Nguri-Nguri Budaya, Pemuda Desa Kriyan Gelar Baratan Ratu Kalinyamat

0
427
Choirun Nisa Wulandari memerankan sosok Ratu Kalinyamat (Dok. GP Ansor Kriyan)

JEPARA, Suaranahdliyin.com – Bagi warga Desa Kriyan dan sekitarnya, nama pesta Baratan sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Tahun ini, untuk menyambut bulan suci Ramadhan dan menghormati malam Nisyfu Sya’ban, pesta Baratan dan arak-arakan Ratu Kalinyamat kembali digelar.

Mengusung konsep “Pekan Budaya Desa Kriyan” pesta baratan yang diinisiasi oleh PR GP Ansor Kriyan ini digelar secara sederhana dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Bersama para pemuda Desa Kriyan, kegiatan berlangsung di Pelataran Masjid Al Makmur Kriyan, Senin (21/03/2022) malam.

Ketua panitia pelaksana, Muhammad Hisyam Maliki, menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan momentum di bulan Sya’ban dengan menebar welas asih, toleransi dan saling memaafkan. Hal ini dilakukan untuk membersihkan hati dari sifat-sifat buruk.

“Baratan ini berasal dari kata Barokatan yang artinya mengharap keberkahan di bulan sya’ban, jadi supaya kita tidak lupa dengan peninggalan para leluhur, kita agendakan setiap tahun,” kata Hisyam saat diwawancarai Suaranahdliyin.com, Selasa (22/03/2022).

Acara baratan dimulai dengan titik pemberangkatan dari Masjid Al Makmur Kriyan. Kemudian, Ratu Kalinyamat yang diperankan oleh Choiru Nisa Wulandari diiring mengelilingi Desa Kriyan dan kembali ke pelataran masjid. Untuk tahun ini, kata Hisyam, konsep baratan yang diusung lebih ingin menampilkan benda-benda peninggalan Kerajaan Jepara di masa lampau.

“Di antaranya Masjid Al Makmur, Siti Hinggil, Watu Gilang, dan Toponimi lokasi yang menunjukkan keberadaan Kerajaan kalinyamat, ini bisa menunjukkan eksistensi Kerajaan di Jepara,” sebutnya.

Adanya iringan Ratu Kalinyamat pada pesta baratan tahun ini cukup mengundang antusias masyarakat. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya digelar dengan selametan sederhana di Masjid Al Makmur Kriyan.“Mengingat pada masa pandemi tersebut, terdapat pembatasan aktifitas masyarakat,” terangnya.

Pihaknya berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan kepada generasi muda untuk lebih mencintai dan mengetahui tradisi yang ada di daerahnya. “Setidaknya, mereka diajak untuk nguri-nguri budaya peninggalan kerajaan yang ada di Jepara dan memahaminya,” tambahnya. (sim/rid)

Comments