Kemenag Boyolali Sebut Madin sebagai Lembaga Pendidikan yang Strategis di Era Disruptif

0
947
Kepala Kemenag Boyolali menyampaikan sambutan

BOYOLALI, Suaranahdliyin.com – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boyolali Taufiqurrahman mengatakan, Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) adalah lembaga alternatif di tengah era disruptif. MDT sangat positif dan strategis dalam mengisi kema’rufan untuk mengimbangi kemungkaran.

“Apabila yang ma’ruf sedikit maka yang merajalela kemungkaran. Yang lebih mengkhawatirkan kalau yang mungkar dianggap ma’ruf,” katanya dalam Halal Bihalal dan Koordinadi Dewan Pengurus Cabang (DPC) Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Boyolali bersama Rais MDT se-Kabupaten Boyolali di MDT Roudhlotul Ulum, Dukuh Kerep, Desa Ngampon, Kecamatan Ampel, Jumat (5/5/2023).

Menurutnya, penting sekali agar semua madrasah diniyah (madin) di Boyolali bergabung di FKDT agar saling membatu dan menguatkan. “Harus ada akselerasi untuk semuanya, baik menata keanggotaan, kemampuan mengelola madin, termasuk dalam memanfaatkan perangkat digital dan media sosial untuk mendukung kegiatan organisasi,” ujarnya

Taufiqurrahman yang alumnus IAIN (UIN) Walisongo itu menegaskan, kehadiran MDT dan pesantren dibutuhkan di era sekarang. “Maka matangkan koordinasi dan administrasi untuk menghadapi era digital yang serba cepat. Bila ada insentif, itu bukan menjadi tujuan, namun efek dari pengabdian kita,” jelasnya.

Disampaikan, gedung madin atau TPQ juga harus dibangun yang baik untuk menunjang pembelajaran, kalau bisa lebih bagus dari rumah kita. “Karena madin menjadi saluran transmisi ilmu ulama yang wasathiyah (moderat),” terangnya.

Dirinya menambahkan, madin dan pesantren menjadi sumber generasi moderat. Santri madin dididik agar mumpuni secara agama tapi paham perkembangan zaman. “Banyak ulama kita di pesantren yang alim dan tahu (memadukan) esensi agama dan culture (budaya),” ungkapnya.

Sementara di antara indikator moderat menurutnya, pertama, komitmen kebangsaan atau cinta tanah air. “Mengapa kita cinta tanah air? Karena kita sudah ditakdirkan lahir di sini. Maka, mari kita cintai dan jaga negeri ini,” ungkapnya.

Kedua, karena kita bisa beribadah di sini. Ketiga, toleran: membiarkan orang lain berbeda, jangan dipaksa sama, dan tidak mengganggu kesukaan orang lain. Keempat, anti kekerasan. Kelima, penghormatan terhadap budaya.

Lantas dia mengapresiasi koordinasi FKDT ini dan mesti terus dilakukan. “Saya apresiasi koordinasi FKDT ini. Saya siap menerima jika ada yang konsultasi dan koordinasi ke PAKIS atau ke ruang saya,” katanya.

Disampaikan, dirinya senang bertemu teman baru termasuk yang punya latar belakang pesantren. “Kita cari sebanyak-banyaknya teman, karena teman atau saudara yang akan menjadi pegangan saat kita membutuhkan. Dari forum ini semoga timbul ide kreatif di Boyolali,” harapnya.

Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKIS) Boyolali Miftahul Huda meminta kinerja FKDT dan PAKIS sendiri dipercepat. “Kita harus cepat dalam mengambil kesempatan. Data emis harus ditata, dikelola dengan baik karena sebagai persyaratan pemberian insentif, bantuan operasional, dan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, kendati Boyolali telah masuk tiga besar se-Jawa Tengah dalam pengelolaan emis, namun tetap harus ditingkatkan.

Ketua FKDT Boyolali Khoirudin Ahmad mengatakan, dengan terselenggaranya acara ini kami ucapan terima kasih sebesar-besarnya. “Di Bulan Syawal ini, mari kita tingkatkan lagi pengelolaan madin. Ke depannya lebih giat dalam administrasi, saling mengisi, dan perkuat konsolidasi,” ajaknya. (siswanto ar/ *)

Comments