Layang Bandang, Naskah Kritik Sosial Budaya Milenial Garapan SMK Duta Karya Kudus

0
448
Pementasan Teater Apotek di Gedung Serbaguna SMK Duta Karya Kudus, Ahad (15/05/22) / SN

KUDUS, Suaranahdliyin.com – SMK Duta Karya Kudus kembali membuat gebrakan dalam bidang kesenian dan sastra. Melalui wadah Teater Apotek-nya, mereka memproduksi sebuah naskah yang diadaptasi dari novel terkenal “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan.

Naskah berjudul “Layang Bandang” itu ditulis secara kolektif oleh para pelajar sekaligus aktor dalam pementasan yang berlangsung di Gedung Serba Guna, SMK Duta Karya Kudus, Sabtu-Senin (14-16/5/2022).

Naskah Layang Bandang bercerita tentang konflik sosial antar generasi perihal budaya. Dalam pementasan itu diperlihatkan pula kenyataan getir perihal hilangnya tata krama sebab banyak generasi muda mulai abai dengan budaya leluhurnya. Bahkan ditengah musibah dan bencana, banyak yang tak segan untuk tetap bertindak amoral dan menuruti hawa (keinginan yang membabi buta).

Di akhir cerita, mereka memunculkan harapan hidup yang lebih baik pada generasi selanjutnya. Seorang wanita renta mendekati anak yang menangis tersedu menerima kehidupan getir sebab laku “kakak-kakaknya”. Wanita tua itu lalu mengajarinya dengan perantara macapat. Ia ingin agar anak tersebut tidak lupa untuk membaca dan mendalami laku para pendahulu agar selamat.

Wahana Eksplorasi

Sutradara, Muchammad Zaini (Jesy), menuturkan naskah ini cukup relevan dipentaskan meski ditulis oleh adik-adik pelajar sebagai program extrakurikuler Teater. Menurutnya ini merupakan wahana eksplorasi sekaligus laboratorium bagi mereka.

“Mereka bisa melihat bagaimana melihat masalah-masalah kebudayaan, sosial, dan ekonomi hari ini. Bagaimana pula bencana bisa terjadi dilihat dari kacamata yang lain. Ya memang ini tujuan adanya Teater Apotek, sebagai sarana eksploratorium,” tandasnya.

Ia juga menambahkan, bahwa sudah seyogyanya para guru atau generasi tua mengapresiasi keberanian serta memberi ruang para pelajar untuk bersenang-senang sekaligus mengutarakan gagasan dengan pementasan naskah yang digarap secara kolektif.

“Kita seringkali lupa melihat proses seluruhnya. Dengan memberi ruang dan mengapresiasi keberanian adik-adik pelajar,  kedisiplinan mereka mulai tumbuh, tanggung jawabnya mulai tumbuh, kerja samanya mulai tumbuh sehingga mereka lebih kritis terhadap banyak hal. Dan pentas ini sebagai salah satu bukti adanya itu,” paparnya. (Apotek/rid)

Comments