Pancasila, Teladan Jaga Harmoni Masyarakat dan Dunia

0
282

Oleh: M. Choirul Anam

Hal paling mendasar dalam menerapkan kehidupan keseharian kita sebagai warga Indonesia, sudah terpatri dalam isi teks Pancasila. Coba pahami, bagaimana nilai yang terkandung dalam Pancasila, yang telah memuat pranata mengarungi dalam hidup yang ideal.

Sila pertama, menjelaskan tentang Ketuhanan. Sila kedua menjelaskan tentang perilaku manusia yang adil dan beradab. Sila ketiga, mengajak pada persatuan. Sila keempat, mengajarkan tentang pentingnya musyawarah dan berlaku bijak. Sedang sila kelima, mengajak untuk berbuat adil secara sosial.

Perlu dipahami, tidak barang mudah merumuskan sebuah gagasan besar Negara dengan konsep yang begitu ideal. Founding fathers kita telah bekerja keras merancang dan menyusun isi kandungan Pancasila, bahkan dikonsultasikan dengan ulama besar Nusantara yang juga pendiri Nahdlatul Ulama (NU): Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.

Pancasila dalam konteks keluarga, misalnya, juga bisa menjadi pedoman yang sangat baik. Contoh, sila empat (permusyawarahan). Keluarga butuh ruang musyawarah dalam mengambil keputusan untuk menjaga harmonis rumah tangga. Dan dalam konteks yang lebih luas, mulai dari tingkat RT, RW,  desa hingga Negara.

Dari berbagai ragam budaya, agama, adat istiadat, suku dan bahasa, Indonesia sangat tepat dengan ideologi Pancasila. Sehingga nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dari Sabang sampai Merauke, yang pada akhirnya adalah betapa penting menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Dan hari-hari ini, banyak negara di berbagai belahan bumi, melirik Indonesia dijadikan sebagai model dalam membina kerukuna hidup bermasyarakat dan berbangsa. Dan itu tak lain, berkat ideologi Pancasila sebagai pemersatunya.

Kita layak berbangga memiliki Pancasila, dan berkewajiban menjaganya dalam konteks berbangsa dan bernegara Indonesia. Sudah saatnya pula, ideologi Pancasila ini semakin dibumikan, sebagai teladan dunia dalam membangun harmoni masyarakat dan menjaga keutuhan negara. Wallahu a’lam. (*)

M. Choirul Anam,

Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama (NU) dan mahasiswa program Pascasarjana IAIN Salatiga.

Comments