
YOGYAKARTA, Suaranahdliyin.com – Sejumlah praktisi psikologi dan akademisi Daerah Istimewa Yogyakarta melaunching Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) di kantor DPD RI Yogyakarta Jl. Kusumanegara No. 133, Muja Muju, Umbulharjo, Sabtu (10/10/2026).
Launching ditandai pemotongan tumpeng dan seminar kesehatan bertema Merawat Kesehatan Mental, Membangun Kemashlahatan: Pendekatan Sistem dalam Kesehatan Mental”.
Ketua Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) DIY Dr Hj Maya Fitria, S.Psi., M.A
menyampaikan JPN secara kelembagaan tergolong baru dan saat ini belum dilegalkan secara formal. Soft launching JPN sebelumnya telah dilaksanakan bertepatan dengan Muktamar ke-35 NU di Jombang.
“Gagasan pembentukan JPN sebenarnya telah berkembang sejak masa pandemi COVID-19, sekitar empat tahun yang lalu..”tuturnya.
Hj Maya mengatakan terbentuknya JPN ini berangkat dari keprihatinan terhadap kebutuhan pesantren akan pendekatan psikologi dalam menangani berbagai persoalan psikologis, JPN kemudian tumbuh sebagai komunitas keilmuan. jPN ini sebagai bentuk khidmah kepada masyarakat melalui keilmuan psikologi.
“JPN diharapkan beranggotakan para psikolog. Namun, karena jumlah psikolog masih terbatas, komunitas ini juga membuka ruang bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan S2 psikologi, meskipun belum berstatus sebagai psikolog, agar tetap dapat berkontribusi sesuai kapasitas keilmuannya.”ujarnya.
“Kami juga mengharaokan muncul komunitas-komunitas keilmuan lain di lingkungan Nahdliyin yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat NU, yang memiliki karakteristik dan dinamika tersendiri yang belum sepenuhnya terakomodasi oleh pendekatan di perguruan tinggi,”sambung Hj. Maya.
Lebih lanjut, Maya menegaskan bahwa Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak pendekatan psikologi yang mampu berdialog dengan konteks kehidupan masyarakat. Salah satu tantangannya adalah kultur masyarakat yang cenderung mengajarkan seseorang untuk memendam perasaan dan bersabar.
“Nilai-nilai tersebut perlu dipahami secara kontekstual agar dapat berdialog dengan pendekatan psikologi secara tepat,”tandasnya.
Dalam pengukuran motivasi misalnya, lnjut dia, jawaban masyarakat terkadang cenderung berada di tingkat tengah atau biasa-biasa saja. Hal ini dapat berkaitan dengan karakter masyarakat religius yang memiliki keyakinan untuk berserah diri kepada Sang Pencipta.
“Oleh karena itu, fenomena psikologis perlu dipahami dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.”imbuh Maya.
Hj. Maya juga menyoroti bahwa pendekatan psikologi yang selama ini banyak berfokus pada individu belum cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang kompleks. Diperlukan pendekatan yang lebih luas dengan memperhatikan peran komunitas dan lingkungan sosial.
“Pendekatan tersebut dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat individu, keluarga, komunitas, institusi, hingga kebijakan publik. Dengan demikian, psikologi diharapkan tidak hanya berfokus pada persoalan individual, tetapi juga mampu memahami dan merespons dinamika sosial secara lebih menyeluruh.”jelasnya.
Seminiar kesehatan menghadirkan nara sumber Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum.(Ketua PWNU DIY), Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A.(Anggota DPD RI DIY), Rosma Fiky Kamala, S.Psi., M.Sc., M.Psi.( Psikolog). Ny. Dr. Hj. Maya Fitria, S.Psi., M.A. (JPN), Nurmay Nurulchaq, S.Psi., M.A., (Psikolog) dan Prof. Dr. Nurus Sa’adah, S.Psi., M.Si., Psi..
Sementara putri Gus Dur, Alissa Wahid, M.Sc.menjadi Keynote Speaker dalam seminar kesehatan tersebut.(Irfan/Qomarul Adib)




































