
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Keluarga besar Alumni Madrasah Ibtidaul Falah Samirejo (Al-Ibtisam) menyelenggarakan pengajian umum dalam rangka Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Momentum tersebut dirangkai dengan Pelantikan Pengurus Al-Ibtisam dan Hari Lahir (Harlah) ke-94 Madrasah di halaman Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MI NU) Ibtidaul Falah Samirejo, Dawe, Kudus.
Pengurus Yayasan Madrasah Ibtidaul Falah, K. Ahmad Thoha melantik seluruh pengurus Al-Ibtisam masa khidmah 2025/2030 pada Kamis malam (15/1/2026). Pelantikan berlangsung tertib disaksikan seluruh masyarakat umum, segenap alumni, dan jajaran pengurus yayasan dan madrasah NU Ibtidaul Falah.
Ketua Yayasan, H. Maskuri mengharapkan eksistensi kepengurusan Al-Ibtisam bisa membawa madrasah semakin maju dalam segala bidang, baik pendidikan maupun pembangunan. “Semoga Bapak/Ibu Guru semakin cerdas, serta anak didiknya menjadi insan yang bermanfaat berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.”harapnya.
Hal ini senada dengan pendapat dai kondang asal Bojonegoro Jatim, KH. Anwar Zahid yang hadir menyampaikan mauidhah hasanah. “Faktor sukses dan besarnya sebuah lembaga, terlebih lembaga pendidikan, sangat ditentukan oleh peran sentral para alumninya.”katanya.
Abah Anza -sapaan akrab KH. Anwar Zahid- mencontohkan suksesnya dakwah para wali (auliya) dan ulama dalam menyebarkan Islam. “Para wali menggunakan tiga strategi dakwah yang luar biasa jitu.”ujarnya.

Abah Anza menjelaskan, strategi pertama ialah bil hikmati wal mau’idhatil hasanah. Islam tidak pernah menyebarkan ajaran dengan cara kekerasan, peperangan, dan tanpa paksaan.
“Fa bima rahmatim minallahi linta lahum, berlemah lembutlah kamu dalam mensyiarkan dan menjalankan agama. Walau kunta fadhdhan ghalidhal qalbi lanfadldlu min haulik, jika kamu bersikap keras dan berhati kasar, maka mereka justru lari menghindar darimu,” terangnya.
Strategi kedua, lanjutnya, dengan uswatun hasanah atau keteladanan yang prima. Dakwah dapat dilakukan melalui metode dakwah bil hal (Dakwah dengan memberi contoh perilaku). “Lisanul hal afshahu min lisanil maqal, bahasa sikap itu lebih mujarab daripada sekedar bahasa ucapan,” jelas Abah Anza.
Ketiga, melalui akulturasi budaya, yakni memadukan antara agama dengan budaya. Abah Anza menegaskan, “Ini agama, ini budaya, ini syariat ini adab, ini Islami ini tradisi. Jadi tidak dipertentangkan. Tapi dipadukan dengan aturan yang benar. Budaya yang mengikuti agama tidak agama yang mengikuti budaya,” tandasnya.
Abah Anza menuturkan, hal ini penting diperhatikan bagi yang memperjuangkan agama termasuk para pengurus Al-Ibtisam. Jika ingin sukses dalam berjuang serta berkhidmah, harus memperhatikan kiat-kiat sukses dakwahnya para auliya dan ulama dalam mensyiarkan Islam. Dengan mencontoh dan meneladani Rasulullah saw.
“Semoga pengurus Al-Ibtisam dapat khidmah secara maksimal untuk terus mensyiarkan agama di lingkup Ibtidaul Falah. Ini merupakan jariyah serta bentuk khidmah dan perjuangan para pengurus,” pesan Abah Anza kepada pengurus Al-Ibtisam yang telah dilantik.
[Alya Zykratul Rahma, Mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Prodi KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus]






































