Kilas Balik MIP IV PWNU Jawa Tengah 2026 (Bagian - 3)
Ilmuwan NU Didorong Kolaborasi Riset untuk Perkuat Kemandirian Jamiyyah dan Kemaslahatan Umat

0
39
Salah satu sesi dalam Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV PWNU Jateng 2026

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Muktamar Ilmu Pengetahuan (MIP) IV yang berlangsung di Aula Lantai IV Gedung Perpustakaan UIN Sunan Kudus, Jumat (26/6/2026), menjadi ruang konsolidasi para ilmuwan Nahdlatul Ulama (NU) dalam merumuskan kontribusi nyata ilmu pengetahuan bagi kemajuan jam’iyyah dan kemaslahatan jamaah.

Mengusung tema “Kontribusi Ilmuwan terhadap Jamiyyah dan Jamaah Nahdlatul Ulama”, forum ini menghadirkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Sebelas Maret (UNS), serta berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maupun perguruan tinggi umum di Indonesia.

Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, Prof Musahadi MAg, menyampaikan, bahwa Muktamar Ilmu Pengetahuan merupakan forum yang terus berkembang sejak pertama kali diselenggarakan. Jika muktamar pertama berfokus pada komunikasi antarsarjana NU, tema-tema berikutnya semakin mengerucut pada penguatan peran ilmu pengetahuan dalam membangun masyarakat sipil hingga kemandirian organisasi.

“Di tengah berbagai dinamika yang dihadapi NU, forum ini tetap mampu terselenggara dengan baik. Ini menunjukkan bahwa semangat intelektual NU terus hidup. Ilmuwan menjadi penanda sekaligus peneduh karena orientasi utamanya adalah kemaslahatan,” katanya.

Dia berharap, Muktamar Ilmu Pengetahuan menjadi ruang berkumpulnya para ilmuwan NU untuk memperkuat spirit kecendekiaan. Menurutnya, pencarian dan penyampaian kebenaran merupakan bagian dari jalan kenabian yang harus terus dijaga oleh kalangan akademisi.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqah, menekankan, ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti pada publikasi akademik, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata di tengah masyarakat.

Dalam penilaiannya, ilmu harus diamalkan sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang ilmuwan. Ia menilai NU telah memiliki banyak guru besar dari berbagai disiplin ilmu, baik sains maupun humaniora.

Tantangan berikutnya adalah membangun laboratorium bersama sebagai ruang kolaborasi lintas bidang tanpa lagi mempertentangkan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum.

Kegiatan sesi khusus ini dipandu oleh Prof. Dr. Ahmad Syakir Kurnia dari Lakpesdam PWNU Jawa Tengah sekaligus akademisi Universitas Diponegoro. Forum ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem keilmuan NU yang semakin kolaboratif dalam menyongsong abad kedua organisasi.

Diskusi kemudian mengangkat pertanyaan mendasar mengenai arah pengembangan ilmu pengetahuan NU memasuki abad kedua. Moderator Prof. Ahmad Syakir Kurnia menyoroti bagaimana selama satu abad NU telah melahirkan ribuan ulama yang menjaga tradisi keislaman. Tantangan berikutnya, yaitu menjadikan NU sebagai rumah besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.

“Pertanyaan besarnya adalah mengapa NU masih merasa tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan, apa penyebabnya, dan siapa yang harus mengambil peran?” paparnya membuka sesi diskusi.

Sedang Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrahman Kasdi, mengangkat tema “Peran Cendekiawan dalam Membangun Peradaban NU”. Ia menjelaskan bahwa tradisi intelektual NU sejak awal berdiri dibangun di atas sanad keilmuan yang kuat.

“NU tidak mengalami patahan pengetahuan, tidak mengalami rantai keilmuan yang hilang. Sanad menjadi kekuatan utama dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual,” ungkapnya.

Pihaknya juga menyoroti perkembangan jaringan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) yang kini tersebar di berbagai daerah sebagai fondasi penting dalam membangun pendidikan tinggi Islam.

Menurutnya, memasuki abad kedua, NU perlu memperluas kiprah pada bidang sains, teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta berbagai disiplin ilmu baru tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama. (ros, adb)

Comments