
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Lesbumi Writers Festival (LWF) ke-2 akan digelar dengan konsep yang berbeda. Jika edisi pertama menelusuri jejak sastra pesisir, tahun ini Lesbumi Kudus mengangkat tema yang lebih reflektif: Antroposantri.
Tema tersebut secara resmi diperkenalkan dalam Soft Launching LWF ke-2 yang digelar di Gedung NU Center, Kudus, Sabtu (17/10/2026) malam. Kegiatan dihadiri pengurus Lesbumi, pegiat literasi, seniman, serta perwakilan pengurus Badan Otonom NU serta lembaga.
Ketua Lesbumi Kudus, Abu Hasan Asy’ari (Abud), menjelaskan bahwa Antroposantri dipilih sebagai upaya membaca ulang manusia melalui lensa kesantrian. Bukan sekadar melihat santri sebagai subjek agama, tetapi sebagai manusia seutuhnya yang hidup dalam pergulatan budaya, ekologi, dan perubahan zaman.
“Selama ini santri sering dibaca secara doktriner. Melalui Antroposantri, kami ingin mengembalikan manusia ke pusat pembacaan. Bagaimana santri bergulat dengan tanahnya, dengan tubuhnya, dengan ingatannya, dan dengan krisis hari ini,” ujar Abud.
Menurutnya, Antroposantri adalah gabungan dari antropologi dan kesantrian. Ia adalah cara untuk memahami laku, tradisi, dan pengetahuan pesantren sebagai pengetahuan hidup, bukan artefak masa lalu.
Berbeda dengan tahun lalu, LWF ke-2 tidak hanya akan berisi panggung sastra dan peluncuran buku. Festival tahun ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara riset etnografis, karya seni, dan perjumpaan komunitas.
Sejumlah rangkaian program telah disiapkan, mulai dari inkubasi penulis muda di pesantren dan madrasah, pameran arsip dan kultur visual santri, pertunjukan seni, hingga forum penulisan yang mempertemukan penulis muda dengan kiai kampung dan penjaga tradisi.
“Kami ingin tulisan tidak lahir dari menara gading. Ia harus lahir dari dapur pesantren, dari sawah, dari langgar-langgar kecil. Di sanalah pengetahuan santri yang sebenarnya hidup,” kata Abud.
Lesbumi Kudus berharap, melalui LWF ke-2, lahir narasi-narasi baru tentang manusia Indonesia yang berakar pada tradisi pesantren, namun mampu menjawab tantangan zaman, mulai dari krisis ekologi, disrupsi digital, hingga perebutan wacana kebudayaan.
Rangkaian acara Lesbumi Writers Festival ke-2 itu dijadwalkan akan digelar mulai Oktober 2026 di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Kudus. Sementara itu sebagai acara puncak akan digelar pada 2027 mendatang. .(rid/adb




































