Perjuangan KH. Muhammad Shiddiq, dari Politik hingga Thariqah

0
2228

Oleh: Ahmad Wildan Badarulcham

(Penulis adalah santri MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah/ TBS Kudus dan santri Pondok MUS Yanbu’ul Qur’an Kudus. Tulisan penulis asal Kota Semarang ini adalah naskah lomba cabang Penulisan Biografi Kiai Lokal pada Porsema NU Jateng 2019 yang digelar di Kabupaten Temanggung)

Dunia politik merupakan sesuatu yang mendapatkan stigma negatif oleh sekian banyak orang. Banyak kalangan (masyarakat) yang kurang simpatik dengan agamawan (ulama) yang berkecimpung (terjun) di dunia politik.

Namun pandangan berbeda justru bisa dilihat dalam diri KH. Muhammad Shiddiq, kiai besar pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Falah sekaligus mursyid thariqah yang sangat dikenal di Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Muhammad Shiddiq, yang kelak lebih dikenal dengan Mbah Shiddiq ini terlahir medio tahun 1917 M dalam kondisi yang sulit. Ayahnya, Kiai Juraimi, tak sempat melihat wajah putera bungsunya, karena ajal telah menjemputnya terlebih dahulu. Ibunya, Nyai Qamari, pun harus tabah membesarkan putra bungsunya ini sendirian tanpa didampingi suaminya.

Diceritakan oleh Kiai Amin Kurdi, putera keenam Kiai Shiddiq, Kiai Juraimi adalah seorang yang ahli riyadloh sebagaimana kebiasaan para pendahulunya, diantaranya ia selalu men-dawam-kan puasa setiap hari, shaum dahr. Kiai Juraimi sendiri adalah putera Kiai Shalichah, atau lazim disebut Mbah Salekah. Seorang Ulama yang turut menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Piji dan sekitarnya. Dalam beberapa tulisan, Kiai Shiddiq kerap menambahinya al-Shalihi dibelakang namanya sendiri sebagai nisbat kepada Kiai Shalichah ini.

Naasnya, tak berselang lama ibu Muhammad Shiddiq menyusul suaminya meninggal dunia. Bersama saudaranya yang lain, yaitu Nur Ali, Umar dan Suti’ah, Shiddiq harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua mereka. Namun ketiga kakaknya dengan sabar dan tabah merawatnya, sebagai pengganti orang tua.

Menurut beberapa catatan, Kiai Shiddiq mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Kiai Ya’qub Gili dan Mbah Suryokusumo seorang waliyullah yang banyak menurunkan para kiai yang dimakamkan di Botoputih, Mejobo.

Rihlah Ilmiah

Shiddiq kecil telah terbiasa dengan tradisi mengaji. Di desanya, ia mendapatkan perhatian khusus dan dididik langsung oleh pamannya, Kiai Nashir Anis, adik Kiai Juraimi, yang menjadi salah satu kiai pada waktu itu di Desa Piji yang disepuhkan dan menjadi imam di masjid Piji. Kiai Nashir sendiri adalah salah satu santri dari Kiai Manshur Popongan dan pengamal Tarekat Khalidiyyah Naqsyabandiyyah. Oleh Kiai Nashir, Shiddiq dididik seputar dasar-dasar ilmu agama dan selalu aktif mengikuti pengajian Kiai Nashir di masjid Piji.

Saat beranjak remaja, Shiddiq meneruskan belajar atau melakukan rihlah ilmiah di madrasah Tasywiquth Thullab, Balaitengahan, dan mondok di Pondok Tasywiquth Thullab asuhan KH. Ahmad (ayah KH. Ma’mun Ahmad).

