, jika pemilahan sampah di lingkungan MTs NU TBS Kudus, sudah tepat. Salim, selaku Kepala Madrasah Tsanawiyah TBS Kudus, mengatakan, produk itu sejalan dengan proses madrasah yang saat ini sedang menuju penilaian adiwiyata.
Pihaknya mengaku sangat mengapresiasi munculnya produk EcoTasywiq ini dengan gembira. “Pengolahan sampah di madrasah memang tidak bisa dikerjakan satu dua orang saja, melainkan kerjasama antar individu agar menciptakan nilai-nilai adiwiyata dengan totalitas,” jelasnya.
Jadi harapannya adiwiyata ini bukan saja sebagai ajang penilaian saja, melainkan penanaman perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. (mail/ ros, adb, gie)







































