Jokowi: Dunia yang Serbabaru Tuntut Cara-cara Baru yang Kreatif

0
276
Presiden RI, H Joko Widodo (Jokowi)/ Foto: istimewa

BALIKPAPAN, Suaranahdliyin.com – Presiden RI, H Joko Widodo (Jokowi), saat menghadiri pengukuhan pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2022-2027 yang dirangkai dengan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-96 Nahdlatul Ulama (NU), menyampaikab, bahwa situasi dunia yang serbabaru, menuntut hadirnya cara-cara baru yang kreatif.

Orang pertama di republik ini, mengutarakan, perubahan yang cepat akibat revolusi industri dan juga pandemi, menuntut cara-cara baru yang inovatif. Modernisasi, digitalisasi, dan otomasi tak mungkin lagi bisa dihindari.

“Saya membayangkan beberapa waktu ke depan, NU memiliki database jamaah yang lengkap dan canggih, dengan bantuan teknologi digital. Sangat mungkin. Memakai blockchain, memakai artificial intelligence, menggunakan machine learning dan lainnya. Sangat memungkinkan, karena NU memiliki SDM-SDM yang sangat baik dan mengerti mengenai ini,” tuturnya.

Lebih lanjut Jokowi, mengemukakan, bahwa NU mempunyai marketplace yang andal, tempat produsen dan konsumen NU bertransaksi secara praktis, dan memasukkan produk-produk unggulan warga NU dalam rantai pasok global. Itu juga  dinilai sangat memungkinkan.

“Saya membayangkan ini dalam waktu segera, NU mempunyai platform edutech yang juga mempunyai platform learning management system andal, yang memfasilitasi jutaan santri untuk mengaji dari semua kiai-kiai besar, ilmuwan, teknolog, dan entrepreneur di manapun dan kapanpun secara mudah dan murah,” ungkapnya.

Sang Presiden pun mengaku kenal seseorang yang kerja di Singapura sudah lama, dan ia mengenalnya tujuh tahun lalu. “Namanya Mas Ainun Najib. (Kader) NU. Tapi di sana gajinya sangat tinggi. Jadi kalau diajak ke sini, harus bisa menggaji lebih gede dari yang di Singapura. Ini tugasnya Pak Kiai. Kalau beliau yang ngendika, digaji berapa pun, bismillah, pasti mau,” paparnya.

Disebutkannya, perlu memberi ruang yang lebih besar kepada warga NU dari generasi milenial, generasi Gen-Z, untuk tampil dan mengambil peran sentral dalam perkembangan Indonesia yang baru. Kaum muda NU yang aktif di creative industry, di fashion designer, di graphic designer dan lain-lain. Kaum muda NU yang IT specialist, programmer, IT security expert, web developer dan lain-lain, banyak sekali. Ini harus diambil dan dimanfaatkan. Kelompok muda profesional NU yang bekerja di korporasi, bekerja di startup global atau konsultan-konsultan global, banyak sekali. Perlu punya naungan dan wadah yang kuat di PBNU.

“Untuk mendukung inovasi-inovasi itu, NU perlu mempunyai sentra-sentra inkubator inovasi yang sangat efektif. Harus mempunyai venture capital sendiri, modal ventura sendiri yang kuat dengan membangun dana abadi, yang nantinya mempunyai Sovereign Wealth Fund, sehingga NU mempunyai kekuatan dalam membiayai program-program unggulan dan program-program inovatif,” pesannya.

Oleh sebab itu, terang Presiden, pihaknya menyampaikan saat muktamar, pemerintah siap memberikan konsesi yang besar tapi secara profesional sesegera mungkin. “Saya sudah siapkan. Enggak mungkin memberikan ke NU yang kecil-kecil. Saya pastikan yang gede, sudah, insyaallah yang gede,” tegasnya.

Disebutnya, itu semua sekaligus akan menjadi bagian untuk semakin memperkokoh kemandirian dan kewirausahaan sosial di NU. Dan menjadi bagian penting dari kebijakan transformasi yang sedang dilakukan pemerintah, terutama transformasi hijau yang berkelanjutan dan inklusif, transformasi digital ekonomi, serta peningkatan kelas UMKM kita.

“Dengan dukungan PBNU, para aktivis NU bisa semakin giat mengisi forum-forum dunia di berbagai bidang, baik di bidang keagamaan, sosial, kemanusiaan, maupun bidang ekonomi, kewirausahaan, serta pengembangan ilmu dan pengetahuan,” tambahnya.

Presiden pun berharap, oendirian masjid dan madrasah NU di sejumlah negara, bisa ditambah lagi. “NU juga perlu mempunyai beberapa universitas dan rumah sakit cabang luar negeri. Mengirim lebih banyak lagi juru dakwah hebat di berbagai negara. Menawarkan perdamaian, toleransi, dan persatuan,” katanya. (ros/ adb, rid)

Comments