Ibarat menyelam sambil minum air, itulah yang dilakukan Muhammad Shiddiq. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Saat belajar di madrasah TBS dan mondok di Pondok Tasywiquth Thullab, dia benar-benar memanfaatkan waktunya secara maksimal untuk belajar, mengaji, baik dengan KH. Ahmad maupun dengan kiai-kiai lain di sekitaran madrasah dan pondok tempatnya belajar. Berdasarkan catatannya, Muhammad Shiddiq belajar kepada:

  • Nur Khudrin (menantu KH. Ahmad). Yaitu musyafahah al-Qur’an, ilmu-ilmu dasar Islam dan mempelajari kitab Kifayatul ‘Awam.
  • Hadziq (ayah KH. A. Rafiq Hadziq). Kepada KH. Hadziq, Muhammad Shiddiq mengkaji kitab Fathul Mu’in.
  • Muslim (paman KH. M. Arwani Amin), belajar kitab Ihya’ Ulumiddin di Masjid Langgardalem.
  • Turaikhan Adjhuri es-Syarofi (pakar falak dan ulama terkemuka pasa masanya). Kepadanya, Muhammad Shiddiq mengkaji kitab Jauharul Maknun dan Risalah Samarqandiyyah.

Terselip kisah unik dari Muhammad Shiddiq di sela-sela mondok. Ketika malam Shiddiq seringkali dipanggil gurunya (belum diketahui namanya) dan disuruh untuk memijit. Sambil memijit gurunya, Shiddiq disuguhi pertanyaan-pertanyaan menyangkut materi yang telah diajarkan oleh gurunya.

Dan kebiasaan ini hampir berjalan setiap malam. Karena kebiasaan ini hafalan Shiddiq semakin tajam dan sulit untuk hilang. “Kiai seng apik yo ngono kuwi. Ora keroso nek mulang.” (Kiai yang baik ya seperti itu. Tidak terasa kalau mengajar), imbuh KH. Affandi Shiddiq, putera kelima KH. Muhammad Shiddiq, setelah menceritakan kisah tadi.

Di sela-sela mondok, karena statusnya yang yatim dan miskin, Shiddiq kerap dijahili santri-santri lain, salah satunya dengan mengoleskan arang ke mukanya ketika ia tidur. Perlakuan santri-santri mbedhul ini sempat membuatnya minder dan lantas mengadu kepada Kiai Ahmad. “Wes kuwe betah-betahno sek mondok neng kene. Kuwe bakale diijoli Pengeran.” (Sudahlah, kamu bertahanlah dulu mondok di sini. (kesabaran) Kamu akan diganti oleh Tuhan). Lantaran kesabarannya itu dan do’a Kiai Ahmad, ia dapat mengungguli santri-santri lain.

Sejak kecil, memang Muhammad Shiddiq tergolong sebagai santri yang cerdas. Bahkan beberapa waktu setelah mondok di Pondok Tasywiquth Thullab, suatu ketika KH. Ahmad (pengasuh pondok) bermimpi air kulah pondok telah terkuras habis diminum oleh Muhammad Shidiq sendiri.

Mimpi ini merupakan sebuah isyarat, bahwa sudah waktunya santrinya asal Desa Piji itu mengakhiri mondok di bawah asuhannya, dan meneruskan belajar di pondok atau tempat lain. Akhirnya KH. Ahmad kemudian ndawuhi (memerintahkan) Muhammad Shiddiq meneruskan rihlah ilmiahnya di Pondok Tebuireng, Jombang, asuhan Hadratusysyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari.

Shiddiq pun menaati dawuh kiainya, Jombang menjadi kota tujuan berikutnya. Namun Shiddiq tidak langsung ke Pondok Tebuireng, melainkan nyantri dulu kepada KH. Kholil Harun, pengasuh Pondok Kasingan, Rembang. Di sini, ia mengaji kitab Tafsir Jalalain dan tentu saja ilmu-ilmu alat sebagaimana spesialisasi dari Kiai Kholil Kasingan sendiri.

Selepas dari Kasingan, Shiddiq akhirnya menuju ke Jombang dan nyantri di Pondok Tebuireng, pada kisaran tahun 1358 H. Kepada KH. M. Hasyim Asy’ari, Shiddiq aktif mengikuti pengajian Kiai Hasyim, terutama kitab-kitab Hadis, disamping mengaji kepada Kiai Baidhowi Tebuireng dan mengaji di Madrasah Salafiyyah Tebuireng.

