
SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Uama (PWNU) Jawa Tengah kembali membuka peluang baru bagi lulusan Sekolah Ma`arif untuk meningkatkan skill dan kompetensi serta peluang bekerja di Jepang.
Demikian mengemuka dalam diskusi antara PWNU Jawa Tengah, LP Ma`arif NU Jateng, saat menerima kunjungan rombongan dari ASCare Jepang, Tsubasa Jepang, dan LPK Hajime Sinergi Indonesia yang digelar di Kantor PWNU Jawa Tengah, Selasa (11/08/2026).
Rombomngan di terima oleh Wakil sekretaris PWNU Jawa Tengah Dr. Ghufron Hamzah, Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani beserta jajaran pengurus LP Ma’arif Jateng, dan sejumlah pimpinan LPK mitra LP Ma’arif. Sementara, dari pihak Jepang, hadir dalam kesempatan tersebut, Direktur ASCare Jepang Mr. Iide, Pimpinan Tsubasa Jepang Mr. Yamana, Konsultan Hajime Jepang Mrs. Arisa Oota, serta Pimpinan Hajime Sinergi Indonesia Gufron.
Rapat diawali dengan pemaparan program dari ASCare Jepang. Mr. Iide menyatakan perusahaannya siap menyalurkan tenaga kerja Caregiver ke Jepang dalam jumlah besar.
“Kami tiap tahun menerima lebih dari 1000 tenaga kerja,” ujarnya.
Sementara Hajime juga menyatakan kesiapannya bekerja sama melatih lulusan Ma’arif Jawa Tengah melalui Training Center mereka di Jepang. “Fokus pelatihan adalah untuk bidang Caregiver dan pengolah makanan di Jepang dan program ini kita prioritaskan untuk anak-anak perempuan yang ingin bekerja di Jepang sebagai Caregiver dan pengolah makanan. Bisa diikuti dari lulusan SMK, MA dan SMA,” jelas perwakilan Hajime.
Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani menyambut baik inisiatif kerja sama tersebut. Ia menyebut LP Ma’arif Jateng memiliki jaringan besar dengan 290 SMK, 65 SMA, 380 MA, dan 1 MAK.
“Setiap tahun kurang lebih ada 30.000 lulusan. Maka dengan adanya program ini, semoga bisa menampung lulusan kami yang memang memiliki minat dan keinginan untuk berkarya di Jepang,” ungkapnya.
Fakhruddin menambahkan, LP Ma’arif Jateng sebelumnya telah bekerja sama dengan IM Japan untuk program magang Jepang. Dari program itu tercatat hampir 1000 peserta telah mengikuti seleksi nasional, namun semuanya laki-laki.
“Oleh karena itu dengan kehadiran AsCare dan tim ini bisa menjadi jawaban untuk membuka kesempatan bagi anak-anak perempuan yang juga ingin ke Jepang,” pungkasnya.
Audiensi ini menjadi langkah awal sinergi antara lembaga pendidikan NU dan industri Jepang untuk mencetak SDM yang kompeten, berdaya saing, dan mampu bekerja di luar negeri, khususnya di sektor perawatan lansia dan pengolahan makanan.(rls/adb)










































