Tradisi Ngabuburit dan Pentingnya Menghindari Perilaku Konsumtif

0
1006

Oleh: Evi Ziadaturrohmah

Ramadan merupakan bulan yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Beragam cara diekspresikan menyambut dan mengisi bulan suci umat Islam tersebut. Tak terkecuali di Indonesia.

Di Indonesia, setiap kali Ramadan, selalu disemarakkan dengan beragam aktivitas warga secara berkelompok, yang dikenal dengan ngabuburit.

Pada dasarnya, manusia hidup secara berkelompok, pada gilirannya akan menciptakan tradisi dan budaya tersendiri, sebagai bentuk respons dan adaptasi atas situasi sosial yang ada (dihadapi).

Dimulai dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, tradisi terbentuk, yang kemudian menjadi kultur masyarakat setempat. Kultur itulah yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Proses ini melibatkan terkondisinya generasi selanjutnya melalui pandangan masyarakat terhadap penjelasan tersebut, seperti yang terjadi dalam budaya ngabuburit selama bulan Ramadan di Desa Tajungsari.

Meskipun tidak ada perintah resmi, masyarakat khususnya desa Tajungsari cenderung melibatkan diri dalam kegiatan ngabuburit seperti : memborong banyak makanan meskipun akhirnya tidak tersentuh, membeli barang hanya karena tertarik diskon selama bulan Ramadhan, dan lain sebagainya.

Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya  perilaku konsumtif masyarakat desa Tajungsari. Saat ini terdapat banyak perilaku konsumtif dalam masyarakat dan salah satunya adalah tradisi tahunan seperti ngabuburit.

Hal itu juga nampak dalam tradisi ngabuburit menjelang berbuka puasa yang banyak dilakukan oleh masyarakat.

Ngabuburit ini, adalah upaya menanamkan kebiasaan baik menjelang berbuka puasa. Ngabuburit -oleh kelompok atau komunitas tertentu- terkadang ada yang mengisinya dengan diskusi-diskusi, kongkow sastra, berbagi takjil, hingga dalam bentuk kajian-kajian keagamaan.

Akhir dari ngabuburit ini, biasanya adalah ditandai dengan berbuka bersama. Maka tradisi ngabuburit ini kemudian menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia, yang hanya ada saat Ramadan saja.

Hindari Perilaku Konsumtif

Salah satu fenomena lain saat Ramadan, yaitu banyaknya pedagang musiman yang menjajakan aneka menu buka puasa. Mulai dari minuman, gorengan, lauk pauk hingga kue. Tak sedikit masyarakat yang banyak menghabiskan waktu sembari mencari ‘ransum’ untuk buka puasa.

Hanya saja penting diingat, agar dalam Ramadan ini, jangan sampai terjerumus dalam perilaku konsumfit atau yang dalam Islam disebut dengan israf (berlebih-lebihan). Islam memandang, perilaku konsumtif itu termasuk sikap yang tidak baik, karena masuk dalam kategori orang-orang yang boros.

Disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 168: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Demikian peringatan dari al-Quran tentang larangan perilaku konsumtif. Maka pada momentum Ramadan ini, salah satu hal terpenting yang perlu dipahami juga adalah bagaimana mengendalikan hawa nafsu, agar tidak terjerumus dari perlaku buruk tersebut. (*)

Evi Ziadaturrohmah,

Penulis adalah santriyah Ma’had Prisma Quranuna dan Mahasiswi Tadris IPS IAIN Kudus.

 

 

Comments