Di Tebuireng ia benar-benar dapat merasakan manisnya mencari ilmu dan mulazamah kepada Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari dan berkawan dengan santri-santri brilian dari penjuru pulau Jawa yang mencecap ilmu dari samudera ilmu Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari. Saking cintanya dengan gurunya yang satu ini, Kiai Shiddiq kerap bercerita dengan perasaan bangga tentang kesan-kesan yang ia dapatkan dari Hadratusysyaikh, memang begitulah seharusnya seorang santri.

Disamping Tebuireng, ia juga memanfaatkan waktu luangnya mengaji kepada KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Muhammad Ma’ruf Kedunglo, Kiai Fattah, Kiai Abdul Hamid Hasbullah Tambakberas dan ngangsu kawruh kepada kiai-kiai lain di sekitar Pare, Kediri. Khusus kepada Kiai Ma’ruf Kedunglo ia banyak mendapatkan ijazah doa-doa hizib dan suwuk, sebagai bekal perjuangan dan sarana tetulung di tengah Masyarakat.

Setelah dipandang cukup oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Muhammad Shiddiq didawuhi untuk menjadi guru bantu delegasi Pondok Tebuireng ilmunya di Wonokromo, Surabaya. Selama menjalankan amanah itu, salah satunya berhasil mendirikan sebuah Madrasah Diniyah sebagai media belajar agama bagi masyarakat setempat.

Di masa-masa terakhir nyantri di Tebuireng, Shiddiq mengaji Syarh Hikam ‘Athaiyyah kepada Kiai Hasyim hingga khatam dua kali sebelum kemudian melanjutkan nyantri di Pondok Darul Ulum asuhan Kiai Romli Tamim di Dusun Rejoso, Peterongan, Jombang. Kepada kiai Romli Tamim, Shiddiq mengambil bai’at Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah pada 9 Rabiul Awal 1361 H sampai khatam lathifah tujuh. Bai’at tersebut dilaksanakan setelah khatam kitab Tanwirul Qulub di hadapan Kiai Ramli Tamim.

Perjuangan Melalui Jalur Politik

Setelah sekian lama melakukan rihlah ilmiah, Shiddiq pun memutuskan pulang ke kampung halamannya. Dan tak berselang lama, ia menikah dengan seorang wanita asli Desa Piji bernama Asmiah. Wanita yang beruntung terpilih sebagai pendamping hidupnya ini adalah puteri dari Joyo Maskat dan Sujatmi.

Hidup mandiri sebagai keluarga baru, dijalaninya dengan penuh keprihatinan. Ketika itu, ia belum mempunyai penghasilan. Aktivitasnya sehari-hari adalah bertani di sawah yang tidak luas dan tentu saja ngedep dampar mengajar ngaji di masjid Piji sebagai tugas utamanya sebagai seorang santri. Tidak berselang lama ia mendirikan Madrasah Wajib Belajar (MWB), semacam madrasah Diniyyah, di samping masjid Piji (sekarang bangunan tersebut menjadi MI Nahdlatul Wathon). Di Madrasah itu, ia bersama beberapa alumnus pondok yang lain mengajar remaja di sekitar Kecamatan Dawe ilmu-ilmu dasar agama Islam.

Walaupun dengan status kepala keluarga, Kiai Shiddiq masih menyampatkan diri untuk istifadah dan silaturrahim kepada beberapa Kiai. KH. Muslih Abdurrahman Mranggen adalah salah satu Kiai yang rutin ia kunjungi, hingga Kiai Muslih mengangkat Kiai Shiddiq sebagai Khalifahnya dalam menyebarkan dan mengamalkan Tarekat Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah. Semenjak saat itu, Kiai Shiddiq mulai membuka pengajaran Tarekat di desa Piji disamping tetap ngedep dhampar mengaji kitab-kitab salaf di masjid-masjid di sekitar Kecamatan Dawe.

