Wawancara dengan Ketua PAC Fatayat NU Bae yang Raih Gelar Doktor
Perempuan NU Bisa Berprestasi Akademik Tanpa Tinggalkan Nilai Keislaman dan Identitas Sosialnya

0
529
Dr. Rohmatun Nafiah S. Pd, M.Sc. Ketua PAC Fatayat NU Bae Kudus yang meraih gelar Doktor, belum lama ini

KUDUS,Suaranahdliyin.com – Pada pertengahan Januari 2026 lalu, Ketua Pimpinan Anak Cabang Dr. Rohmatun Nafi’ah, S.Pd, M.Sc berhasil menyandang gelar Doktor usai menjalani ujian disertasi tertutup di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Perempuan berprofesi dosen Kimia Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus (ITEKES Cendekia Utama Kudus) ini mengambil judul disertasi “Sintesis Nanomaterial MCM-41 sebagai Sistem Penghantar Obat (Drug Delivery System) Senyawa Antikanker Solasodin”

Saat diwawancarai Suaranahdliyin.com, Dr Rohmatun Nafiah ini mengatakan keberhasilan menempuh studi doktoral sebagai ikhtiar untuk terus  meningkatkan kualitas diri agar ilmu yang  dimiliki dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Sebagai perempuan NU yang berperan sebagai ibu, dosen, peneliti, sekaligus aktivis organisasi, saya ingin menunjukkan bahwa perempuan dapat berprestasi di dunia akademik tanpa meninggalkan nilai keislaman dan peran sosialnya.”,ujarnya.

Berikut ini wawancara lengkap Kontributor Suaranahdliyin.com Yuliana dengan Dr. Rohmatun Nafiah, beberapa waktu lalu.

Dr. Rohmatun Nafi’ah sedang menjalani ujian disertasi di hadapan para penguji di UGM Yogyakarta

Apa motivasi utama sahabat hingga berhasil meraih gelar Doktor Kimia di Universitas Gadjah Mada?

Motivasi saya menempuh studi doktoral adalah ikhtiar untuk terus meningkatkan kualitas diri agar ilmu yang saya miliki dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. Bagi saya, ilmu merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga dalam pengabdian sosial dan keumatan. Sebagai perempuan NU yang berperan sebagai ibu, dosen, peneliti, sekaligus aktivis organisasi, saya ingin menunjukkan bahwa perempuan dapat berprestasi di dunia akademik tanpa meninggalkan nilai keislaman dan peran sosialnya. Oleh karena itu, studi doktoral ini saya maknai bukan sekadar pencapaian gelar, melainkan bagian dari perjalanan pengabdian jangka panjang untuk umat dan bangsa.

Bisa menjelaskan secara ringkas fokus dan temuan utama dalam disertasi yang sahabat teliti seperti apa?

Disertasi saya berfokus pada sintesis dan pengembangan nanomaterial MCM-41 sebagai sistem penghantar obat antikanker solasodin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MCM-41 mampu mengadsorpsi (menyerap) dan membawa solasodin secara stabil, serta melepaskannya secara terkontrol, sehingga berpotensi meningkatkan efektivitas terapi sekaligus meminimalkan efek samping. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan komprehensif yang meliputi sintesis material, karakterisasi, kajian kinetika adsorpsi, dan uji pelepasan obat, serta didukung oleh evaluasi aktivitas sitotoksik sebagai kontribusi dalam pengembangan kimia material dan kimia medisinal.

Mengapa sahabat memilih tema disertasi tersebut dan apa urgensinya bagi masyarakat?

Kanker masih menjadi persoalan serius dalam kesehatan masyarakat. Data WHO tahun 2022 menunjukkan bahwa di kawasan Asia Tenggara, kanker payudara di Indonesia memiliki angka insidensi dan tingkat mortalitas yang tergolong tinggi, menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi perempuan. Oleh karena itu, tema ini saya pilih karena dinilai relevan dan aplikatif, serta berpotensi memberikan solusi ilmiah melalui pengembangan terapi yang lebih aman dan efisien berbasis bahan alam.

