Berkolaborasi dengan BRIN, Dosen UIN Ar-Raniry Teliti Dayah

0
821
Para akademisi peneliti dayah foto bersama

ACEH, Suaranahdliyin.com – Dua dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Dr Mumtazul Fikri dan Dr Marzuki Abubakar melakukan riset tentang dayah sebagai lembaga pendidikan Islam khas Aceh. Riset didanai oleh Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal itu terungkap dalam pengumpulan data lapangan yang dilakukan di Provinsi Aceh mulai Senin (17/10/2022) hingga Rabu (26/10/2022). Riset ini melibatkan akademisi INISNU Temanggung, Hamidulloh Ibda dan Moh Syafi’.

Sebagaimana diketahui, Aceh menyandang berbagai keunikan, antara lain menyandang status sebagai daerah istimewa, daerah otonomi khusus, dan menjadi satu-satunya daerah yang statusnya daerah istimewa dan otonomi khusus sekaligus.

Di luar itu, salah satu keunikan di Aceh adalah menjamurnya dayah. “Riset ini memotret best practice pengelolaan dayah di Aceh,” terang Hamidulloh Ibda.

Disampaikannya, selain memiliki Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Aceh juga ada Dinas Syariat Islam, Dinas Pendidikan Dayah, dan Majelis Pendidikan Aceh. “Aceh memiliki berbagai regulasi tentang qanun, tak terkecuali qanun tentang penyelenggaraan pendidikan,” paparnya.

Dr Mumtazul Fikri, mengemukakan, dayah adalah benteng pendidikan Islam di Aceh. “Peran yang dimainkan dayah sangat besar. Dayah menjadi satu-satunya lembaga pendidikan Islam di Aceh yang mampu bertahan sejak ratusan tahun, lalu” katanya, Sabtu (22/10/2022) lalu.

Dengan keunikannya, paparnya, dayah menjaga nasionalisme di Aceh. Salah satu contohnya adalah Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee, Aceh Besar. “Abu Hasan Krueng Kalee, adalah tokoh pendiri utama dayah Darul Ihsan, yang menjadi rujukan ulama-ulama terdahulu,” paparnya.

Abu Hasan, ungkapnya, adalah guru dari Syaikh Abuya Mudawaly, salah satu ulama yang berfatwa Aceh tetap mengakui Soekarno sebagai Presiden RI. “Berdasar pendapatnya, banyak ulama dan masyarakat Aceh meneruskan pemikiran (kajian) tentang sufi, politik dan nasionalisme melalui pendidikan di Dayah,” tuturnya.

Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Dr Aji Sofanudin, mengutarakan, BRIN membuka secara luas kemungkinan kolaborasi dengan kampus. Kolaborasi BRIN dan UIN Ar Raniry adalah salah satu contoh, meskipun masih bersifat personal, belum institusional.

“Skema yang ada di BRIN, semuanya terbuka. Apalagi dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam semisal UIN, IAIN, STAIN, juga STAKN, STAHN dan lain,” katanya. (rls, ibd/ ros, adb, rid)

Comments