Sampai suatu saat, Kiai Shiddiq diberitahu oleh seseorang, bahwa dirinya dicalonkan sebagai kepala Desa Piji, dan memohon agar Kiai Shiddiq berkenan menjadi kepala Desa Piji. Akhirnya kiai pun menerima jabatan itu. Ia terpilih sebagai kepala Desa Piji pada 1950 M. Tugas-tugas sebagai kepala desa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan semampunya.

Karena berlatar belakang santri, nafas keislaman dan ajaran Islam ia masukkan secara perlahan dan sistematis kepada Masyarakat. Beberapa Masjid dan sarana ibadah ia dirikan di wilayah-wilayah ‘gersang’ di sekitar Piji, para modin dibriefing tentang tatacara menjalankan kinerjanya agar sesuai dengan syara’.

Di bawah kepemimpinannya Warga Desa Piji merasa terayomi dan ajaran Islam bergeliat meningkat. Hingga usia sepuh pun, setiap menjelang ‘Idul fitri dan ‘Idul Adha kebiasaan untuk memanggil beberapa modin untuk sekedar mengecek tatacara menyembelih, prosesi sholat ied dan masalah zakat masih rutin ia lakukan.

Dan suatu malam, salah satu kader PDI sowan ke kediaman Kiai Shiddiq meminta agar bersedia menjadi anggota DPRD Kudus dari Fraksi Partai Golkar. Alasannya, tidak ada pemuka agama Islam yang masuk dalam daftar calon. Melainkan hanya ada pemuka agama Kristen yang berada pada nomor urut dua. Nomor urut satu kosong. Padahal nomor urut berpotensi terpilih sebagai anggota DPRD Kudus.

Dengan mempertimbangkan pelbagai kemungkinan, Kiai Shiddiq pun setuju bersedia dicalonkan sebagai anggota DPRD Kudus dari Fraksi Partai Golkar. Perjuangannya melalui jalur politik itu ditempuh selama dua periode, yaitu tahun periode 1988 – 1993 dan periode 1993 – 1996.

Meskipun pada awalnya sempat terjadi pertentangan kecil di masyarakat, tapi pada akhirnya Kiai Shiddiq dapat melewatinya dengan baik, pun juga pengajian-pengajian yang selama ini rutin ia lakukan tetap dapat ia jalani dengan istiqamah, sama sekali tidak kecer atau bahkan terbengkalai. Sebuah pelajaran berharga, bahwa betapapun kesibukan sorang santri, jangan sampai menjadikan misi nasyrul ‘ilmi dan ibadah menjadi terganggu.

Teladan dan Mursyid Thariqah

Sedari kecil Shiddiq sudah yatim-piatu. Namun itu justru ibarat tempaan keras yang kelak menjadikannya ‘kebal’ terhadap ujian hidup. Masa belajarnya pun tak surut akan tempaan. Shiddiq sudah biasa menempa tubuhnya dengan tirakat dan puasa.

Kerasnya pergolakan yang terjadi ketika orde lama sempat membuatnya di penjara hingga tiga tahun tanpa pengadilan, tanpa kabar dan berita apapun. tetapi hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk tetap berjuang. Sekembalinya dari bui ia tetap kembali mengaji, belajar dan menemani masyarakat dengan telaten seperti sedia kala.

Beberapa waktu berjalan, usahanya pun mulai berbuah, jamaah pengajian perlahan bertambah, dakwahnya mulai diterima secara luas hingga Masjid Piji tempat pengajian dilaksanakan telah overload dalam menampung jamaah. Hingga muncul desakan dari jamaah untuk membuat ribath yang digunakan sebagai tempat pengajian. Dan setelah istikharah dan meminta petunjuk kepada Allah-subhanahu wa ta’ala-Kiai Shiddiq pun berkenan untuk mendirikan pondok thariqah. Dengan bantuan finansial para jama’ah, yaitu sekitar tahun 1975 (1972 dalam riwayat lain), pondok thariqah berdiri dan diberi nama Manbaul Falah.

