Dibedah, Buku “Sekolah Harmoni” Karya Prof Syamsul

0
132

 

Prof Syamsul saat menyampaikan paparan terkait buku karyanya

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat UIN Walisongo menggelar bedah buku “Sekolah Harmoni: Restorasi Pendidikan Moderasi Pesantren” karya Ketua Forum Koordinasi dan Pencegahan Teorisme (FKPT) Jateng, Prof Dr KH Syamsul Ma’arif M.Ag, Ahad (18/4/2021).

Bedah buku yang dilangsungkan melalui moda daring dan luring, ini menghadirkan Wakil Wali Kota Semarang Ir Hj Hevearita Gunaryanti Rahayu M.Sos sebagai keynote speaker. Sebagai pembedah, Ketua Umum MUI Kota Semarang Prof Dr KH Moh Erfan Soebahar MAg, Satgas Penanggulangan FTF Densus 88 AT Polri Kombes Dr Didik Novi Rahmanto S.IK MH dan Wakkil Ketua I STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda.

Prof Syamsul dalam paparannya, menyampaikan, bahwa gerakan radikalisme di Indonesia sangat kuat. Maka dibutuhkan strategi dalam membendung maupun mencegahnya. “Gerakan ekstremisme telah berkecambah di semua lini kehidupan, dan menyasar semua kelompok masyarakat. Bahkan sekarang fakta membuktikan adanya gerakan-gerakan ekstremisme dan radikalisme masuk di sekolah,” terangnya.

Guru besar UIN Walisongo itu pun menyebut terorisme sebagai extra ordinary crime (kejahatan luar biasa), kejahatan kemanusiaan, dan kejahatan lintas negara yang bermotif ideologi dan politik, yang sangat jauh dari nilai-nilai agama manapun.

“Masyarakat, termasuk generasi muda banyak yang terpesona dengan propaganda mereka, sehingga akhirnya masuk dalam pusaran ekstremisme, serta terjerumus pada tindakan-tindakan tidak beradab dan inkonstitusional,” ungkapnya prihatin.

Prof Erfan Soebahar, mengemukakan, bahwa secara substansi Islam adalah agama damai, penuh rahmat (rahmatal lillalamin). Ia pun merekomendasikan buku Sekolah Harmoni ini dibaca oleh publik secara luas.

“Saya mengenal Prof Syamsul ini memang orangnya banyak menulis, dan banyak bicara sejak menjadi mahasiswa. Isi buku ini sangat menarik dan mendalam,” paparnya.

Kombes Didik Novi Rahmanto, mengutarakan, buku karya Prof Syamsul ini sangat bermanfaat bagi generasi muda, tak terkecuali kader PMII. “Buku ini menambah informasi dan data bagi kami khususnya bagi Densus 88 AT Polri,” katanya.

Sedang Hamidulloh Ibda menyoroti fenomena kehancuran suatu bangsa dari perspektif al-Quran maupun teori Prof Thomas Lickona, yang menjelaskan ada 10 tanda kehancuran suatu bangsa. “Salah satu bentuk kehancuran itu adalah kekerasan. Ada lima poin tanda-tanda menurut Prof Thomas Lickona, yang itu mengarah kepada radikalisme dan terorisme,” paparnya.

Dia pun memberikan tawaran, supaya konsep pendidikan moderasi pesantren lebih mengarah pada local knowledge, local genius dan local wisdom. “Selain itu, perlu ada penguatan dari sisi kompetensi, karakter, literasi, dan juga ideologi,”
jelasnya. (ibd/ rid, ros, adb)

Comments