Konbes XXIII GP Ansor
Puan Maharani: Hubungan Islam dan Nasionalisme Ibarat Eratnya Hubungan Bung Karno dengan NU

0
342
Orasi kebangsaan Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam Konbes XXIII GP Ansor di Minahasa/ Foto: istimewa

JAKARTA, Suaranahdliyin.com – Ketua DPR RI, Dr (H.C) Puan Maharani, mengisahkan kedekatan Presiden I Republik Indonesia, Ir. Soekarno (Bung Karno) dengan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), dalam Orasi Kebangsaan pada Konferensi Besar (Konbes) XXIII GP Ansor di Minahasa, Sabtu (19/9/2020).

Dia mengawali orasinya dengan mengapresiasi komitmen kebangsaan GP Ansor, yang konsisten di barisa depan dalam membentuk kepedulian pada sesama.

“Dari hati yang paling dalam, saya menyampaikan rasa bangga kepada GP Ansor, yang menjadi bagian penting dalam membangun visi kebangsaan sejak sebelum kemerdekaan hingga sekarang ini,” kata perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR RI itu.

Menurutnya, konsistensi GP Ansor tidak bisa dilepaskan dari sosok KH Abdul Wahab Hasbullah, yang meletakkan fondasi pemikiran kebangsaan pada generasi muda Nahdlatul Ulama (NU).

“Kiai Abdul Wahab Hasbullah merupakan teladan bangsa ini, karena senantiasa menggelorakan spirit cinta tanah air bagian dari iman (hubbul wathon minal iman),” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, lanjut Puan, cinta tanah air adalah bagian dari iman, telah menjadi gerakan besar yang menggelorakan nasionalisme kaum muda. “Negeri ini sungguh beruntung mempunyai Ormas seperti NU yang menjadi bagian terpenting dalam membangun nasionalisme,” katanya.

Puan menambahkan, Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Hubbul Wathon Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah Sebagian dari Iman). Kemudian pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang mewajibkan setiap santri berperang melawan serbuan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dengan status hukum fardlu ‘ain, yakni wajib bagi setiap Muslim yang berada di wilayah peperangan.

Dia pun menegaskan, hubungan Islam dan Nasionalisme bagi bangsa Indonesia, ibarat eratnya hubungan Bung Karno dengan NU. Salah satunya adalah hubungan Bung Karno dengan KH A Wahab Hasbullah, dua tokoh yang bersahabat dan saling menghormati.

“Bung Karno selalu bermusyawarah dan meminta pandangan dari ulama-ulama NU dalam hal genting dan penting, termasuk dengan Kiai Wahab Hasbullah,” ujarnya.

Pada Muktamar NU di Solo tahun 1962, jelasnya, Bung Karno menyampaikan kepada para muktamirin, “Saya Cinta Sekali Kepada NU”.

“Bung Karno sampaikan hal itu dari lubuk hati paling dalam, karena menyadari peran NU dalam menjaga Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. NU selalu hadir membela negara pada saat-saat genting dan penting,” ungkapnya.

Kecintaan Bung Karno kepada NU, paparnya, juga dibalas dengan menganugerahi Bung Karno gelar waliyyul amri ad-daruri bis syaukah, yakni pemimpin nasional dalam keadaan darurat namun memiliki wewenang yang mutlak. Gelar itu dianugerahkan dalam Muktamar ke-20 NU di Surabaya pada 1954.

“Gelar itu menegaskan, bahwa Bung Karno adalah pemimpin negeri Muslim yang sah secara syariat. Sebagai cucu dari Bung Karno, saya pribadi mengucapkan terima kasih atas pemberian gelar tersebut,” ujarnya.

Dalam orasinya itu Puan pun berharap, Konbes GP Ansor dapat melahirkan ide-ide besar dalam rangka membumikan Pancasila. Selain itu, berharap GP Ansor dan seluruh warga NU terus bergotong royong meringankan beban masyarakat yang kesulitan akibat pandemi Covid-19.

Ditandaskannya, DPR RI terus bekerja menjalankan fungsi pengawasan, legislasi, dan anggaran untuk memastikan penanganan pandemi Covid – 19 yang dijalankan pemerintah berjalan tepat.

“Kita harus optimistis mampu melalui pandemi ini. Pandemi ini semakin menuntut kita bahwa gotong royong menjadi kekuatan utama agar kita bahu-membahu sebagai bangsa. Kita tidak boleh tenggelam dalam perbedaan yang dapat menciptakan perpecahan,” tuturnya. (rls/ kim, ros, adb)

Comments