Antara Tradisi dan Masa Kini

0
441

Oleh: Al Anazuhria

Perlahan tapi pasti tradisi yang ada mulai terkikis dengan modernisasi. Itu kan, kesimpulan dasar yang kita ilhami? Mungkin ada, tapi nggak semua. Mengingat semakin banyaknya ketenaran yang terjadi, rasa-rasanya memang sangat jauh manusia sekarang ini yang mendominasikan tradisi. Memang itulah tantangan kita saat ini, menjadi PR besar yang akan terus menjadi fenomena dalam memperjuangkan tradisi baik. Boleh jadi tradisi yang ada ini tidak sepenuhnya benar, pun tidak sepenuhnya salah. Karena apa? Pendahulu yang menciptakan tradisi ini tidak luput dari sejarah panjang yang sehingga dengan sadar mampu menghasilkan corak keberagaman dalam mencapai tujuan akhir yang sama, yakni kebagusan dan ketulusan dalam mengenal berbagai laskar ilahi. Dengan melalui berbagai macam masa transisi.

Sebelum mengetahui lebih jauh pentingnya merawat tradisi ini, perlu diketahui terlebih dari apa sih pengertian dari tradisi itu sendiri. Tradisi adalah karakteristik dan pengetahuan sekelompok orang tertentu. Berupa pola perilaku yang dilakukan secara turun temurun dari leluhur hingga saat ini. Tradisi ini mencakup adat, kebiasaan, perilaku sekelompok orang yang masih memegang teguh atas suatu kegiatan yang melibatkan baik individu maupun kelompok.

Menjadi orang yang banyak tau akan tradisi itu masih belum keren, yang keren adalah ketika mampu mengetahui makna apa yang ada dibalik tradisi sehingga dengan mudah bisa mengikuti dengan pikiran yang jeli. Lantas langkah apa yang seharusnya bisa kita ambil sebagai wujud untuk menekuni hobi yang tidak seberapa dipeduli orang, hingga dapat menjadi mudah untuk dipahami dalam berbagai situasi dan kondisi? Mudah. Ini sangat mudah. Mulailah dari hal sederhana yang semestinya bisa kita lakukan dengan ketikan jari, yakni Literasi. Ini adalah cara paling mudah, meskipun mudah, tapi tidak semua orang bisa dan mau melakukannya. Tidak perlu terlalu muluk-muluk, cukup memulai dengan hal yang mudah disekeliling.

Di era yang serba modern seperti sekarang ini, sangat mudah untuk mengakses berbagai informasi. Jangankan informasi lokal, informasi global sekalipun sangat mudah di dapatkan. Ini menjadi moment yang memudahkan bagi kita untuk memulai komunikasi dengan berbagai manusia dibelahan bumi manapun hanya dengan bermodalkan tulisan. Meskipun tulisanmu tidak se-hype tulisan dan curhatan galau anak jaman sekarang, tapi percayalah. Kualitas tulisanmu mampu merubah cara pandang dan cara berfikir oranglain akan tradisi di daerah bahkan negaramu.

Ngomong-ngomong ada tradisi apa di daerahmu ketika malam 1 Muharrom tiba? Oh tentu kamu akan menjawabnya dalam hati, kalo begitu biarkan aku bercerita sedikit perihal tradisi yang ada di kotaku malam 1 Muharrom lalu, orang Jawa menyebutnya malam 1 Suro. Aku memang tidak tinggal di Jawa, tapi sekelilingku suku Jawa semua, bahkan aku sendiri juga orang Jawa. Setiap malam satu suro persiapan berbagai pagelaran diadakan, mulai dari Wayang Kulit, Jaranan, hingga Pengajian dan do’a bersama. Tentu bemacam-macam perayaan disini, tapi apakah itu semua salah? Tentu saja tidak. Memang ada sebagian orang Jawa yang masih terpengaruh oleh budaya Hindu menganggap bahwa malam satu suro ini adalah malam keramat. Katanya di malam inilah semua jin, hantu, dan mahluk tak kasat mata akan keluyuran mencari mangsa. Sehingga banyak yang melakukan ritual mensucikan jimat dan sebagainya. Bagi kita mungkin itu hanyalah mitos, namun bagi mereka itu kebenaran. Lantas apakah kita harus memerangi dan menyalahkan budaya mereka? Tentu saja tidak, sebagai manusia yang hidup berdampingan dan mengenal keberagaman tentu kita lebih memilih diam dan menghormati tradisi yang ada.

Setiap orang berhak untuk menunjukkan rasa syukurnya atas penghidupan yang telah diberikan Yang Maha Kuasa. Lantas bagaimana kaidah Islam menilai hal ini? Umat Islam mengganggap bulan suro adalah bulan kesedihan, atas peristiwa-peristiwa pilu yang dialami oleh Rasulullah Saw. Terdapat banyak peperangan, diantara peristiwa sejarah yang terjadi pada bulan suro ini, diciptakannya Nabi Adam As, terbelahnya laut merah oleh tongkat Nabi Musa As, dikeluarkannya Nabi Yunus As dari perut ikan paus, selamatnya Nabi Ibrahim As dari api yang membakarnya, diangkatnya Nabi Isa As ke langit. Hingga wafatnya sahabat-sahabat Rasulullah Saw, seperti Hussain bin Ali RA, Bilal RA. Sehingga umat Islam seolah ikut merasakan kesedihan hati Nabi yang kala itu sedang dirundung duka. Maka bagaimana mungkin umat Islam mampu menjadikan bulan Muharrom adalah bulan gembira? Tentu saja tidak. Itulah mengapa dalam Tradisi Jawa, orang Jawa dilarang untuk membuat hajatan pada bulan suro ini karena ada alasan yang mendasar. Mereka tidak ingin berbahagia diatas kepiluan Nabi kala itu di bulan Muharrom.

Sebagai seorang muslim yang sadar akan tradisi, sehingga ini menjadi alasan utama yang dasar bahwasannya bulan Muharrom ini, antara umat Islam dan suku Jawa erat kaitannya. Terkait mitos bulan suro adalah bulan keramat sehingga haris mandi kembang 7 rupa, melakukan ritual-ritual, itu adalah kepercayaan masyarakat yang masih menganut Hindu, karena pada intinya bukan itu makna yang terkandung di dalamnya.

Untuk itu perntingnya kita menyampaikan berita dan kabar benar serta baik kepada oranglain ini menjadi ciri pokok untuk membuka jendela literasi generasi kini yang dikhawatirkan akan semakin hanyut oleh perubahan modernisasi. Besar harapan saya terhadap minat generasi saat ini agar mampu mengapresiasi tradisi-tradisi yang luar biasa kaya ini melalui jalan literasi. Kita ciptakan keunggulan tradisi dengan berlandaskan kebenaran, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dikemudian hari akibat dari mereka yang tidak bertanggung jawab.

Terima kasih karena sudah mampir dan memberikan tanggapan yang positif di tulisan ini. Semoga kita semua senantiasa berakal sehat. Hidupkan literasi, bumikan tradisi. Salam.

Al Anazuhria,

Penulis tinggal di Sumber Jaya, Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah. Alumnus IAIN Kudus, Jawa Tengah, ini tertarik terhadap dunia literasi sejak studi di bangku kuliah.

Catatan:

Artikel ini dipublikasikan untuk kepentingan lomba, sehingga tidak dilakukan proses editing oleh pihak redaksi.

Comments