Menelusuri Jati Diri dan Jejak Dakwah Sunan Muria

0
163

Judu Buku        : Sejarah Sunan Muria

Penulis             :  Drs. H. Anasom M.Hum DKK.

Penerbit          : UIN Walisongo Semarang dan YM2SM Kudus

Cet. I                : April 2018

Hal                   : 254 & xxii

ISBN                 : 978 – 602 – 1076- 08 – 8

Hingga kini, literatur-literatur mengenai jati diri Kanjeng Sunan Muria, tidaklah begitu banyak. Selain itu, siapa ayah dari salah satu anggota Wali Songo ini, juga belum ada ‘’satu kata sepakat’’.

Tak sedikit masyarakat awam, yang ‘’meyakini’’ Sunan Kalijaga adalah ayah dari Sunan Muria. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan, Raden Usman Haji (Haji Usman) yang dikenal dengan Sunan Mandalika dari Jepara lah ayahanda Sunan Kalijaga.

Maka kehadiran buku ‘’Sejarah Sunan Muria’’ yang diterbitkan oleh Universtas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang bekerja sama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) Kudus, ini sangat menarik untuk menguak tabir siapa sebenarnya jati diri, ajaran-ajaran dan jejak dakwah Sunan Muria.

Beberapa buku yang lebih dulu terbit, beberapa menyebut bahwa ayahanda dari Sunan Muria adalah Sunan Kalijaga, namun buku ini secara tegas menyebutkan, bahwa ayahanda Sunan Muria yaitu Sunan Mandalika. (hal. xviii)

Sunan Muria sebagai putra Sunan Mandalika ini pula, yang diyakini pembina Perhimpunan Pemangku Makam Auliya (PPMA) se-Jawa, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya yang disampaikan dalam kata pengantarnya.

Penjelasan mengenai beragam kontroversi silsilah Sunan Muria ini, bisa ditemukan dalam halaman 64 – 84. Dan penjelasan mengenai Sunan Muria putra Sunan Mandalika, bisa ditemui dalam halaman 70 – 71.

Jejak Dakwah

Mengenai strategi dakwah yang dilakukan Sunan Kudus, diyakini tidak berbeda jauh dengan strategi yang dipergunakan anggota Wali Songo lain. Di antaranya dengan menjaga tradisi-tradisi lama, menambah (mengembangkan) tradisi lama dengan tradisi (nilai-nilai) baru, memodifikasi tradisi, bahkan tak jarang juga menciptakan tradisi. (hal. 147 – 148)

Secara khusus, strategi dakwah yang dijalankan Sunan Muria, lebih dekat dengan ‘’gaya’’ yang dilakukan Sunan Kalijaga, yakni dengan memasukkan ajaran agama lewat berbagai tradisi dan kebudayaan Jawa yang ada. (hal. 154)

Di luar itu, Sunan Muria melakukan dalam dakwahnya juga dengan terjun (berinteraksi) langsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat, baik masyarakat petani, nelayan maupun kaum buruh. (hal. 155)

Sementara ajaran-ajaran Sunan Muria, berdasarkan analisis melalui data-data yang didapat tim penulis buku ini, di antaranya mengenai Pambukaning Tata Malige ing Betal Mukaram, Keesaan Tuhan, Kesederhanaan, Kedermawanan, ketaatan kepada Allah Swt. dan menghormati budaya. (hal. 172)

Ya, banyak hal menarik dari buku yang bisa menjadi salah satu referensi penting untuk mempelajari tentang Sunan Muria. Dalam pandangan Habib Luthfi, buku ini telah berkontribusi penting mengenai sejarah Sunan Muria, karena tim penulis berhasil meramu data-data tentang Sunan Muria yang sulit ditemukan. Selamat membaca!

Rosidi,

Peresensi adalah jurnalis Suaranahdliyin.com, staf pengajar MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Kudus.

Comments