Di Forum Munas PBNU, PCNU Kudus Usulkan Tujuh Poin Strategis

0
40
Sharing ide untuk menggali usulan dan rekomendasi

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Memasuki abad II berdasarkan kalender hijriah/masehi, Nahdlatul Ulama (NU) dihadapkan pada tantangan peradaban dunia yang kian kompleks, dinamis, dan berbasis digital.

Namun bagi NU, modernitas bukanlah sebuah pemutusan hubungan dengan masa lalu, melainkan sebuah manifestasi luhur dari kaidah fundamental, yakni Al-muhafadhatu ‘ala-l-qadimi-s-shalih wa-l-akhdu bi-l-jadidi-l-aslah (Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Oleh karena itu, PCNU Kudus setelah mendapatkan berbagai masukan dan usulan dari berbagai pihak warga NU Kudus, melalui PWNU Jawa Tengah, menegaskan, bahwa seluruh upaya transformasi manajemen dan tata kelola organisasi modern yang diusulkan in, perlu berdiri tegak di atas fondasi kokoh Tradisi Pesantren, Sanad Keilmuan Ulama, dan prinsip-prinsip dasar Khittah NU 1926.

Modernisasi birokrasi dan digitalisasi di tubuh NU bukan untuk mensekulerkan organisasi, melainkan sebagai wasilah (sarana/alat) agar cita-cita luhur para Muassis (pendiri) NU dapat membumi, berdaya saing global, dan mampu menjawab tantangan zaman secara presisi di milenium kedua.

PCNU Kudus pun melayangkan tujuh poin rekomendasi strategis tata kelola organisasi sosial keagamaan modern. Pertama, standardisasi dan regulasi Mekanisme BUMNU (Badan Usaha Milik NU).

Kedua, ketegasan regulasi rangkap jabatan (internal dan eksternal). Ketiga, implementasi Sistem Informasi Manajemen Aset NU (SIMAS-NU). Keempat, rekonstruksi Khittah NU sebagai Kekuatan Civil Society (Kontrol Pemerintah).

Kelima, akurasi struktur: legalitas lembaga khas daerah (Agile Clause). Keenam, unifikasi dan keselarasan linier struktur organisasi. Ketujuh, reformasi sistem pemilihan ketua umum (Tanfidziyah) Berbasis Merit System.

“Usulan yang disusun oleh PCNU Kudus ini, merupakan manifestasi rasa cinta dan tanggung jawab kami demi menjaga marwah Jam’iyah NU agar tetap kokoh memegang tradisi luhur, murni dalam Khittah 1926, namun sekaligus berwibawa, profesional, dan digdaya dalam memimpin peradaban di Milenium Kedua,” terang Ketua PCNU Kudus, H Asyrofi Masyitho melalui sekretaris PCNU, H Nur Said. (rls/ ros, rid, adb, gie)

Comments