Jejak Ulama
KH. Noor Hadi, Kiai yang Sederhana dan Santun

0
467

Jalan KH. Noor Hadi di Kabupaten Kudus, terletak di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, dengan panjang kurang lebih satu kilometer. Nama jalan itu dibuat untuk mengenang jasa seorang Kiai kharismatik di Kudus ini, yaitu KH. Noor Hadi.

Kiai Noor Hadi lahir sekitar tahun 1297 Hijriyah atau 1880 Masehi. Ia adalah putra ketiga dari empat bersaudara, secara berurutan yaitu Nafi’ah, Mufid, Noor Hadi, dan Busyiri. Ayahnya bernama KH. Muhammad Mesir.

Nama “Mesir” yang melekat pada nama ayahnya, adalah julukan yang diberikan masyarakat setelah ia pergi haji. Karena setelah ia pergi haji, singgah beberapa tahun di Mesir untuk memperdalam ilmu agama.

Menuntut ilmu

Pada masa mudanya, Noor Hadi menimba ilmu di berbagai tempat, di antaranya yang disebut jelas secara jelas dalam catatan-catatan (ijazah Ilmu) yang ditinggalkannya adalah Cirebon dan Banten, dua kota di tanah air yang hingga kini dikenal dengan ilmu kanuragannya, sehingga tak dimungkiri jika Noor Hadi dikenal sebagai kiai dengan ilmu kanuragannya yang sangat terkenal di masa itu.

Di Banten, ia berguru kepada Sulthan Banten, di mana salah satu yang diajarkan adalah ilmu seluk beluk tentang keris. Pengetahuan tentang keris ini masih ia catat, dan catatan itu masih ada sampai sekarang, walaupun telah usung, namun masih utuh dan dapat dibaca.

Sedang ilmu-ilmu agama seperti al-Quran, Hadis, Fikih, Tauhid, dan lainnya, ia pelajari langsung dengan ayahandanya, Mbah Mesir, yang sanad ilmunya langsung sampai pada Syaichona Kholil Bangkalan, Madura.

Selain kepada ayahnya, Noor Hadi muda juga belajar ilmu agama kepada KH. Raden Asnawi. Kiai Noor Hadi bersama kiai-kiai dan masyarakat luas, sering hadir untuk mengikuti pengajian yang diasuh salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Kiai yang Waskito

Pada gilirannya, Noor Hadi tampil sebagai tokoh agama terkemuka di Kabupaten Kudus pada masanya. Bahkan ia dikenal sebagai kiai yang waskito, yakni weruh sedurunge winarak (mengetahui sesuatu tanpa melihat langsung dan mampu menebak sesuatu yang bakal terjadi).

Di antara penanda bahwa Kiai Noor Hadi adalah seorang waskito, yakni:

  1. Kiai Noor Hadi pernah menebak anak kecil yang bernama Ma’ruf putra Asnawi akan menjadi seorang Kiai. Kejadian itu bermula ketika Asnawi beserta putra-putranya silaturahim ke rumah Kiai Noor Hadi. Saat itu Asnawi meminta doa agar anaknya yang sedang menuntut ilmu di pesantren, kelak akan menjadi Kiai. Kiai Noor Hadi berkata: “Ya, saya akan mendoakan anakmu menjadi kiai, tetapi bukan yang sedang belajar di pesantren, melainkan yang akan menjadi kiai adalah anak itu,” katanya sembari menunjuk Ma’ruf yang ketika itu masih anak-anak.
  2. Menjelang Shubuh Kiai Noor Hadi sering mandi di sungai (kali) yang berada di samping rumahnya; Setiap kali ke sungai, ia pasti mengajak salah satu santrinya. Pada saat ia mandi, santri disuruh untuk memegang pakaiannya dan berpesan agar tidak meletakkan pakaiannya di tanah. Anehnya, setiap kali pakaian diletakkan ke tanah, pasti Kiai Noor Hadi mengetahui hal itu. Padahal pada saat itu suasana kali sangat gelap, dan ketika menenggelamkan badannya termasuk kepalanya di kaligelis yang dalam, kiai menyuruh santrinya mengambil baju ganti dari rumah.
  3. Sambil menunggu Kiai Noor Hadi menyelesaikan wirid setelah salat subuh, santri yang akan mengaji al-Quran terlebih dahulu diwajibkan nderes bacaan yang akan dibaca di hadapan Kiai. Santri yang tidak nderes, pasti diketahui Kiai Noor Hadi, sehingga tidak akan dilayani jika tidak nderes terlebih dahulu.
  4. Saat musyawarah (pertemuan) para kiai di Kudus, hadir juga saat itu KH. Raden Asnawi, ternyata ada penyusup yang menyampur racun ke dalam minuman para kiai. Setelah dihidangkan, Kiai Noor Hadi melarang meminum air yang telah dihidangkan Air minum kemudian diambil oleh Kiai Noor Hadi, kemudian dibacakan doa, sehingga timbul reaksi yang menunjukan air tersebut ada racunnya. Akhirnya minuman pun dibuang.

Kiai Kanuragan

Peristiwa huru hara yang terjadi pada tahun 1918 M / 1337 H antara kaum muslim dan orang Cina, menyebabkan para kiai dijebloskan ke penjara oleh Belanda, antara lain KH. Raden Asnawi, KH. Noor Hadi, KH. Mufid, KH. Sofwan Duri dan lainnya.

Pada saat penangkapan, Kiai Nor Hadi selalu luput dari sergapan, padahal sebenarnya beliau sedang di rumah. Karena pada saat itu penjajah tidak dapat melihat keberadaan Kiai Noor Hadi meskipun di depannya. Akhirnya istrinya ditangkap sebagai sandra, sehingga untuk menyelamatkan istrinya, Kiai Noor Hadi pun menyerahkan diri kepada penjajah.

Pada saat dipenjara, Kiai Noor Hadi diperlakukan istimewa, bahkan di sata-saat tertentu diperbolehkan pulang untuk mengajar santrinya. Konon, perlakuan istimewa ini iadapatkan, karena pada saat itu salah satu anak dari pejabat Belanda sakit, dan dengan Izin Allah boisa yang disembuhkan oleh Kiai Noor Hadi.

Sumber lain menyebutkan, Kiai Noor Hadi dapat mengajar santrinya ketika sedang di penjara, karena keunggulan kanuragannya, sehingga ketika dia berada di penjara, namun pada saat bersamaan juga ada di rumah.

Dikisahkan pula, bahwa saat di penjara Kiai Noor Hadi juga pernah ditantang salah satu berandal untuk adu ilmu kanuragan. Berandal tersebut berhasil membengkokan besi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa yang tidak memiliki ilmu kanuragan.

Melihat hal itu Kiai Noor Hadi berkata : kalau saya membengkokkan besi tidak bisa, tapi kalau meluruskan besi yang bengkok saya bisa sambil memegang besi tersebut dan meluruskan seperti semula.

Pesan untuk Santrinya

Sementara itu, Kiai Noor Hadi selalu mengajarkan dan berpesan kepada para muridnya untuk selalu bersikap sederhana, santun dan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Ia melarang santrinya berlaku sombong dan mengerjakan hal yang tidak ada gunanya. Di antara pesan yang selalu diingat muridnya yaitu: “Aja melikan, aja njalukan, aja ngarah. Ngalah, luhur wekasane”.

Muhammad Najihul Marom,

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Islam (Prodi KPI) IAIN Kudus.

Comments