
YOGYAKARTA, Suaranahdliyin.com – Keluarga tidak cukup hanya mengupayakan kondisi sakinah, tetapi juga perlu mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh anggotanya. Setiap anggota keluarga, tanpa terkecuali, memiliki hak untuk berkontribusi dalam menciptakan kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Penegasan ini disampaikan psikolog keluarga dan pendidikan, Nurmay Nurulchaq, S.Psi., M.A., dalam seminar kesehatan bertema Merawat Kesehatan Mental, Membangun Kemashlahatan: Pendekatan Sistem dalam Kesehatan Mental”.Sabtu (10/10/2026). Seminar dalam rangkaian acara launching Jaringan Psikolog Nahdliyin (JPN) berlangsung di Kantor DPD RI Yogyakarta.
Psikolog yang akrab dipanggil bu Rully ini memgatakan keluarga maslahah menjadi salah satu fondasi bagi terwujudnya khaira ummah (umat terbaik), baldah thayyibah (negeri yang baik dan makmur), serta kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
“Ketika keluarga-keluarga mampu membangun kehidupan yang maslahah, dampaknya diharapkan meluas ke tingkat masyarakat dan negara,” tandasnya.
Berbicara tema kesehatan mental bagi keluarga sakinah, bu Rully menyampaikan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat sekaligus tempat pertama bagi anak untuk mengenal cinta, memperoleh penerimaan, dan merasakan keamanan. Keluarga bukan sekadar kumpulan individu, melainkan sebuah sistem yang setiap anggotanya saling memengaruhi.
“Oleh karena itu, ketika salah satu anggota keluarga mengalami gangguan emosional, kondisi tersebut dapat berdampak pada anggota keluarga lainnya.” ujar Pemilik atau pengelola (owner) homeschooling HSPG (Home Schooling Prima Gamma) ini.
Kesehatan mental, menurut dia, perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika sistem keluarga. Lingkungan tempat anak tumbuh menjadi ruang utama bagi anak untuk memperoleh validasi, penerimaan, dan pengakuan atas dirinya.
“Dalam perspektif psikologi, penting untuk memperhatikan bagaimana setiap anggota keluarga menerima dan menghargai anggota keluarga lainnya, ” imbuhnya.
Bu Rully menjelaskan pentingnya unconditional positive regard atau penghargaan positif tanpa syarat, yaitu penerimaan dan penghargaan terhadap seseorang sebagai individu tanpa bergantung pada pencapaian atau prestasi tertentu. Hal ini berbeda dengan penghargaan bersyarat, ketika seseorang hanya mendapatkan apresiasi apabila berhasil memenuhi harapan atau mencapai prestasi tertentu.
“Pengalaman memperoleh penerimaan tanpa syarat menjadi salah satu aspek penting dalam membangun rasa aman dan kesehatan mental dalam keluarga, “ungkap bu Rully yang juga dosen Poltekes Kemenkes Yogyakarta.
Dalam konteks kesehatan mental anak dan remaja, Bu Rully turut menyoroti persoalan perundungan (bullying) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang menurut pemaparannya memiliki tingkat cukup tinggi. Ia mengaitkan persoalan tersebut, antara lain, dengan hilangnya figur ayah dalam kehidupan anak.
“Hal ini menjadi pengingat akan pentingnya kehadiran dan keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.”tandas dia.
Sebagai penegasan, bu Rully menyampaikan bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Tidak ada kesehatan yang utuh tanpa kesehatan mental.
“Sekitar 80% kesehatan fisik berakar pada kesehatan mental. Pesan ini menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, baik pada tingkat individu maupun dalam sistem keluarga, sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan bersama.” imbuh bu Rully.
Launching JPN dan Seminiar kesehatan menghadirkan nara sumber Dr. KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum.(Ketua PWNU DIY), Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A.(Anggota DPD RI DIY), Rosma Fiky Kamala, S.Psi., M.Sc., M.Psi.( Psikolog). Ny. Dr. Hj. Maya Fitria, S.Psi., M.A. (JPN), dan Nurmay Nurulchaq, S.Psi., M.A., (Psikolog)
Sementara putri Gus Dur, Alissa Wahid, M.Sc.menjadi Keynote Speaker dalam seminar kesehatan tersebut. (Irfan/Qomarul Adib)































