
BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Momentum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026 lalu, adalah tepat untuk menggelar doa bersama memohonkan ampun para pahlawan yang menaruhkan jiwa raganya berjuang demi kemerdekaan serta refleksi keadaan bangsa kekinian.
Doa bersama ini dilaksanakan di kampung Beran RT 06 RW 06 Karangjati, Wonosegoro, Boyolali yang dikemas dalam malam tirakatan 17 Agustus 2026 di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul ‘Ulum Jambeyan, Ahad (16/8/2026) lalu.
Sesepuh Desa Karangjati, Sururi, mengutarakan, penting bagi warga bangsa untuk meneladani dan menghargai jasa pahlawan serta memberikan dukungan bagi para pemimpin yang sedang mengusahakan kemajuan.
“Perlu banyak dukungan kepada pemerintah, baik lewat doa, kritik, maupun terjun langsung dalam membenahi negara sesuai kemampuan,” katanya.
Sururi mengajak mensyukuri atas meningkatnya kesejahteraan warga dari waktu ke waktu. Namun menurutnya, kondisi bangsa Indonesia saat ini terasa tidak baik baik saja, yang ditandai ada perlambatan peningkatan ekonomi warga.
“Ada kekecewaan warga di sejumlah daerah seperti Aceh, Kalimantan, Papua, serta demo-demo atas kebijakan yang belum berpihak ke masyarakat,” terangnya.
Dijelaskannya, pelaksanaan kebijakan pemerintah banyak bermasalah, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah karena dalam implementasinya kurang maksimal, bahkan terkikis sehingga menghambat pergerakan maju desa atau daerah.
Selain itu, tambah Sururi, kembalinya dwi fungsi ABRI menjadi keprihatinan yang mesti menjadi perhatian agar berjalan sebagaimana perundangan yang ada.
“Semoga Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 benar-benar dilaksanakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kaum elite saja,” katanya.
Pasalnya, tambah Sururi, realitas yang ada bahwa kesejahteraan belum berpengaruh besar kepada wong cilik.
Menurutnya, sumber utama ketidakadilan kepada rakyat kecil adalah korupsi semakin membudaya baik oleh pejabat maupun warganya yang disebabkan penegagakan hukum yang kurang tegas dan pendidikan (keteladanan) anti korupsi kurang dilakukan.
“Korupsi terjadi itu karena tidak ada akal budi yang baik yang menyebabkan alokasi keuangan negara tidak tepat sasaran sehingga kesejahteraan masyarakat mengalami perlambatan,” ujarnya.
Sedang Muh Rohmat, Ketua RT 06, menyampaikan terima kasih banyak atas kerja sama remaja dan semua warga atas lancarnya tirakatan, baik dukungan tenaga maupun materi yang semoga menjadi amal hasanah.
“Tirakatan ini akan menambah rukun dan bisa dimanfaatkan untuk merenungkan dan meneladani apa yang telah dilakukan pahlawan yang tanpa pamrih serta refleksi kondisi bangsa terkini,” ujarnya. (Ani Maskanah, guru MI Miftahul ‘Ulum Jambeyan)










































