KH Abdul Hamid: Jadilah Orang Penting yang Mementingkan Orang Lain

0
333
Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah (Madin) Tahfidzul Quran, Suruhan, Karangjati, Wonosegoro belum lama ini

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Jika seseorang diberi taufik (pertolongan) Allah, maka ia akan dikasih kemampuan taat dan dimudahkan melakukan kebaikan. Kalau tidak mendapat pertolonganNya, misalnya mendengar azan Shubuh, rasanya enggan bangun.

KH Abdul Hamid, pengasuh ponpes An-Najah, Dawar, Mojosongo, Boyolali mengutarakan hal itu dalam pengajian Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah (Madin) Tahfidzul Quran, Suruhan, Karangjati, Wonosegoro, Ahad (20/3/2022) malam lalu.

“Termasuk mengapa kita senang bersedekah dan berangkat pengajian ini? Itu, karena diberi taufik. Semoga kita diberi taufik Allah sampai akhir hayat,” tuturnya.

KH Abdul Hamid menyampaikan, bahwa dunia atau harta benda itu memang penting, tapi ada yang lebih penting, yaitu kehidupan akhirat. “Jangan sampai kita nanti di akhirat menyesal karena kurang beribadah, pelit bersedekah, dan lalai beramal saleh lainnya,” katanya.

Maka, agar tidak menyesal nantinya, diharapkan kita menjadi orang yang bermanfaat dengan menjadi orang penting. Yaitu orang yang mementingkan orang lain atau mementingkan kepentingan umum demi menolong sesama.

Kemudian dia menyoroti suburnya jiwa-jiwa yang materialis (menilai sesuatu semata berdasar materi), egois (mementingkan diri sendiri), kapitalis (pemodal besar yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya), dan kanibalis (“manusia memakan manusia”). Sehingga, dia meminta supaya sejak dini anak-anak dibimbing mencari ilmu, karena ilmu adalah tiangnya iman. Tidak kalah pentingnya, juga  menanamkan akhlak mulia agar terhindar dari sifat-sifat buruk itu.

“Anak-anak harus ditanamkan akhlak mulia seperti tawaduk (rendah hati, patuh) dan menyayangi sesama manusia. Kemudian diberi nasihat yang baik supaya menjadi karakter yang menyatu dalam jiwa dan buahnya nanti adalah keutamaan dan kebaikan,” jelasnya.

Selanjutnya mengingatkan agar kita jangan meremehkan kebaikan walau kecil, misalnya meyingkirkan duri di jalan. “Suatu saat saya diajak kiai saya membersihkan selokan, dan beliau langsung terjun sendiri mengambil sampah di selokan itu, yang secara langsung memberi contoh kepada saya,” kisahnya.

“Saya ingat, dulu ketika Simbah KH Mahrus Aly ikut menggelar tikar pada persiapan suatu acara di pondok,” kenangnya pula atas ketawadukan dan teladan ulama kharismatik dari Lirboyo, Kediri, tersebut.

Sementara dalam menyambut Ramadan, KH Abdul Hamid mendorong untuk memperbanyak amal kebaikan seperti puasa dan sedekah, sebagai “pemanasan”.

“Sedekah itu kebiasaan. Punyanya ketela dikasihkan ketela. Punyanya roti dikasihkan roti. Nanti begitu Ramadan tiba kita akan panen kebaikan karena sudah latihan di bulan Sya’ban,” terangnya.

Sedang Camat Wonosegoro, Sujiyo, dalam sambutannya mengapresiasi atas pembelajaran keagamaan di Madin Tahfidzul Qur’an. “Dengan anak-anak yang dibekali ilmu agama, diharapkan akan menjadi landasan mereka dalam ikut membangun Indonesia yang lebih maju lagi,” katanya.

Jamaah menghadiri pengajian dalam rangka Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah (Madin) Tahfidzul Quran, Suruhan, Karangjati, Wonosegoro
Jamaah menghadiri pengajian dalam rangka Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah (Madin) Tahfidzul Quran, Suruhan, Karangjati, Wonosegoro, Boyolali

Sebelum acara puncak Haflah Akhirussanah Madin yang diinisiasi Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda (GP) Ansor Karangjati ini, sebagaimana dijelaskan Sholihin, Kepala Madin, telah dilangsungkan rangkaian kegiatan.

Beragam kegiatan itu antara lain ujian akhir semester genap, lomba keagamaan dan ketangkasan, serta khatmil Quran sekaligus mendoakan leluhur dalam bingkai sadran. (siswanto ar/ ros, adb)

Comments