HIKMAH
Ketika Umar bin Khattab Dianggap Lari dari Takdir

0
396

Oleh : Gus Khifni Nasif

Umar bin Khattab merupakan salah satu Khulafa’urrasyidin kedua setelah Abu Bakar. Umar memeluk Islam pada tahun ke – 6 kenabian pada usia 27 tahun. Ia adalah sosok yang diharapkan Islam-nya oleh Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW pernah berdo’a

اللهم اعز الإسلام بعمر ابن الحطاب

Wahai Tuhan, muliakanlah Islam dengan (Islam-nya) Umar bin Khattab.

Namun dibalik kebesarannya, ternyata ia pernah dianggap lari dari takdir Allah oleh seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Ubaidah Bin jarrah. Abu Ubaidah ini dikenal sebagai salah satu dari sahabat sepuluh yang diberi kabar gembira masuk surga oleh Rasulullah SAW.

Dalam kitab Dalilul Falihin lithuruqal-Riyadl Assolihin, No. 1789,  Ibnu Abbas mengisahkan anggapan Abu Ubaidah terhadap Umar bin Khattab tersebut. Ketika itu, Umar bin Khattab sampai di tengah perjalanan menuju tanah Syam, tepatnya di daerah Sargha (sebuah desa di Tabuk, dekat dengan kota Syam), bertemu dengan para pimpinan pasukannya. Diantaranya, Abu Ubaidah bin Jarrah dan sahabat-sahabat lainya.

Mereka memberi kabar kepada Umar bin Khattab bahwa di kota Syam sedang terjadi pagebluk. Umar lantas memanggil Ibnu Abbas agar  mengumpulkan sahabat-sahabat muhajirin untuk dimintai pendapat. Apakah melanjutkan perjalanan atau kembali pulang.

Namun para sahabat Muhajirin tersebut tidak ada kesepakatan. Sebagian ada yang menyarankan melanjutkan perjalanan serta berserah diri pada ketentuan Allah, sebagian lainnya menyarankan kembali pulang sebagai langkah waspada dan menghindari wabah tersebut.

“Menjauhlah kalian semua dariku,”ujar Umar pada mereka.

Melihat tidak adanya kesepakatan diantara sahabat Muhajirin, Umar bin Khattab memerintah Ibnu Abbas agar memanggil para sahabat Ansor untuk dimintai pendapat. Namun sahabat Ansor juga sama seperti sahabat muhajirin, ada yang menyarankan melanjutkan perjalanan ada pula yang menyarankan kembali pulang.

Hingga akhirnya ia menyuruh Ibnu Abbas agar memanggil sesepuh tokoh Quraisy dimana mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam sebelum penaklukan kota Makkah. Para sesepuh tokoh Quraisy tersebut sepakat agar kembali pulang dan tidak melanjutkan perjalanan menuju kota Syam yang sedang terjadi Pagebluk.

Akhirnya Umar bin Khattab melalui ijtihadnya memutuskan kembali pulang menuju Madinah. “Besok pagi aku akan akan menunggang kendaraanku kembali menuju madinah, maka bersiap-siaplah kalian besok pagi kembali pulang menuju Madinah,”tegas Umar mengumumkan.

Mendengar pengumuman itu, Abu Ubaidah bin Jarrah berkata kepada Umar, “Apakah engkau kembali pulang karena lari dari takdir Allah?” Sekelas Abu Ubaidah yang memiliki ilmu serta keutamaan melontarkan pertanyaan seperti itu membuat Umar bin Khattab heran. Ia pun membalas ucapan Abu Ubaidah.

“Wahai Abu Ubaidah andai pertanyaan ini terlontar dari selain kamu, aku jawab iya, aku lari dari takdir Allah menuju kepada takdir-Nya. Tahukan kamu jika kamu memiliki unta dan ia turun menuju lembah yang memiliki dua tepi dimana tepi yang satu subur dan tepi satunya tandus. Tidakkah jika kamu menggembalakan untamu ditepi lembah yang subur berarti kamu menggembalakannya sesuai takdir Allah ? Begitu pula jika kamu menggembalakannya di tepi lembah yang tandus engkau juga menggembalakannya sesuai takdir Allah?”

Setelah Umar bin Khattab menyampaikan jawaban kepada Abu Ubaidah datanglah Abdurrahman bin Auf, dimana saat Umar meminta pendapat  para sahabat ia tidak ada ditempat. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata, bahwa berkaitan hal ini sungguh aku mengerti, aku  pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

إِذَاسَمِعْتُمْبِهِبِأَرْضٍفَلاَتَقْدَمُواعَلَيْهِ،وَإِذَاوَقَعَبِأَرْضٍوَأَنْتُمْبِهَا،فَلاَتَخْرُجُوافِرَارًامِنْهُ

Jika kalian telah mendengar terjadi wabah thaa’uun di suatu negeri, maka janganlah kalian mendatangi negeri itu. Dan jika wabah itu terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di negeri itu, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu untuk lari dari wabah itu. (HR. Muttafaq alaih)

 Mendengar hal itu Umar bin Khattab mengucapkan hamdalah, bahwa ijtihadnya sesuai dengan hadits Rasulullah saw, lalu ia pergi meninggalkan tempat.

Kisah di atas dapat kita petik sebuah pelajaran ditengah-tengah menghadapi pagebluk ini. Dimana, dengan mengikuti anjuran pemerintah agar tetap berada di rumah serta tidak mudik dalam rangka keselamatan, baik diri sendiri maupun orang sekitar kita dari penyebaran Covid-19 yang dapat mengakibatkan kematian merupakan takdir Allah.

Begitu pula jika kita tetap melakukan aktifitas keluar rumah bahkan nekat mudik yang akhirnya dapat menyebarkan Covid-19 baik pada diri sendiri maupun orang sekitar kita serta mengakibatkan kematian juga merupakan takdir Allah, tinggal kita akan pilih yang mana?. Wallahu a`lam. (Gus Khifini Nasif / Sekretaris RMI-NU Kudus)

Comments