Bagaimana relevansi hasil penelitian disertasi ini dengan isu kesehatan, lingkungan, atau kehidupan sehari-hari?
Penelitian ini memiliki relevansi kuat dengan berbagai aspek kehidupan, terutama dalam bidang kesehatan melalui kontribusinya terhadap pengembangan terapi kanker yang lebih efektif dan aman. Di sisi lain, riset ini juga selaras dengan isu lingkungan karena memanfaatkan bahan alam serta menerapkan pendekatan material yang lebih efisien dan berkelanjutan. Dalam jangka panjang, hasil penelitian diharapkan mampu mendukung hadirnya teknologi kesehatan yang lebih terjangkau bagi masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa ilmu kimia tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana sahabat mengintegrasikan keilmuan Kimia dengan peran sebagai Ketua Fatayat NU Ancab Bae?

Sebagai Ketua terpilih PAC Fatayat NU Kecamatan Bae, saya memandang ilmu pengetahuan sebagai modal strategis dalam pemberdayaan perempuan. Keilmuan kimia yang saya tekuni saya integrasikan dengan penguatan literasi sains dan kesehatan bagi kader, serta mendorong budaya berpikir kritis, ilmiah, dan solutif dalam organisasi. Dengan pendekatan tersebut, Fatayat NU diharapkan menjadi ruang tumbuh perempuan yang cerdas, berdaya, dan berakhlak, karena bagi saya dunia akademik dan organisasi bukan dua hal yang terpisah, melainkan saling menguatkan dalam khidmah kepada umat.

Tantangan apa yang paling berat selama menjalani studi doktoral, sebagai wanita karir, ibu rumah tangga skaligus sebagai aktivis berorganisasi?

Tantangan terberat selama menjalani studi doktoral adalah mengelola waktu, energi, dan fokus di tengah peran sebagai dosen, ibu rumah tangga, serta aktivis organisasi. Proses ini semakin menantang karena saya juga menjalani kehamilan hingga melahirkan putri ketiga di masa studi. Namun dengan dukungan keluarga, manajemen waktu yang baik, serta niat dan tawakal kepada Allah SWT, seluruh peran tersebut dapat dijalani secara seimbang.

Apa pesan sahabat kepada kader Fatayat NU dan perempuan muda agar terus mengembangkan pendidikan dan kapasitas diri?

Pendidikan merupakan jalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan, karena melalui ilmu perempuan dapat bermimpi lebih tinggi dan berkontribusi lebih luas. Saya berpesan kepada kader Fatayat NU dan perempuan muda agar tidak ragu untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri, sebab pendidikan akan menguatkan peran perempuan di keluarga, organisasi, dan masyarakat. Perempuan NU harus berani cerdas, berani berilmu, dan berani mengambil peran strategis tanpa meninggalkan identitas keislaman dan keperempuanannya. Jadikan ilmu sebagai bekal pengabdian, dengan menyeimbangkan kecerdasan intelektual, keteguhan iman, dan keluhuran akhlak, sehingga ilmu, iman, dan amal dapat berjalan beriringan untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

Data Diri
Nama  : Dr. Rohmatun Nafi’ah, S.Pd, M.Sc

Alamat : Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah

Pendidikan Terakhir : Doktor Ilmu Kimia, FMIPA Universitas Gadjah Mada

Pekerjaan : Dosen Kimia
Unit Kerja : Program Studi S-1 Farmasi, Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus (ITEKES Cendekia Utama Kudus).

Judul Disertasi : Sintesis Nanomaterial MCM-41 sebagai Sistem Penghantar Obat (Drug Delivery System) Senyawa Antikanker Solasodin

Tgl Ujian Disertasi Tertutup : Kamis, 15 Januari 2026

Publikasi : Jurnal internasional terindeks Scopus Q2. (yuliana/adb)

Comments