Angkat Aktualisasi Ekoteologi dalam Tugas Akhir KKP, Rektor UIN Sunan Kudus Lulus Diklat P3N Lemhannas RI

0
53
Prof. Abdurrahman Kasdi menerima ucapan selamat dari Gubernur Lemhanas RI  Ace Hasan Syadzily,

JAKARTA, Suaranahdkiyin.com – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., resmi dinyatakan lulus dalam program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVII Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Jakarta belum lama ini. Kelulusan tersebut sekaligus menegaskan kiprah Prof. Dur sebagai akademisi sekaligus pemimpin perguruan tinggi yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu strategis kebangsaan, khususnya persoalan lingkungan hidup dan perubahan iklim global melalui pendekatan ekoteologi lintas agama.

Pada kesempatan itu, Prof. Abdurrohman Kasdi menyusun tugas Kertas Kerja Perorangan dengan mengangkat tema mengenai “Aktualisasi Ekoteologi dalam Perspektif Lintas Agama sebagai Instrumen Fundamental dalam Mengatasi Krisis Perubahan Iklim Global.”. Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan tantangan global dewasa ini, ketika dunia menghadapi ancaman serius berupa perubahan iklim, kerusakan lingkungan, deforestasi, polusi, hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Tema ini juga sejalan dengan arah kebijakan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA yang menjadikan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas nasional dalam Asta Protas Kementerian Agama, ” ujarnya.

Dalam paparannya di hadapan para penguji dan tutor Lemhannas RI, pria yang akrab disapa Prof Dur menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup sesungguhnya tidak hanya dipicu oleh faktor teknologi dan ekonomi, melainkan juga berakar pada krisis moral dan spiritual manusia modern. Menurutnya, eksploitasi alam secara berlebihan lahir dari cara pandang manusia yang memosisikan alam semata sebagai objek ekonomi, bukan sebagai bagian integral dari kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.

“Perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan, moralitas, dan peradaban. Karena itu, pendekatan penyelesaiannya harus bersifat multidimensional. Agama memiliki kekuatan moral yang sangat besar untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga bumi,” ujar Prof. Abdurrohman Kasdi dalam presentasi tugas akhirnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep ekoteologi memandang alam sebagai bagian dari manifestasi kebesaran Tuhan yang memiliki nilai sakral. Dalam perspektif Islam, misalnya, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh atau pemelihara bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam. Konsep tersebut diperkuat melalui Fiqhul Bi’ah atau fikih lingkungan yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.

“Tidak hanya dalam Islam, nilai-nilai ekologis juga ditemukan dalam berbagai tradisi agama lain. Dalam tradisi Kristen Katolik dan Protestan dikenal konsep stewardship atau tanggung jawab manusia sebagai pengelola ciptaan Tuhan.”ungkapnya.

Dalam ajaran Hindu, terang dia, terdapat konsep Tri Hita Karana yang menekankan harmonisasi hubungan antara manusia, Tuhan dan alam. Sementara dalam ajaran Buddha dikenal prinsip Ahimsa yang mengajarkan untuk tidak merusak dan menyakiti makhluk hidup, sedangkan ajaran Khonghucu juga menekankan pentingnya harmoni dan keseimbangan dengan alam semesta.

Menurut Prof. Abdurrohman Kasdi, seluruh nilai tersebut dapat menjadi fondasi moral bersama untuk membangun gerakan ekologis lintas agama di Indonesia. Ia menilai bahwa perubahan iklim merupakan ancaman global yang tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu kelompok atau satu negara saja. Dibutuhkan solidaritas kemanusiaan yang dibangun melalui kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral bersama.

“Indonesia memiliki modal sosial dan modal spiritual yang sangat besar karena masyarakatnya religius dan majemuk. Jika seluruh pemuka agama, institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat bergerak bersama dalam semangat ekoteologi, maka kita memiliki kekuatan besar untuk menghadapi ancaman perubahan iklim,”ungkapnya.

Selama mengikuti pendidikan di Lemhannas RI, Prof. Abdurrohman Kasdi juga mendapatkan berbagai pembekalan mengenai ancaman nonmiliter terhadap ketahanan nasional. Salah satu ancaman yang menjadi perhatian serius ialah krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang berpotensi memicu konflik sosial, krisis pangan, krisis air, migrasi penduduk, hingga melemahnya stabilitas nasional.

“Karena itu, isu lingkungan hidup harus dipandang sebagai bagian integral dari ketahanan nasional Indonesia. Dalam perspektif Astagatra, kerusakan lingkungan akan berdampak langsung terhadap aspek ekonomi, sosial budaya, politik, bahkan pertahanan dan keamanan negara. Oleh sebab itu, menjaga lingkungan bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan eksistensi bangsa dan negara.”imbuh dia.

Keikutsertaan Prof. Abdurrohman Kasdi dalam P3N Lemhannas RI juga menunjukkan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan pengambil kebijakan strategis nasional. Selama pendidikan berlangsung, peserta tidak hanya menerima teori di ruang kelas, tetapi juga mengikuti Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN), diskusi kebijakan publik, simulasi kepemimpinan nasional, serta penyusunan naskah kebijakan strategis.

Dalam proses pendidikan tersebut, Prof. Abdurrohman Kasdi berhasil menyelesaikan sebanyak 19 naskah kebijakan selama mengikuti Diklat P3N Lemhannas RI. Seluruh karya tersebut menjadi bukti kapasitas intelektual dan komitmennya dalam merumuskan solusi strategis bagi berbagai persoalan kebangsaan.(rls/adb)

Comments