Ketua Lesbumi Kudus Abud SB sedang berorasi budaya dalam. Acara Puja Doa Kretek, Sabtu malam

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus Abud SB menyampaikan orasi budaya dalam acara Puja Doa Kretek yang digelar di depan Monumen Kretek Indonesia Taman Oasis Kudus, Sabtu (3/10/2026) malam. Pada kesempatan itu, ia meminta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia segera menetapkan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WTB).

Abud mengungkapkan menempatkan kretek tidak semata-mata sebagai produk ekonomi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan sejarah, kreativitas, pengetahuan, dan kebudayaan masyarakat Kudus. Menurutnya, pengakuan sebagai WBTB menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga ingatan kolektif dan pengetahuan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

“Pengusulan WBTB ini adalah ikhtiar agar warisan tersebut tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi dapat dirawat dan dipelajari oleh generasi mendatang,”ujar Abud dalam orasinya.

Panitia penyelenggara, Purwono Nugroho, menyampaikan bahwa Puja Doa Kretek digelar sebagai bentuk penghormatan dan peringatan atas perjalanan panjang kretek dalam menopang kehidupan masyarakat, khususnya warga Kudus dan masyarakat Indonesia secara lebih luas. Dikatakan, kretek memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.

“Kami berharap ikhtiar pengusulan kretek sebagai Warisan Budaya Tak Benda segera mendapatkan pengesahan dari Kementerian Kebudayaan RI,” kata Purwono.

Usai orasi kebudayaan dilanjutkan penyalaan obor dan teatrikal yang menjadi penutup rangkaian acara sekaligus simbol harapan agar sejarah dan pengetahuan tentang kretek tetap menyala dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di hadapan Monumen Kretek Indonesia, para peserta menghidupkan kembali kesadaran bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang dikenang, tetapi juga perlu dirawat, dikaji, dan diwariskan.

Bagi masyarakat Kudus, harapan atas penetapan kretek sebagai WBTB tidak semata-mata berkaitan dengan pengakuan formal. Lebih jauh, hal tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat dokumentasi sejarah, menjaga pengetahuan budaya, serta memberi ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk memahami perjalanan kretek sebagai bagian dari sejarah masyarakat dan kebudayaan Nusantara.

Melalui Puja Doa Kretek, masyarakat kembali diingatkan bahwa warisan budaya adalah titipan lintas generasi: diterima dari masa lalu, dirawat pada hari ini, dan kelak diwariskan kepada masa depan.(lis/adb)

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here