Perannya di NU

Selain berpacu sebagai kepala desa, kemudian anggota DPRD, dan mursyid thariqah. Sebagaimana keterangan dari Arifin, Kiai Shiddiq pernah masuk kepengurusan Syuriah PCNU Kudus serta aktif mengikuti bahtsul masail MWC NU Kecamatan Dawe semasa mudanya.

Meskipun ketika beranjak sepuh, perlahan ia mulai menarik diri dan memberikan ruang kepada yang lebih muda. Namun dalam badan otonom NU, yaitu Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah, Ia selalu aktif mengikuti perkembangan dunia Tarekat terlebih Bahtsul Masailnya, meskipun ketika beranjak sepuh tidak turut serta sebagai mubahitsin, namun tetap selalu mencatat, mengumpulkan dan mengoreksi setiap hasil keputusan Bahtsul Masail Thariqiyyah.

Bahkan, salah satu kitabnya – Nailul Amaniy- beberapa kali digunakan sebagai referensi Bahtsul Masaail Thariqiyyah. KH. Zaini Mawardi sendiri, seorang mushahhih dalam setiap kegiatan Bahtsul Masail Thariqiyyah Idaroh Aliyah Jatman, kerap kali berkunjung untuk membicarakan dan konsultasi hal-hal seputar thariqah, karena kematangan pengetahuannya terkait ilmu-ilmu Tasawuf.

Pengajian dan Karya

Kiai Shiddiq tergolong ulama yang produktif. Meskipun dibebani banyak sekali tanggung jawab, di sela-sela kesibukannya sebagai Lurah, Anggota dewan dan Kiai, beliau masih menyempatkan diri untuk menulis, mentalkhis dan mengomentari kitab-kitab salaf.

Terkadang ketika ada tamu yang meminta pituduh darinya tentang suatu permasalahan, Kiai Shiddiq tidak berat hati untuk menulis jawaban dari permasalahan itu kemudian dia berikan kepada tamunya tadi. Atau ketika sedang marak-maraknya DI/TII, wahabi, dan kegaduhan lainnya, Kiai Shiddiq langsung cekatan menanggapi masalah tersebut dengan menulis sebuah risalah.

Kitab-kitab yang terlahir dari tangan beliau cukup banyak, namun berserakan di mana-mana. Sebagian ada yang disimpan keluarganya dan sebagian lagi entah kemana. Mungkin dibawa santri atau tamu, karena kebanyakan memang tentang respons beliau terhadap suatu pertanyaan atau keadaan yang membutuhkan jawaban yang panjang. Di antara kitab-kitab karangannya yang masih terawat baik oleh keluarganya adalah:

  • Nail al-Amani ‘ala Lujain ad-Dani fi adz-Dzikr Manaqib al-Quthb ar-Rabbani as-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Kitab ini adalah syarah (penjelasan) dari kitab al-Lujaini ad-Dani karangannya Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji.
  • Ta’liqat Kitab Hikam. Semacam syarah dan penjelas atas kandungan makna kitab al-Hikam.
  • Risalah al-Iqyan fi adz-Dzikr Silsilah Ahl al-‘Irfan wa Bayan Mabna A’mal Tharayiq Ahl al-‘Iyan. Kitab ini menerangkan tentang tasawwuf dan penjelasan silsilah tarekat Qadiriyyah – Naqsyabandiyyah.
  • Fathmil Aqwal fi hauli Itsbati awwali Ramadhan wa Syawwal. Menerangkan tentang tatacara penetapan awal puasa dan Idul Fithri.
  • Risalah Kasyf al-Syubuhat Fi Bayani Anna ‘Aqidata Ahlil Bid’ah fidl Dhalalat wal Hafawat.
  • Risalah Kasyf al-Mudlmarat fi Dzkr Bayan Ma Yanfa’ lil Amwat.

