Pengajian Rutinan NU Ranting Bringin Batealit Kembali Digelar

0
300
Pengajian rutin Syurahan NU Bringin Bateali jepara

JEPARA,Suaranahdliyin.com – Pasca Idulfitri, pengajian rutinan Syuriahan Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Bringin Kecamatan Batealit kembali diadakan, Senin (23/05/2022). Pengajian rutin yang berlangsung pukul 08.00 – 12.00 wib itu berlanjut lagi di Mushola Rt 13/05, Dukuh Cangkring, Batealit, Jepara.

Diawali dengan pembacaan maulid, pengajian rutin disambung dengan tahlil dan sambutan-sambutan. Dalam acara tersebut, turut hadir pula, KH. Adib Fattah Al-hafiz, Drs. Said (Ketua MWC Batealit) dan juga jajaran pengurus NU ranting Bringin.

Karena masih dalam nuansa bulan Syawal, pengajian rutin juga digelar dalam rangka Halalbihalal antar pengurus dan masyarakat sekitar

“Halalbihalal memang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan hadis, namun sudah menjadi tradisi di masyarakat kita,” ujar Kiai Abdul Fattah dalam mauidlohnya.

Kendati demikian, lanjutnya, Halalbihalal merupakan bagian dari ibadah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yakni, meminta ampun kepada Allah dan saling memaafkan antar sesama.

“Jadi dalam kata “Halalbihalal” huruf “ba'”nya mempunyai faidah littaswiq, sehingga bisa diartikan ada barang halal ditukarkan barang halal, dengan kata lain kita saling memaafkan,” urainya.

Kiai Abdul Fattah menerangkan kata Halalbihalal pertama kali dicetuskan ketika Indonesia baru saja merdeka. Yakni pada tahun 1948. kala itu Presiden Indonesia, Bung Karno gelisah tentang permasalahan di Indonesia karena banyak lawan politik yang mempunyai pandangan berbeda tentang falsafah bangsa.

“Baik yang religius, nasionalis bahkan ateis pun ada. Jadi ancaman perpecahan ada karena kepentingan masing-masing. Belum lagi, ada ancaman pihak luar yang masih hendak menjajah negara lagi,” imbuhnya.

Dalam keadaan seperti itu, Soekarno kemudian berkunjung ke Kiai Wahab Hasbullah. Ulama karismatik yang dikenal cakap dalam berorganisasi. Kiai pencipta lagu ya lalwathon itu memberi masukan kepada Soekarno untuk mengajak silaturahmi semua lawan politiknya.

“Buatlah silaturahim nasional, undang semua lawan politikmu,” ucap Kiai Fatah menirukan ucapan Mbah Wahab kepada Presiden Soekarno.

Ternyata Soekarno kurang berkenan dengan diksi “silaturahim” karena kata tersebut kental kaitannya dengan bahasa santri. Alhasil, Mbah Wahab mengusulkan diksi “Halalbihalal” untuk mengganti kalimat silaturahmi. Soekarno pun menyetujui.

Dari kisah tersebut, lanjut Kiai Adib Fattah, bisa dikatakan Halalbihalal merupakan budaya.

“Halalbihalal hanya ada di Indonesia, di negara lain seperti Arab Saudi, Mesir tidak ada Halalbihalal,” urai Kiai Asal mindahan itu.

Selain mauidloh hasanah dari Kiai Adib Fattah, pada ngaji rutinan tersebut juga terdapat pembacaan kitab Majmuatus Syariah dan Bidayatul Hidayah.(Arif,sim/adb)

Comments