
YOGYAKARTA,Suatranahdliyin.com – Saat ber-NU (menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama) hendaknya tidak semata-mata didasarkan pada figur pemimpin tertentu, melainkan pada visi, misi, nilai, dan aturan organisasi.
Demikian yang disampaikan Ketua PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor dalam acara launching Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) DIY di Kantor DPD RI-Yogyakarta Sabtu (10/10/2026).
KH. Zuhdi Muhdlor menekankan sikap hormat kepada pemimpin tetap perlu dijaga, tetapi kiprah keorganisasian dan pengabdian tidak seharusnya hanya bergantung pada figur pemimpin. Menurutnya, kekuatan NU juga terletak pada komunitas dan gerakan masyarakat yang tumbuh dari kesadaran bersama.
“Sebuah komunitas tidak selalu harus mendasarkan keberadaannya pada legalitas formal, seperti kepemilikan KARTANU, melainkan juga dapat dibangun melalui kesamaan nilai, tujuan, dan semangat pengabdian.”tegasnya
Pada kesempatan itu, ia juga menunjukkan kegembiraannya atas terbentuknya Jaringan Psikologi Nahdliyin (JPN) DIY. Dikatakan, gagasan pembentukan jaringan ini sebelumnya juga pernah didiskusikan bersama H. Hilmy Muhammad (anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).DIY)
“Ke depan, diperlukan tindak lanjut untuk menghimpun para intelektual NU yang tersebar di berbagai perguruan tinggi dan komunitas agar dapat membangun jaringan kolaborasi yang lebih kuat.” tandas Zuhdi.
Ia juga menyoroti karakter JPN yang diinisiasi oleh perempuan dan memiliki banyak anggota perempuan. Dalam pandangannya, gerakan yang dipelopori perempuan sering kali memiliki daya gerak yang cepat.
“Hal ini diharapkan menjadi kekuatan bagi perkembangan JPN sekaligus inspirasi bagi lahirnya komunitas-komunitas keilmuan lainnya di lingkungan NU.”harapnya.
Lebih lanjut, Zuhdi mengusulkan gagasan penyelenggaraan Muktamar Diaspora Intelektual sebagai ruang pertemuan dan konsolidasi para intelektual NU yang saat ini tersebar di berbagai kampus maupun komunitas. Gagasan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk merangkul mereka yang selama ini bergabung dengan komunitas lain karena belum tersedianya wadah yang sesuai di lingkungan NU.
“Dengan berkembangnya ruang kolaborasi di dalam NU, para intelektual Nahdliyin diharapkan dapat kembali berkontribusi melalui rumah organisasinya sendiri.”tambahnya.
Di akhir sambutannya, Zuhdi Muhdhor mengucapkan selamat kepada JPN DIY dengan harapan kehadiran jaringan ini dapat menjadi pemicu lahirnya komunitas-komunitas keilmuan dan pengabdian lainnya di lingkungan NU.
“Saya harap JPN dapat menjadi pelopor sunnah hasanah, yakni praktik baik yang menginspirasi lahirnya berbagai kebaikan berikutnya.”unarnya
Launching JPN ditandai pemotongan tumpeng dan seminar kesehatan bertema Merawat Kesehatan Mental, Membangun Kemashlahatan: Pendekatan Sistem dalam Kesehatan Mental”.
Turut hadir pula sebagai pembicara Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A.(Anggota DPD RI DIY), Rosma Fiky Kamala, S.Psi., M.Sc., M.Psi.( Psikolog). Ny. Dr. Hj. Maya Fitria, S.Psi., M.A. (JPN), Nurmay Nurulchaq, S.Psi., M.A., (Psikolog) dan
Prof. Dr. Nurus Sa’adah, S.Psi., M.Si., Psi..
Sedangkan putri Gus Dur, Alissa Wahid, M.Sc.menjadi Keynote Speaker dalam seminar kesehatan tersebut. (Irfan/Qomarul Adib)