Pengajian-pengajiannya juga tersebar di berbagai wilayah, mulai di beberapa daerah di Kabupaten Kudus, Jepara, Demak Hingga Pasuruan. Namun pengajian rutin ahadan yang secara istiqamah beliau lakukan adalah Kitab Iqadhul Himam Syarah Hikam, setiap Malam Ahad. Ihya’ Ulumiddin setiap Malam Senin, Tafsir Marah Labid ( Tafsir Munir) setiap Malam Sabtu. Adapun setelah Jumuahan, kitab yang beliau ajarkan berganti-ganti. Pernah Tafsir Jalalain, Riyadus Shalihin, Syarah Manaqib hingga Sirrul Jalil. Disamping itu, beliau juga rutin tawajjuhan setiap Sabtu dan Ahad pagi.

Kembali ke Rahmatillah

Sumbangsihnya terhadap warga Desa Piji, masyarakat Kudus, dan bangsa ini tak akan bisa tergantikan. Ia dengan ikhlas meneteskan keringatnya setiap hari untuk mengabdi kepada umat. Sebelum wafat, Kiai Shiddiq sempat terbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan.

Hingga pada suatu malam, sepulang dari RSUD Kudus, Kiai Shiddiq langsung dibawa Sulhan, khadim-nya semenjak menjadi kepala desa, ke kamar agar dia istirahat. Tatkala tengah malam tiba-tiba muncul suara salam yang cukup keras dari atas tempat Kiai Shiddiq terbaring. Kaget, Sulhan pun terbangun karena suara itu, lantas segera mengecek keadaan sekitar namun tidak ada siapa-siapa kecuali Kiai Shiddiq yang sedang berdzikir dengan mata terpejam. Demikian kesaksian Sulhan yang menunggui Kiai Shiddiq semalaman.

“Allah…Allah…Allah…” lafadz itu yang senantiasa keluar dari bibir Kiai Shiddiq semenjak dia dirawat di ICU RSUD Kudus, hingga mengembuskan napas terakhirnya. Sebelum wafat, Kiai Shiddiq memanggil kedua puteranya, yaitu KH. Affandi Shiddiq dan K. Amin Kurdi untuk diangkat menjadi khalifah dan imam khususiy meneruskan perjuangannya.

Kiai Shiddiq menghadap haribaan Sang Pencipta pada Sabtu, 5 Ramadlan 1431 H/ 14 Agustus 2010 M di usia 92 tahun, tatkala para salikat  sedang menjalani khalwat. Mendung dan hujan rintik-rintik mengiringi pemakamannya, Kiai Shiddiq telah kembali ke Rahmatillah, di bulan yang sama dengan para guru-gurunya.

KH. Muhammad Shiddiq meninggalkan istri dan tujuh putera-puteri dan dimakamkan di kompleks pondok pesantren dan madrasah yang didirikannya, Mambaul Falah, yang hingga kini menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang banyak menjadi jujugan dari berbagai daerah untuk belajar. (*)

Sumber data:

  • Wawancara dengan KH. Affandi Shiddiq, putera kelima KH. Muhammad Shiddiq as-Shalihi, pada 19 Mei 2019 di kediamannya, PP. Mambaul Falah.
  • Wawancara dengan KH. Amin Kurdi. Putera keenam KH. Muhammad Shiddiq as-Shalihi, pada 21 Mei 2019 di kediamannya, PP. Mambaul Falah.
  • Wawancara dengan Ust. Agus Fauzul Muna, cucu KH. Muhammad Shiddiq as-Shalihi dari KH. Affandi Shiddiq, pada 10 & 18 Mei 2019 di kediamannya, PP. Mambaul Falah.
  • Wawancara dengan Ust. Arifin, salah satu khadim Muhammad Shiddiq as-Shalihi, via WA pada 21 Mei 2019.
  • Wawancara dengan Ust. Kasmian., S. Ag., anggota penyuluh agama Kecamatan Dawe, di Kantor Bawaslu Kudus pada 16 Mei 2019.
  • Buku “Mursyid TQN Kontemporer KH Muhammad Shiddiq as-Shalihi Kudus” karya Dr. KH. Ahmad Shodiq., MA.
Comments